Kuantar ke Gerbang*

Kisah yang akan saya ceritakan kali ini mengenai seorang perempuan bernama Inggit Garnasih. Saya mendapat informasi tentangnya bukan dari buku pelajaran atau buku paket, melainkan dari mulut ke mulut, melalui sebuah pertunjukkan di bawah lampu nan redup. Sebegitu tidak diketahuinya padahal perempuan yang menjual bedak dan jamu ini memiliki jasa yang besar terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu.

10 kilometer pernah Inggit lalui dengan jalan kaki untuk menemui Soekarno--presiden pertama Indonesia yang menjadi suaminya kala itu--dari tempat tinggalnya ke penjara Sukamiskin. Ia rela kehujanan dan kelelahan demi menghemat uang untuk suaminya yang membutuhkan. Namun ia tidak pernah menceritakan hal ini terhadap suaminya karena merasa Engkus (panggilan sayang Inggit terhadap Soekarno) sudah terlalu banyak pikiran dalam menentang kolonialisme dan tidak perlu ditambahi hal yang remeh temeh.

Berawal dari kerelaan suami Inggit sebelum Engkus, yaitu H. Sanusi (pengurus Sarikat Islam), untuk berbagi atap dengan Engkus yang saat itu adalah pelajar THS dan membutuhkan tempat tinggal. "Bunga Kamboja cantik merah warnanya," begitu yang diucapkan Engkus dalam balutan pakaian putih dan peci saat pertama kali melihat Inggit Ganarsih yang terpaut belasan tahun lebih tua.

Karena kesibukan, H. Sanusi jarang berada di rumah. Berbeda dengan Engkus yang selalu berada di rumah dan membawa teman-temannya sehingga rumah Inggit menjadi ramai tentunya. Inggit melihat betapa pemuda itu begitu pintar, bersemangat, dan begitu terpelajar. Inggit dan Engkus pun sering berdiskusi di malam hari. Hingga Engkus mengakui menyukai Inggit dan juga sebaliknya. Maka, Inggit bercerai dengan H. Sanusi dan menikah dengan Engkus. Bahkan H. Sanusi dengan rela melepaskan istrinya bersama Engkus (daripada bersama saudagar kaya lain) dan menjadi wali nikahnya.

Inggit sadar bahwa ia menikahi seorang pelajar yang tidak dapat menafkahinya. Maka sambil mendukung, menyemangati, dan mengayomi Engkus, ia berjualan bedak dan jamu untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Saat Engkus habis berpidato, dengan tenggorokannya yang serak, Inggit merawatnya. Membuatkan sebuah minuman dan memberikan kata-kata yang menenangkan hingga suaminya tertidur di pangkuannya. Singa podium itu tak ubahnya seorang anak kecil jika berhadapan dengan Inggit. Hingga ketika Engkus harus dipenjara di Banceuy, Inggit dengan pantang menyerah meminta penjaga untuk bertemu dengan suaminya untuk menyemangati suaminya yang terpuruk, menyelundupkan buku-buku di perut (bahkan ia rela berpuasa agar perutnya kempis dan tidak dicurigai penjaga), dan menyelipkan uang koin di kue yang dikirimkannya ke penjara.

"Kerjaku adalah membangunkan suamiku, mengingatkan waktu sembahyang. Menyiapkan kopi tubruk dan sarapan. Mendorongnya untuk maju, menantinya dengan segala perasaan orang yang menunggu. Menyatakan kasih sayangku, memuaskannya."

"Suamiku menghargai aku, karena aku mencintainya. Karena aku tidak memberikan pendapat-pendapat yang berbelit, karena aku menunggunya, mendorongnya, dan memujanya."

"Aku memberikan cinta, kehangatan, kehormatan, ketulusan. Aku mengabdi kepadanya, aku tenggelamkan diriku pribadi, aku hilangkan kepentinganku sendiri. Seorang istri yang merupakan perpaduan daripada seorang ibu, kekasih, dan seorang kawan."

Wanita kelahiran Desa Kamasan tanggal 17 Februari 1888 ini juga dengan setia menemani suaminya saat diasingkan ke Flores. Di sana mereka mengangkat seorang anak dan Engkus sempat terkena malaria. Dalam kondisi sakit dan diasingkan, Engkus begitu depresi dan menyerah untuk melanjutkan perjuangannya. Malah Inggit yang menyemangati bahwa sakit dan diasingkan seperti ini bukanlah tantangan yang berarti, karena banyak tantangan yang lebih berat apalagi jika Engkus sudah jadi pemimpin nanti.

