Skip to main content

Satu Frekuensi

Perlu diakui bahwa saya sering melakukan aksi menguntit via social media seperti Facebook dan Twitter. Tidak dikhususkan satu orang saja sih, tapi banyak orang dari teman sendiri hingga orang lain. Mungkin istilah tepatnya bukan menguntit, tapi mengamati cara berpikirnya di status, hal-hal yang digemari, foto keseharian, dan lainnya. Dan hanya dilakukan sesekali, tidak terus-terusan.

Selain perorangan, saya juga mengamati yang berpasangan. Misal setelah mengamati si A, saya juga mengamati pasangannya yaitu si B. Menariknya, saya menemukan banyak persamaan. Entah itu cara berpikir, hal-hal yang digemari, dan lainnya. Persamaan itu menguatkan tentang asumsi bahwa jodoh itu adalah satu strata imajiner atau satu frekuensi. Misal, jika A nyentrik, maka B juga nyentrik. Jika A adalah geek, maka B juga geek. Jadi, asumsi A geek dan B populer itu nihil.

Birds same feather flocks together. Merpati tidak mungkin akan berkumpul dengan para elang.

Jika mau dilihat yang tampak secara fisik seperti jenjang pendidikan atau status sosial--saya masih percaya itu juga harus setara. Orang yang mengenyam pendidikan S3, mungkin akan mencari yang sama. Atau jika berbeda, perbedaannya pun tipis. Orang kaya raya seperti anak pejabat, mungkin akan mencari yang setara dengannya, tidak akan mencari di lingkungan kumuh. Walaupun teman saya tidak setuju karena ia pernah melihat kisah cinta Cinderella dalam kehidupan nyata bahwa si miskin dapat mengawini si kaya. Ya, mungkin hal-hal tersebut ada saja.

Saya sendiri merasa tidak dapat berpasangan dengan orang yang populer, yang menghabiskan banyak hidupnya dengan dunia malam, atau bergaul dengan para sosialita. Pertama, obrolannya mungkin tidak akan nyambung. Kedua, penampilan pun tidak memungkinkan. Pun sebaliknya. Mungkin dia tidak akan tahu pameran seni, buku-buku, atau daerah-daerah yang sudah saya kunjungi.

Jangan-jangan satu frekuensi--selain mungkin ditakdirkan dari sananya--terjadi akibat pilihan kita sendiri. Kesetaraan ternyata hasil pilihan kita juga!

Wah, kontemplasi belum selesai.

Comments

Anonymous said…
eh,setuju..maka dari itu aku menyebutnya "teman sejiwa" menyenangkan kalau bisa ketemu yang sejiwa-misal,sama hobi.
bukan berarti beda tak saling melengkapi.cuma ya...biasanya kita "klop" karena kesukaan kita...
tulisan yg bagus...

-bolehliat-
Nia Janiar said…
Ya ealaahh baguuus.. #songong

:p

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…