Skip to main content

I Miss You, Teteh ...

Tahun demi tahun sudah berganti dan saya tetap menyimpan ini sendiri (saelah). Betapa saya rindu sama kedua teteh saya yang sudah pada menikah, punya anak, dan tinggal jauh dari rumah. Yang satu tinggal di luar kota, yang satu lagi sibuk mengurus suaminya ... *nyengir*

Baiklah.

Teteh - anaknya - teteh - saya
Hari ini saya dikecewaken lagi. Katanya teteh mau datang ke rumah, tapi tidak. Ia memang tidak menjanjikan, tapi harapan kepalang melambung tinggi saat teteh sms, "Nia, besok ada di rumah?" Dan saya kecewa pas saya bilang apa boleh saya mengajaknya main ke mall dan teteh bilang tidak bisa janji karena suaminya over protective sekali. Emangnya aku mau ngapain tetehku?


Dulu, meski kami hanya saudara sepupu, kita pernah tinggal bersama di rumah ini. Yang satu asalnya dari Bogor, yang satu dari Surabaya. Mereka sekolah di Bandung dan tinggal bersama. Kita suka hangout bareng, jalan-jalan, ngegosip, masker-maskeran, dan hal lazim yang dilakukan antar saudara perempuan. Tentu sebagai anak tunggal, saya terhibur. Namun begitu satu persatu nikah dan meninggalkan rumah, saya kehilangan. Sekarang saya sendirian.

Tentu pernikahan itu merubah aktivitas dan kepribadian seseorang. Sekuat apapun kita mencoba tetap menjadi diri kita dulu, pasti saja ada perubahan: baik atau buruk. Tentu suami yang baru kenal beberapa tahun itu menjadi prioritas utama ketimbang sepupu. Yaiyalah. Pun nanti saya juga demikian, hanya sedang berasa ditinggalkan saja.

Walau punya teman, tentu saya ingin menghabiskan waktu khusus dengan saudara sendiri. Saya ingin cerita tentang siapa yang saya suka atau sekedar minta masukkan tentang baju/sepatu apa yang ingin saya beli. Atau jalan bareng sambil mengomentari hal-hal ringan, bukan obrolan masalah rumah tangga. Girls time. Family time.


Huhu, saya rindu teteh-teteh saya. Saya rindu dulu.

Comments

Sundea said…
Gue kebayang banget rasanya, Ni. Gue kan juga sempet tinggal paguyuban bersama keluarga di rumah Siliwangi.

Sekarang rumah Siliwangi udah dijual.
Nia Janiar said…
Waaahh, udah dijual, De?? Sayang banget. :((

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…