Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2011

Kuantar ke Gerbang*

Kisah yang akan saya ceritakan kali ini mengenai seorang perempuan bernama Inggit Garnasih. Saya mendapat informasi tentangnya bukan dari buku pelajaran atau buku paket, melainkan dari mulut ke mulut, melalui sebuah pertunjukkan di bawah lampu nan redup. Sebegitu tidak diketahuinya padahal perempuan yang menjual bedak dan jamu ini memiliki jasa yang besar terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu.

10 kilometer pernah Inggit lalui dengan jalan kaki untuk menemui Soekarno--presiden pertama Indonesia yang menjadi suaminya kala itu--dari tempat tinggalnya ke penjara Sukamiskin. Ia rela kehujanan dan kelelahan demi menghemat uang untuk suaminya yang membutuhkan. Namun ia tidak pernah menceritakan hal ini terhadap suaminya karena merasa Engkus (panggilan sayang Inggit terhadap Soekarno) sudah terlalu banyak pikiran dalam menentang kolonialisme dan tidak perlu ditambahi hal yang remeh temeh.

Berawal dari kerelaan suami Inggit sebelum Engkus, yaitu H. Sanusi (pengurus Sarikat Islam), untuk berb…

Radio Malabar, Riwayatmu Kini

Tulisan oleh Nia Janiar
Foto oleh Yandi Dephol


Saya kira tumpukan bebatuan secara teratur yang ada di Gunung Puntang itu situs pemujaan. Ternyata bukan. Itu adalah puing bangunan kompleks stasiun radio pertama Hindia Belanda tahun 1923 yang dihancurkan.

Aleut! Malabar menjadi tema ngaleut kali ini (18/12).  Sudah saya duga bahwa ini bukan ngaleut Jalan Malabar, melainkan ke kawasan Pegunungan Malabar. Apalagi ada permintaan pakai baju yang nyaman segala. Karena punya masalah dengan pengalaman naik gunung, maka buru-buru saya melakukan riset dengan membaca catatan perjalanan Komunitas Aleut! dan sedikit wawancara sebelum memutuskan pergi.

Tapi nyatanya pergi juga. Penasaran juga. Dan enggan menyesal di kemudian hari juga.

Angkutan dan elf (kendaraan peri dengan kecepatan tinggi serta resiko akibat salip menyalip yang juga tinggi, penj.) adalah alat transportasi kami menuju Gunung Puntang—yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar—tempat stasiun beserta pemancar radio itu berada. Day…

I Miss You, Teteh ...

Tahun demi tahun sudah berganti dan saya tetap menyimpan ini sendiri (saelah). Betapa saya rindu sama kedua teteh saya yang sudah pada menikah, punya anak, dan tinggal jauh dari rumah. Yang satu tinggal di luar kota, yang satu lagi sibuk mengurus suaminya ... *nyengir*

Baiklah.

Hari ini saya dikecewaken lagi. Katanya teteh mau datang ke rumah, tapi tidak. Ia memang tidak menjanjikan, tapi harapan kepalang melambung tinggi saat teteh sms, "Nia, besok ada di rumah?" Dan saya kecewa pas saya bilang apa boleh saya mengajaknya main ke mall dan teteh bilang tidak bisa janji karena suaminya over protective sekali. Emangnya aku mau ngapain tetehku?


Dulu, meski kami hanya saudara sepupu, kita pernah tinggal bersama di rumah ini. Yang satu asalnya dari Bogor, yang satu dari Surabaya. Mereka sekolah di Bandung dan tinggal bersama. Kita suka hangout bareng, jalan-jalan, ngegosip, masker-maskeran, dan hal lazim yang dilakukan antar saudara perempuan. Tentu sebagai anak tunggal, saya terh…

Road Trip Jawa

Atas dasar tugas negara mengirimkan upeti ke puteri di Kerjaan Cepu (baca: lamaran), saya dan saudara melakukan road trip dari Bandung hingga ke Cepu yang memakan waktu hingga 17 jam. Tidak akan saya ceritakan bagaimana perjalanannya, namun saya akan mengunggah beberapa foto sebagai bentuk cenderamata saya untuk pembaca. Mudah-mudahan suka.









Tempat Sampah yang Baik

Akhir-akhir ini saya memikirkan tentang hubungan saya dengan teman yang sedang lupa berteman dengan saya di saat dia senang. Saya mengenang betapa kita sering berkomunikasi saat dia dalam kondisi down setelah putus, menggalau bersama, move on, hingga dapat penggantinya lagi. Lalu begitu dia mendapatkan apa yang ia inginkan, ia lupa. Kami jadi berbicara seperlunya saja.

Bukan hanya dia, tapi beberapa orang pun pernah begini. Saat jatuh, mereka baru datang. Tapi saat terbang, mereka mendamba hal-hal yang lebih tinggi. Lalu saya berpikir, "Kamu tuh gak inget sama orang yang ada saat kamu down? Yang bahkan orang yang kamu idamkan itu gak ada dan bahkan gak tahu kalau kamu lagi down?"

Diam-diam saya mulai menghitung untung rugi, SWOT-nya kalau bisa. Kalau Sapta (teman di klab nulis) bilang, saya ini terlalu terkonsep. Terlalu rigid terhadap peraturan pertemanan yang menurut saya idealnya harus begini atau begitu. Terlalu kaku bahwa orang dewasa harusnya begini dan begitu. Di luar…

Sophisticated

Dua puluh lima tempat yang harus diliput kemarin akhirnya selesai. Dari Bandung Utara hingga Bandung Selatan sudah dijelajah dalam 5 hari yang padat (dan ekstra 2 hari untuk beberapa tempat yang minta di luar jadwal). Di salah satu harinya, saya ditemani oleh Andika Budiman yang sudah mau mengantar ke Gunung Tangkuban Perahu dari pagi hingga sore. Padahal naik gunung bukan masalah perjalanan menuju ke sana dengan mengunakan kendaraan, tetapi juga masalah keliling jalan kaki untuk mendapatkan spot tertentu yang jaraknya tidak sedikit. Lagipula tidak hanya menemani ke gunung saja, tapi ke daerah yang jauh seperti Vihara Vipassana atau Gua Maria Karmel pun ia jabani. Salut untuk Andika!

Untuk pembaca setia blog, pasti kamu sudah kenal Andika, tapi belum pernah kenal Sophie. Maka, di hari yang berbahagia ini (karena ini awal bulan dan sudah waktunya gajian itu pasti membahagiakan), saya akan bercerita tentang Sophie. Ia, yang hampir dua tahun ini setia menemani saya, membantu saya memakna…