Masa Lalu #2

Saya pernah bilang bahwa saya tidak mengambil porsi besar untuk masa lalu. Mungkin karena saya bukan pengikut psikoanalis, juga tidak ingin apa yang sudah berlalu menjadi justifikasi tindakan sekarang. Tapi keberadaan masa lalu itu ada pentingnya di masa kekinian, jadi tidak bisa dinihilkan kehadirannya.

Masa lalu merambat melalui jendela, merayap di dinding dan sela kasur, lalu menelusup masuk ke telinga, menjalar ke otak di kala malam. Walau pikiran sedang bagus, masa lalu bisa menggerogoti sehingga hanya menyisakan pikiran buruk yang residunya diturunkan ke hati. Rasanya sakit tapi tidak bisa sembuh.

Sebuah gelas berisi soda pernah tumpah di rumah makan siap saji karena tidak sengaja, seorang anak pernah terdorong jatuh dengan tidak sengaja pula, sebuah mulut pernah menghardik karena perilaku yang belum benar atau membuat bising CPU dengan tidak sengaja. Saat itu saya paham bahwa perilaku buruk dilakukan seseorang pasti tidak sengaja. Hanya orang jahat yang mau menyakiti dengan sengaja.

Hal buruk ingin dibikin lupa, hal baik ingin dibikin agar kita bisa hidup lagi di dalamnya. Dengan cara diingat-ingat, dengan cara terus disesali, dengan cara pura-pura lupa.

Tapi ia hidup, mengintaimu di kala malam, mengikutimu bagai bayangan.

Comments

Sundea said…
*puk puk* =)

Popular Posts