Selimut Debu (2010)

Meluruskan stereotype yang salah tentang Afghanistan, boleh jadi itu salah satu tujuan Agustinus Wibowo (akrab dipanggil Gus Weng) dalam membuat buku Selimut Debu. Setelah membaca Garis Batas, lagi-lagi saya terkesima dengan gaya bertuturnya serta informasi yang terkandung di dalam bukunya. Jelas ia membaca banyak buku dan membuat Selimut Debu bukan sekedar catatan perjalanan.


Selama berada di Afghanistan, ia jarang menceritakan tentang perempuan karena perempuan di sana sulit sekali ditemui. Belum lagi penggunaan burqa sebagai simbol anonimitas, identitas, budaya, kenyamanan, dan keamanan perempuan berada di dalamnya yang membuat Gus Weng kesulitan.

Perempuan menjadi hal yang paradoks. Dalam kebudayaan Afghanistan, kehormatan adalah hal yang dijunjung tinggi, salah satu bentuk dari kehormatan adalah perempuan. Ketika dua laki-laki Afghan bersinggungan, mereka tidak akan membicarakan istri atau saudara perempuan mereka. Dan ketika harus keluar rumah, seorang perempuan harus ditemani oleh satu orang laki-laki. Sekilas terlihat bahwa perempuan begitu dianggungkan dan dilindungi oleh suami sebagaimana yang ditulis Gus Weng;

‎"Dalam pepatah kuno Pashtun, tempat perempuan itu hanya rumah dan liang kubur. Perempuan kerja di luar rumah itu melanggar hukum 'agama', karena laki-laki adalah penyedia dan pelindung." (Agustinus Wibowo:158) 

Gus Weng menuliskan saat Lam Li (teman jurnalisnya dari Malaysia) memperlihatkan foto perempuan pekerja yang ada di Malaysia, perempuan Afghan itu malah jatuh kasihan karena mereka harus bekerja, bukan suaminya seperti yang dilakukan di Afghanistan. Dituliskan juga bahwa jika suami dari perempuan meninggal, maka hidupnya ditanggung oleh saudara laki-laki dari suaminya. Jika sudah tidak ada lagi, maka perempuan itu harus bekerja. Namun bagaimana bisa bekerja jika perempuan hanya menghabiskan waktu di rumah dan (nantinya) di liang kubur?

Perempuan di sana anonim: antara ada dan tiada. Secara kasat mata, mereka tampak diagungkan dan dijaga baik-baik, namun banyak juga yang mengalami penyiksaan oleh suaminya sendiri. Sebagai informasi tambahan, di video National Geographic: Too Young To Wed ini ditunjukkan bahwa seorang perempuan mencoba membakar diri setelah tidak sengaja merusak televisi suaminya. Selain itu ada yang ditusuk suami karena keluar rumah tanpa izin suami.

Karena tidak ada budaya pacaran, pernikahan yang terjadi di sana terjadi karena poses perjodohan. Biasanya dalam sebuah pertemuan yang isinya hanya perempuan, calon ibu mertua datang lalu memilih perempuan yang akan jadi menantunya. Tentu perjodohan yang tidak didasari rasa cinta menjadi problematika sendiri.

"Ada perempuan yang dipenjara karena menolak dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tua ... Banyak istri yang tersisa atau janda miskin akhirnya memilih jalan pintas--menenggak racun atau membakar diri ... meluluhlantahkan kulit, dan menghancurkan wajah mereka, menyuarakan ratapan pedih dari makhluk yang tak pernah didengar suaranya ini." (Agustinus Wibowo:175-176)

Perinkahan baru terjadi ketika calon suami mampu membayar mahal yang mahal (sekitar $4000). Karena perekonomian pasca perang Afghanistan terlunta-lunta, maka tidak semua pria dapat menikah sementara prostitusi menjadi hal yang tidak mungkin. Dampak dari fenomena ini adalah mereka menyalurkan hasrat seksualnya pada anak laki-laki. Rupanya di Afghanistan itu pria dewasanya banyak yang playboy. Play with boy. Artinya pria dewasa "memberi" sementara anak kecil "menerima". Bukan berarti homoseksual, tetapi, hanya saja "bermain" dengan anak kecil itu paling murah dan gampang.

Biasanya anak kecil yang dicari itu laki-laki cantik, mulus, dan tidak berbulu. Bahkan ada pria dewasa yang sengaja membesarkan anak seperti ini untuk objek permainannya karena ia akan dianggap maskulin dan dominan. Anak ini akan terus dipakai sampai dia berbulu, menikah, lalu menjadi pria dewasa yang bermain dengan anak kecil lainnya. Budaya seperti Yunani ini juga ternyata dekat dengan kita sebagai warga Indonesia, yaitu adanya fenomena warok dan gemblak di Ponorogo.

Dalam buku Selimut Debu, di sana diceritakan betapa bangsa Afghanistan sangat mencintai tanah debunya--khaak. Meskipun banyak terjadi perang salah satunya saat dijajah Rusia dan dikuasai Taliban sehingga banyak dari mereka yang mengungsi ke Pakistan, Iran, bahkan banyak yang terdampar di Indonesia saat mau ke Australia, jelas mereka bangga terhadap tanahnya. Selain itu, tidak hanya kemiskinan dan peperangan, bangsa Afghan terkenal dengan keramahtamahannya (walaupun Gus Weng pernah berjalan kaki di atap dunia atau bermandikan debu karena tidak ada mobil yang mau mengangkutnya). Kedai teh (samovar) di tengah gurun, keberutungan, serta keramahtamahan warga membuatnya mampu bertahan.

Selain pengetahuan yang membuka cakrawala saya tentang dunia di Asia Tengah, personalisasi yang dituangkan oleh Gus Weng terus mengingatkan saya bahwa ini adalah sebuah catatan pribadi, bukan buku paket sejarah dan budaya Afghanistan. Gaya bertuturnya dan rangkaian katanya membuat saya terus berlanjut dari lembar per lembar, imajinasi ke imajinasi, membayangkan kayanya pengetahuan di balik debu itu sendiri.

Comments

Anonymous said…
nice review :)

-bolehliat-
Nia Janiar said…
Iya, se-nice bukunya. Ahaha.

Popular Posts