Saat di Flores, mereka menerima Engkus menerima surat bahwa ia dipindahkan ke Bengkulu. Mereka berkenalan dengan Fatmawati, seorang anak perempuan yang tinggal di rumah dan sudah dianggap anak sendiri oleh Inggit. Di sana mereka membesarkan anak angkat mereka, lalu Engkus meminta Inggit pergi satu bulan lamanya ke Yogyakarta untuk menyekolahkan salah satu anak angkatnya di Taman Siswa. Engkus juga meminta Inggit ke Bandung, mengunjungi sanak saudara. Walaupun lama dan jauh, Inggit yakin dengan keputusan Engkus karena ia paham bahwa Engkus adalah orang yang mengedepankan pendidikan.

Saat kembali ke Bengkulu, Inggit mendengar desas desus mengenai hubungan Engkus dengan Fatma. Ternyata benar. Di suatu hari, Engkus berkata bahwa ia ingin memiliki seorang anak keturunannya sendiri. Jelas Inggit paham bahwa di usia 40 tahun (sedangkan umurnya kala itu 53 tahun), pasti Engkus akan meminta keturunan langsung. Yang jelas, rahim Inggit tidak bisa memberikannya.

Dalam kondisi seperti itu, mereka juga harus pindah ke Padang. Bersama anak dan seorang pembantu setia, mereka melewati hutan selama berhari-hari untuk menuju kota ini. Di sana, didengar sebuah kabar bahwa Belanda sudah mau mundur dan Jepang akan masuk. Oleh karena itu, Engkus mendapat surat bahwa ia harus kembali ke Jakarta untuk merebut kemerdekaan. Saat akan kembali ke Jakarta, Engkus meminta Inggit agar mereka mau bertandang ke Bengkulu sebentar. Jelas Inggit tahu apa maksud dari suaminya. Apalagi Engkus mengemukakan agar Inggit mau dimadu dengan sanjungan, "Meski aku mengawininya, tapi Inggitlah wanita utama, istri utama." Untuk pertama kalinya, Inggit berkata tidak terhadap keputusan suaminya. Ia menentang dan merebut kembali haknya untuk tidak dijadikan koloni sebagaimana Engkus yang selama ini selalu selalu berkata 'tidak' terhadap kolonialisme.

Saat kembali ke Jakarta, bersama Hatta dan Soetan Sjahrir, Engkus mendirikan Tiga Serangkai. Kemerdekaan kian dekat. Pada saat itulah Inggit meminta Engkus memulangkannya ke Bandung. Padahal jika ia tidak meminta pulang, Inggit bisa jadi ibu negara. Setelah bercerai, ia meninggalkan Pegangsaan Timur Jakarta tanpa membawa harta apapun kecuali sebuah kopor tua karena semua hartanya habis untuk membiayai perjuangan Engkus.

Di Bandung, Inggit Garnasih kembali menjual jamu untuk membiayai hidupnya dan kedua anak angkatnya hingga ia tidur selamanya di pemakaman umum Babakan Ciparay tanggal 13 April 1984. Cinta, bagi Inggit Garnasih  selalu memaafkan. Ia tidak pernah membenci dan menaruh dendam pada Engkus. Ia adalah ibu, istri, kekasih sekaligus teman perjuangan Engkus. Sebelum ia meninggal, Engkus telah mendahuluinya pada tahun 1971. Di depan peti jenazah Engkus, dengan suara gemetar dan lirih, ia berkata, "Engkus, geuningan Engkus teh miheulaan Inggit. Kasep, ku Inggit didoakeun ... (Engkus, rupanya Engkus mendahului Inggit. Cakep, Inggit mendoakanmu.)"

Soekarno bersama Fatmawati


*Judul di atas diambil dari judul buku Ramadhan K.H.

8 comments:

arr said...

Ih Nia, awesome betul tulisannya ih Nia...
ME GUSTA!
pm referensinya ya, sepertinya menarik.

Nia Janiar said...

Referensi dari handout pertunjukkan teater sama teaternya itu sendiri.

Ratih Widiastuti said...

sehr gut buni. btw dibawain ma siapa pertunjukkan teaternya?

Nia Janiar said...

Sutradaranya Wawan Sofwan, pemainnya Happy Salma, penulis naskah Ahda Imran.

Sundea said...

Aduh, Nia, tulisan ini bagus banget dan ngasih sisi-sisi yang nggak umum orang tau.

FYI, berarti Inggit Ganarsih itu Aquarius, sama kayak lu ... hehehe ...

Nia Janiar said...

Iya.. dia melankolis juga gak ya? Hmmm..

amus said...

tulisan yang cantik dan bikin gw merinding2 dan mata berkaca2. thanks.

Nia Janiar said...

Sama-sama. Salam kenal :)