Drama Sekolah: Bullying

Awalnya saya berpikir lembah kecil seperti foto di bawah ini hanya ada di alam mimpi saya saja. Saya ingat berjalan bergerombol dengan entah siapa mengelilingi lembah kecil ini. Imaji visual begitu terpatri dalam ingatan karena saya takjub dengan lubang besar menganga di tengah hutan hujan tropis ini.

Ternyata ini beneran ada!
Itu bukan mimpi karena lembah kecil itu terletak di Kawah Domas (kompleks Gunung Tangkuban Parahu) yang pernah saya kunjungi ketika saya SD. Kemarin (26/11), saya pergi ke sana untuk keperluan liputan, ditemani oleh Andika. Maka, 1.2 kilometer dari gerbang awal ke Kawah Domas, kami habiskan dengan kenangan saat sekolah.

Saya teringat dengan salah satu guru di kelas 4 yang kebaikannya selalu saya kenang. Rasanya dia satu-satunya guru yang sayang sama saya apa adanya. Kalau tidak salah namanya Pak Heryanto. Andika bertanya memangnya saya seaneh apa sehingga hanya ada satu guru yang memperhatikan. Saya tidak aneh, tidak menonjol, dan juga tidak pintar. Saya hanya selalu jadi korban hinaan/candaan teman-teman. Kulit saya tidak seputih teman-teman lain (baca: hitam) sehingga saya selalu dihina 'hula-hula', 'Irian Jaya', 'kuman', 'dekil', dan lainnya. Ada salah satu teman yang selalu mengelap setiap barang yang saya sentuh karena saya parasit, mungkin. Saat ia dicomblangin sama saya, ia berkata, "Saya mau kalau dia putih."

Lucu. Sementara sekarang masyarakat Papua atau Afrika juga bisa menikah dan memiliki keturunan.

Rambut saya hitam lurus (aneh) yang poninya tergerai melampaui mata serta rok 3/4 karena ibu saya membelinya kebesaran. Saya mungkin seperti anak kampung. Selain itu juga saya teringat salah satu guru SD yang mencubit saya karena saya gaduh. Saya juga ingat ketika saya mengadu ke ibu, lantas ibu menjawab, "Ya suruh siapa kamu nakal!" dan saat itu saya patah hati. Sebagai mantan guru SD, saya pernah berhadapan dengan anomali kekinian tentang orang tua yang komplain dari aduan anaknya.

SMP dan SMA saya juga sama saja. Saya sering dihina. Kini permasalahannya bukan karena warna kulit, tetapi jerawat. Masalah kulit saya ini abnormal dan membikin self-esteem saya jatuh. Jadi, sampai sekarang, saya tidak pernah menganggap diri saya menarik dan merasa sensasi aneh serta ganjil kalau ada orang yang bilang saya manis, cantik, atau menarik. Jus.ti.fi.ka.si. Mending tidak usah disebut sekalian.

Baru kehidupan membaik saat kuliah. Mungkin orang-orangnya lebih dewasa ketimbang sekolah. Saat sekolah, berbeda sedikit, langsung jadi bahan gurauan. Andika juga bilang kalau ada murid baru atau orang luar Jawa saat sekolah, mereka pun tidak mengalami kehidupan yang mulus. Ia melanjutkan bahwa ajang reuni pun seperti manusia dalam sebuah kompetisi yang sedang berlomba menuju garis finish. Ada yang sudah jadi dokter, ada yang kuliah di luar negeri, dan lainnya. Tapi saya tidak khawatir karena jika seseorang tahu siapa dirinya dan mau menjadi apa, ia tidak perlu takut berkompetisi dengan orang lain karena setiap orang jiwa punya tempatnya masing-masing. Oke, kamu mungkin senang jadi dokter, tapi saya lebih senang menjadi penulis karena ini adalah hal yang saya inginkan.

Teman saya ini bertanya kenapa saya bisa bercerita tentang kehidupan sekolah saya dengan enteng. Mungkin karena saya sudah get over it. Lagipula, saya tidak ingin masa lalu menjadi kambing hitam dan tolak ukur atas keadaan saya sekarang. Biar dia jadi cerita yang bisa saya bagi seperti dalam perjalanan ke Kawah Domas ini.

Jadi, untuk anak-anak sekolah sekarang yang sedang di-bully ... kamu enggak perlu khawatir. Nanti ada kalanya kamu menemukan jati diri, lebih percaya suara hati ketimbang omongan orang lain, lalu terang bersinar seperti bintang di pekatnya malam.

Comments

arr said…
wah, topiknya sesuai trend bgt deh, anti-bullying :p
lagian, anak2 itu kadang sadis ke sesamanya.
Nia Janiar said…
Iya ya. Masi kecil sadis, udah gede jahaat.

Popular Posts