Telusur Citarum Purba

Saat SMS undangan ngaleut datang tanpa menyebutkan destinasinya, saya tidak memiliki bayangan hingga sms tersebut memberitahukan, "Seru beeng. Ngingetin sama ngaleut pertama kamu, Nia." Karena ngaleut pertama saya adalah menyusuri Sungai Cikapundung, berarti kali ini juga akan menyusuri sungai. Apalagi di SMS tersebut ada biaya transportasi Rp30.000,00, maka saya jadi curiga bahwa Minggu (23/10) akan pergi ke Citarum Purba.

Buku catatan kecil sudah dibawa. Kamera sudah dipersiapkan. Dan asumsi saya ternyata benar.

Dulu saya bertanya pada teman dimana itu Citarum Purba saat melihat foto-fotonya, dia membalas, "Rahasiaa." Meh. Melihat saya akan pergi ke sana, rasanya hati ini sudah senang duluan karena perjalanan sekarang ini akan menjawab sebuah rasa penasaran. Dengan carteran angkot di daerah alun-alun, masuk daerah Rajamandala-Padalarang hingga PLTA Saguling, sampailah saya ke sebuah sungai yang panjangnya kira-kira 225 kilometer ini.

Citarum ini dari kata Ci dan Tarum. Ci atau cai dalam bahasa Sunda berarti air, sementara Tarum atau nila itu adalah jenis tanaman. Citarum bukanlah sungai biasa. Bagaimana tidak, ia adalah aliran air yang pernah mampat oleh lahar letusan Gunung Sunda lalu membanjiri cekungan Bandung sehingga terjadi Danau Bandung Purba! Luar biasa.

Pertama kami ke sebuah gua Sangyang Tikorok. Ini merupakan aliran sungai bawah tanah dan menembus sebuah bukit. Menurut Pia, aleutians yang diminta menjelaskan tentang arti nama gua ini, Sangyang itu sama seperti The Almighty atau The Holly sementara Tikorok itu tenggorokan. Bahkan ada mitos jika sebuah kayu masuk ke dalam maka gua ini akan bersuara seperti tenggorokan yang tersedak.

Sangyang Tikorok
Tidak ada yang berani menyusuri gua yang panjangnya sekitar 200 meter ini. Kata Bang Ridwan, orang mungkin hanya berani masuk sekitar 80 meter. Tapi ternyata ada saja beberapa warga yang berani menelusuri panjang gua sampai habis. Membayangkan 200 meter yang gelap dan penuh dengan suara gemericik air saja sudah menyeramkan.

Setelah dari sana, kami ke Sangyang Poek, gua di daratan. Di balik gua ada sebuah ruang yang dikelilingi dan dinaungi oleh batu yang sangat besar. Sebenarnya menuju ruang itu bisa masuk gua Sangyang Poek. Tapi saya memilih lewat jalan yang agak memutar namun tetap terbuka. Untuk mengisi tenaga ke destinasi selanjutnya dan menunggu rintik hujan reda, kami makan siang dari bekal yang sudah kami beli di daerah Padalarang. Penting untuk dicatat karena daerah sini tidak ada warung apalagi Alfamart.



Oke, jika ini Citarum Purba, lalu kita mau kemana lagi? -- itu yang terbesit oleh saya karena kalau tidak salah foto-foto teman saya hanya sampai batu besar itu saja. Ternyata, jika tidak jauh, bukan Aleut! namanya. Dan kalau pun jaraknya dekat, pasti aleutians juga kecewa. Kami terus berjalan menuju hulu, melewati, menginjak, dan melompati bebatuan yang begitu besar, sampai ke sebuah kolam hasil bendungan aliran air akibat celah batu yang menghimpit kecil. Maka ini adalah tujuan akhir kami, sebuah pemandian alam yang sesungguhnya dengan air bersih nan hijau di tengah hutan.

Edo--yang entah bagaimana--sudah ada di situ.
Semua orang malu-malu untuk menyebur. Saya sendiri punya ketakutan irrasional terhadap air yang tidak bening dan tidak terlihat dasarnya. Namun ketika Bang Ridwan dan Reza sudah masuk, saya memberanikan diri. Tidak ada yang menarik kaki mereka dan tenggelam ke dasar kolam, artinya di sana tidak ada binatang apa-apa. Begitu masuk ... huah! Peluh langsung hilang begitu badan tersentuh segarnya air Citarum. Menyesal bagi mereka yang tidak berenang.



Setelah berenang, berendam, dan berganti pakaian, akhirnya kami pulang. Kala itu waktu sudah sore. Untung angkutannya mau menunggu sehingga kami tidak perlu jalan kaki sejauh 15 kilometer menuju jalan raya. Pipit, salah satu aleutian yang bersusah payah mengumpulkan tenaganya hingga pulang, akhirnya 'khatam' hingga tempat kami berakhir. Selamat untuk Pipit. Selamat juga untuk teman-teman yang sudah saling membantu dan merelakan tangan agar saling berpagut di perjalanan yang penuh tantangan ini. Budaya tolong menolong ini sudah saya kenal ketika saya pertama kali gabung Komunitas Aleut! dan masih terjaga hingga sekarang. Luar biasa.

Hari sudah menuju pukul 6 sore. Burung-burung hitam berterbangan di atas langit Citarum, pipa-pipa oranye yang besar tampak berpendar, dan pohon-pohon bergemerisik syahdu ditempa angin. Walau menyisakan pegal di tangan dan di kaki, semoga sebuah pengalaman dan panorama keindahan purba akan terus disajikan Sungai Citarum nan lestari.

Comments

Pia Zakiyah said…
itu serius edo keren abis dia selalu paling terdepan :))

btw teh, kalau di Basa Sunda penulisannya SangHyang Tikoro.. cmiiw
Nia Janiar said…
Mungkin ya, Pia. Sebetulnya penulisan 'Sangyang' ini saya sesuaikan dari plat yang ada di dekat mulut gua.

Popular Posts