Radio Malabar, Riwayatmu Kini


Tulisan oleh Nia Janiar
Foto oleh Yandi Dephol


Saya kira tumpukan bebatuan secara teratur yang ada di Gunung Puntang itu situs pemujaan. Ternyata bukan. Itu adalah puing bangunan kompleks stasiun radio pertama Hindia Belanda tahun 1923 yang dihancurkan.

Aleut! Malabar menjadi tema ngaleut kali ini (18/12).  Sudah saya duga bahwa ini bukan ngaleut Jalan Malabar, melainkan ke kawasan Pegunungan Malabar. Apalagi ada permintaan pakai baju yang nyaman segala. Karena punya masalah dengan pengalaman naik gunung, maka buru-buru saya melakukan riset dengan membaca catatan perjalanan Komunitas Aleut! dan sedikit wawancara sebelum memutuskan pergi.

Tapi nyatanya pergi juga. Penasaran juga. Dan enggan menyesal di kemudian hari juga.

Angkutan dan elf (kendaraan peri dengan kecepatan tinggi serta resiko akibat salip menyalip yang juga tinggi, penj.) adalah alat transportasi kami menuju Gunung Puntang—yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar—tempat stasiun beserta pemancar radio itu berada. Dayeuhkolot, Banjaran, kemudian belok kiri agar tidak masuk rute Pangalengan, menjadi jarak yang ditempuh selama satu jam perjalanan. Kami berangkat pukul 08.25 dan sampai sekitar 09.25.

Kami tiba di pintu gerbang kawasan perhutanan Gunung Puntang. Di sebelah kiri gerbang ada sungai kecil yang airnya dingin dan menyegarkan. Beberapa kawan sempat bermain air di sana: hanya sekedar menyelupkan kaki atau tangan untuk merasakan airnya. Tentunya mereka tidak tahu bahwa nantinya sungai kecil ini akan dipakai buang air untuk Priestanto dan Ilham.

Jalan menuju pintu gerbang ke kompleks statsiun radio ini tidak jauh. Jalannya sudah diaspal, lebar, serta tidak terlalu menanjak. Kecuali jika tiba-tiba mencari jalan pintas lewat semak belukar yang licin dan becek seperti yang dilakukan Aleutians kemarin. Saat keluar dari semak, beberapa teman hanya bisa tertawa sambil berkata, “Kenapa ada jalan bagus harus lewat jalan setapak gini sih? Ya … namanya juga Aleut!”

Penyangga pipa

Bebatuan setengah lingkaran ada di sisi jalan setapak. Kata Bang Ridwan, itu bekas  penyangga pipa zaman dulu. Beberapa langkah kemudian dari pipa tersebut, terdapat sebuah kompleks bongkahan bebatuan tersusun rapi dan membentuk sebuah kerangka bangunan. Batuannya tertutup lumut dan belukar. Ini merupakan kompleks karyawan stasiun radio (disebut Kampung Radio atau Radiodorf). Tidak hanya kamar tidur atau kamar mandi, fasilitasnya di kompleks ini lengkap untuk kebutuhan sehari-hari seperti kolam renang, bioskop, lapangan tenis.

Sayangnya seluruh kompleks di Gunung Puntang ini dihancurkan dengan bom—berdasarkan Ridwan Hutagalung melalui pengamatan literatur-- bukan oleh pihak Jepang melainkan pribumi sendiri tahun 1945-1946 dengan alasan untuk menghambat penjajahan Jepang. Belanda harus menyerah tanpa perlawanan kepada Jepang karena musuhnya berhasil membombardir dan menenggelamkan kapal-kapal yang dimiliki sekutu. Jepang juga pernah membom taman rumah residen dan di sekitar alun-alun Bandung namun mereka tidak mungkin menghancurkan sesuatu yang mereka butuhkan atau akan mereka pakai sebagai media propaganda Pulau Jawa yaitu Radio Malabar ini.

Sisa Kampung Radio atau Radiodorf

Berdasarkan tulisan "Pemboman" Radio Malabar karya Ridwan Hutagalung (2009), sumber listrik untuk menggerakan stasiun radio pertama dan terbesar di Asia ini diambil dari empat pembangkit yaitu PLTA Dago Bengkok, PLTA Plengan, PLTA Lamadjan, dan PLTU di Dayeuh Kolot. Dibentangkan antena sepanjang dua kilometer antara Gunung Puntang dan Halimun dengan ketinggian antena 350 meter dari lembah. Wah! Aleutians banyak yang bertanya bagaimana bisa dibangun antena setinggi itu. Jelas ahli teknik elektro Dr. Ir. C. J. de Groot yang merintis dan membangun stasiun radio sehingga bisa terjalin komunikasi antara Hindia-Belanda dengan Belanda sudah memikirkannya. Ini membuat saya berimajinasi tentang seberapa majunya pendidikan di Belanda kala itu.

Diambil dari blog Komunitas Aleut! di tulisan M. Ryzki W.

Fakta menarik lainnya adalah kondisi gunung Puntang adalah lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun yang curam berbentuk V untuk menguatkan gelombang radio dan jika ditarik garis lurus dari lembah tersebut akan mengarah langsung ke Amsterdam. