Prasangka di Balik Pecinan

Teman saya, seorang keturunan Tionghoa, pernah menautkan tulisannya yang berjudul ‘Hai, Cina!’ yang berisi keputusannya kuliah di universitas negeri. Keputusan ini sangat besar baginya karena pada saat itu ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berpindah dari lingkungan homogen ke heterogen. Beruntung orang tuanya tidak melarang, hanya mengingatkan bahwa ia akan menjadi minoritas dan pasti akan menemukan banyak perbedaan.

Teman saya itu masuk hitungan cukup beruntung dimana orang tuanya suportif terhadap keputusannya. Tidak sedikit teman-temannya yang dilarang untuk kuliah yang mayoritasnya ada pribumi dan muslim. Kebanyakan mereka dimasukkan ke universitas swasta non-muslim. Ketakutan orang tuanya itu wajar karena ingin melindungi anaknya dari diskriminasi ras Tionghoa yang terjadi di masyarakat.

Darimanakah diskriminasi kaum Tionghoa bisa terjadi, mungkin sedikit banyak jawab terjawab saat saya dan Aleutians jalan-jalan ke Pecinan. Awalnya saya tidak akan ikut karena ide menjelajah kawasan Pecinan tampak tidak menarik bagi saya. Tapi untungnya keputusan salah saya tidak diambil, karena perjalanan kemarin (13/11) sungguh menginspirasi saya dalam menulis tema yang sebenarnya sudah lama ingin saya tulis.

“Udah Cina, pelit lagi. Calon masuk neraka!” teriak salah seorang pemulung kepada ibu saya yang cuek saat ia mengemis minta makan. Ibu saya memang bukan keturunan Tionghoa, tapi kulitnya yang terang, mata sipit, dan perawakannya merujuk seperti warga Tiongho. Tapi kami ikut tersentil mendengar kata ‘Udah Cina, pelit lagi.’ Memangnya kalau Cina, ada yang salah? Memangnya kalau pribumi boleh pelit?

Sebelum menjawab, biarkan saya menceritakan ulang sejarah Pecinan yang saat itu diceritakan oleh Candra dan Indra. Pecinan atau China Town terjadi saat Indonesia masih dijajah Belanda, warganya dipecah-pecah berdasarkan rasnya untuk memudahkan pengendalian warga yaitu Eropa (termasuk Jepang yang dianggap maju dengan orang kulit putih), Timur Asing (Tionghoa), dan pribumi. Untuk warga Tionghoa, dibangun sebuah konsentrasi yang dikenal sebagai Pecinan. Di Bandung, mereka ditempatkan di kawasan Cibadak dan Pasar Baru. Di kawasan Cibadak, mayoritas kaum Tionghoa bekerja sebagai tukang atau pengrajin. Sementara di Pasar Baru, kaum Tionghoa bekerja sebagai pedagang.



Sama seperti Bandung, di Jakarta dan Semarang pun dilakukan pemisahan. Bahkan di tahun 1740, Pecinan dibenteng dan lahan orang Tionghoa dibatasi. Bahkan ada yang namanya kartu pas atau izin jalan. Untuk bisa keluar benteng, mereka harus memiliki kartu pas—mungkin semacam visa kalau kita mau jalan ke negara tetangga. Sistem kartu pas dan benteng ini dihapus di awal abad ke-20.

Terbatasnya lahan ini mempengaruhi tempat tinggal mereka yang bangunannya memiliki karakteristik tinggi dan panjang. Jika kita jalan ke Pecinan yang ada di Bandung, rumah sekaligus toko (ruko) yang dihuni warga Tionghoa adalah hal yang lazim dilihat sekarang ini. Tentu saja tidak semua ruko dihuni warga Tionghoa, begitu juga rumah biasa yang dihuni warga pribumi.

Mereka tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Mereka turut memutar roda ekonomi dengan bisnis atau berdagang. Unggul dalam bidang ekonomi, mereka diberi peran sebagai perantara pasar modern (Belanda dan Barat) dengan pasar tradisional kala itu. Selain itu menimbulkan kesan bahwa warga Tionghoa “berada di atas” pribumi dengan segala eksklusivitas. Ini bisa jadi pencetus prasangka-prasangka dan diskriminasi yang ada di masyarakat.

Salah satu usaha warga Tionghoa yang waktu itu kami datangi adalah warung Cakue Osin yang ada di Jalan Pasar Barat. Pemiliknya yang bernama Lie Tjay Tat membikin cakuenya sendiri. Dengan senang hati, ia mempertunjukkan cara memotong adonan, melekatkan dengan air, hingga menggorengnya yang memiliki teknik tersendiri agar cakuenya mengembang.




Selain menjual cakue, mereka menjual kompia (sejenis roti keras yang cocok dipasangkan dengan bubur kacang tanah) yang memiliki dua jenis yaitu kompia kosong atau kompia yang berisi daging babi, bala-bala daging babi, dan lainnya. Bagi kaum muslim, sebelum makan di daerah Pecinan itu sebaiknya tanya dulu apakah makanannya halal atau tidak.

