Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2011

Masa Lalu #2

Saya pernah bilang bahwa saya tidak mengambil porsi besar untuk masa lalu. Mungkin karena saya bukan pengikut psikoanalis, juga tidak ingin apa yang sudah berlalu menjadi justifikasi tindakan sekarang. Tapi keberadaan masa lalu itu ada pentingnya di masa kekinian, jadi tidak bisa dinihilkan kehadirannya.

Masa lalu merambat melalui jendela, merayap di dinding dan sela kasur, lalu menelusup masuk ke telinga, menjalar ke otak di kala malam. Walau pikiran sedang bagus, masa lalu bisa menggerogoti sehingga hanya menyisakan pikiran buruk yang residunya diturunkan ke hati. Rasanya sakit tapi tidak bisa sembuh.

Sebuah gelas berisi soda pernah tumpah di rumah makan siap saji karena tidak sengaja, seorang anak pernah terdorong jatuh dengan tidak sengaja pula, sebuah mulut pernah menghardik karena perilaku yang belum benar atau membuat bising CPU dengan tidak sengaja. Saat itu saya paham bahwa perilaku buruk dilakukan seseorang pasti tidak sengaja. Hanya orang jahat yang mau menyakiti dengan sen…

Drama Sekolah: Bullying

Awalnya saya berpikir lembah kecil seperti foto di bawah ini hanya ada di alam mimpi saya saja. Saya ingat berjalan bergerombol dengan entah siapa mengelilingi lembah kecil ini. Imaji visual begitu terpatri dalam ingatan karena saya takjub dengan lubang besar menganga di tengah hutan hujan tropis ini.

Itu bukan mimpi karena lembah kecil itu terletak di Kawah Domas (kompleks Gunung Tangkuban Parahu) yang pernah saya kunjungi ketika saya SD. Kemarin (26/11), saya pergi ke sana untuk keperluan liputan, ditemani oleh Andika. Maka, 1.2 kilometer dari gerbang awal ke Kawah Domas, kami habiskan dengan kenangan saat sekolah.

Saya teringat dengan salah satu guru di kelas 4 yang kebaikannya selalu saya kenang. Rasanya dia satu-satunya guru yang sayang sama saya apa adanya. Kalau tidak salah namanya Pak Heryanto. Andika bertanya memangnya saya seaneh apa sehingga hanya ada satu guru yang memperhatikan. Saya tidak aneh, tidak menonjol, dan juga tidak pintar. Saya hanya selalu jadi korban hinaan/c…

Prasangka di Balik Pecinan

Teman saya, seorang keturunan Tionghoa, pernah menautkan tulisannya yang berjudul ‘Hai, Cina!’ yang berisi keputusannya kuliah di universitas negeri. Keputusan ini sangat besar baginya karena pada saat itu ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berpindah dari lingkungan homogen ke heterogen. Beruntung orang tuanya tidak melarang, hanya mengingatkan bahwa ia akan menjadi minoritas dan pasti akan menemukan banyak perbedaan.

Teman saya itu masuk hitungan cukup beruntung dimana orang tuanya suportif terhadap keputusannya. Tidak sedikit teman-temannya yang dilarang untuk kuliah yang mayoritasnya ada pribumi dan muslim. Kebanyakan mereka dimasukkan ke universitas swasta non-muslim. Ketakutan orang tuanya itu wajar karena ingin melindungi anaknya dari diskriminasi ras Tionghoa yang terjadi di masyarakat.

Darimanakah diskriminasi kaum Tionghoa bisa terjadi, mungkin sedikit banyak jawab terjawab saat saya dan Aleutians jalan-jalan ke Pecinan. Awalnya saya tidak akan ikut karena ide me…

Selimut Debu (2010)

Meluruskan stereotype yang salah tentang Afghanistan, boleh jadi itu salah satu tujuan Agustinus Wibowo (akrab dipanggil Gus Weng) dalam membuat buku Selimut Debu. Setelah membaca Garis Batas, lagi-lagi saya terkesima dengan gaya bertuturnya serta informasi yang terkandung di dalam bukunya. Jelas ia membaca banyak buku dan membuat Selimut Debu bukan sekedar catatan perjalanan.


Selama berada di Afghanistan, ia jarang menceritakan tentang perempuan karena perempuan di sana sulit sekali ditemui. Belum lagi penggunaan burqa sebagai simbol anonimitas, identitas, budaya, kenyamanan, dan keamanan perempuan berada di dalamnya yang membuat Gus Weng kesulitan.

Perempuan menjadi hal yang paradoks. Dalam kebudayaan Afghanistan, kehormatan adalah hal yang dijunjung tinggi, salah satu bentuk dari kehormatan adalah perempuan. Ketika dua laki-laki Afghan bersinggungan, mereka tidak akan membicarakan istri atau saudara perempuan mereka. Dan ketika harus keluar rumah, seorang perempuan harus ditemani o…

bongkar/muat

Masih di bulan yang sama, dua tahun yang lalu, saya pergi ke Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Ada seorang pria dari Malang yang mengadakan pameran tunggal di selasar, kemudian saya tuliskan ulasan kunjungannya dengan judul Mencoba Merendah Bersama Gatot. Jelas, saya suka karya seniman yang satu ini.

Kemarin (04/11), saya dan Andika pergi ke SSAS lagi. Ada sebuah pameran kelompok bertajuk bongkar/muat (unload/reload) yang diisi oleh Gatot Pudjiarto, Made Guna Valasara, dan Rudayat dalam sebuah program baru SSAS yaitu transit. Selain memang ingin melihat pameran seni, Gatot Pudjiarto yang lebih membuat saya datang ke bongkar/muat.

Karyanya kali ini bukan kolase canvas saja, tetapi dari lima karyanya yang dipampang tadi malam, ada kain perca yang ia sambung dan jahit sehingga menghasilkan sebuah karya. Tengoklah fotonya:


Lalu juga kedua karya di bawah ini dengan judul Membongkar Artefak yang membikin penasaran ada gambar apa di balik carut marut canvasnya:



Saya bertanya pada Andika, &qu…