Islam dengan Tionghoa pun erat kaitannya. Saat melewati viharra yang ada di Jalan Kebon Sirih, Indra mengemukakan tema bahwa beberapa walisongo adalah orang Tionghoa (Indra menambahkan ada juga yang dari Hadramaut dan wilayah Magribi (Afrika Utara), seperti Sunan Gresik). Maka jika ditelusur lewat internet, menurut Prof. Slamet Muljana dalam bukunya yang sempat dilarang edar pada saat Orde Baru berjudul Runtuhnya Kerjaan Hindu Jawa (1968) memang mengatakan seperti yang Indra bilang. Namun pemerintah Orde Baru yang sudah kepalang menganggap Tionghoa sebagai musuh karena dianggap komunis dan membantu gerakan 30 September 1965, melarang buku tersebut.

Berbagai prasangka dan kecurigaan ini terus bergulir melalui berbagai macam peristiwa dari peristiwa pembantaian warga Tionghoa oleh VOC di Muara Angke tahun 1740 hingga tragedi Mei 1998 dimana manusia diperkosa dan dibunuh karena ras yang tentu tidak ia minta. Prasangka yang diturunkan secara berkelanjutan yang seolah-olah dibenarkan oleh beberapa kejadian, memicu pemulung berteriak seperti itu dan jadi alasan orang tua melarang anaknya bersekolah di lingkungan dengan mayoritas pribumi.

Tidak hanya Tionghoa, tapi prasangka negatif juga terjadi di dalam pribumi seperti Sunda itu mata duitan, Jawa itu lamban, Batak itu keras, dan lainnya. Tidakkah yang mata duitan sekarang tidak hanya suku Sunda saja? Tidakkah semua orang membutuhkan uang? Dan sebagaimana semua orang—apapun sukunya—bisa lamban dan keras? Prasangka yang manusia bikin sendiri tentunya menjadi tidak valid.

Tulisan panjang lebar di atas boleh jadi hanya dari sudut pandang saya sebagai pribumi, sebagaimana buku sejarah, literatur, dan bahan-bahan lain yang dijadikan rujukan, dengan kurangnya bagaimana pandangan kaum Tionghoa terhadap pribumi. Proses pencarian yang tidak hanya merujuk benda mati melainkan berdiskusi juga bisa memecah prasangka karena ada interaksi untuk mengkonfirmasi tentang hal-hal yang selama ini manusia duga.

Dan pada akhirnya, Tionghoa dan pribumi adalah sebuah label yang saling membatasi.



“Our greatest strength as a human race is our ability to acknowledge our differences, our greatest weakness is our failure to embrace them.” --Judith Henderson.

8 comments:

M. Lim said...

kelihatannya sepele ya cakue itu, tapi bikin adonan cakue yang enak itu susah lho.
dan aku suka daerah pecinan. Makanannya biasanya enak-enak. Tapi jangan berhenti dan nanya bahannya apa. Nanti batal makan malahan. AHAHAHAH

Nia Janiar said...

Hahaha.. bagus nih trik "pura-pura gak tau"-nya. Hahaa..

Indra said...

Sudah diduga, pasti masalah prasangka ini ya yang jadi pikiran kita..saya sangka cuma gara2 OrBa aja, ternyata jauh lebih lama dari itu.

Ralat dikit, di buku itu jg ditulis Walisongo itu ga smuaunya keturunan China, ada juga yang dari Hadramaut dan wilayah Magribi (Afrika Utara), sperti Sunan Gresik.

Nia Janiar said...

Oke, udah diralat. Makasih, Ndra. Sebenernya saya dapet dari internet (mungkin gak bisa dipertanggungjawabkan seperti buku).

Misalnya dari tulisan Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris di http://indonesia.faithfreedom.org/forum/sejarah-islam-wali-songo-cina-t34839/

arr said...

Saya baru saja jalan-jalan juga di pecinan dan kota lama di Semarang, terlihat ga beda dengan pecinan di jakarta atau bandung. Pecinan yg paling beda yg pernah saya kunjungi itu di daerah Benteng, Tangerang. Disana lebih menarik lagi. Orang cina disana berkulit gelap dan tidak berwajah oriental. Mungkin kaya Nia hahaha
Dan saya tidak suka dengan eksklusifitas ras atau etnis tertentu. Lagipula, etnis cina sudah ada di negeri ini entah sejak kapan, mungkin karena yg dari sumbernya di daratan sana terus berdatangan, jadi susah utk disebut pribumi, mungkin ya...
Keluarga besar saya keturunan cina, bermata sipit-sipit (untungnya ga nurun ke saya sipitnya :D), menikah dengan keturunan cina yang lain, tapi selalu ngaku orang jawa, mungkin krn cuma keturunan dan ga bs "bahasa cina" sama sekali, kali ya :)

Nia Janiar said...

"Disana lebih menarik lagi. Orang cina disana berkulit gelap dan tidak berwajah oriental. Mungkin kaya Nia hahaha"

Bo!! =))

Btw, thanks for sharing.

Sundea said...

Saya Cina. Tapi nggak bisa jualan. Sekeloarga begitu semua =D

Nia Janiar said...

Haha.. bukti stereotip tidak sahih adanya ya, Dea. :)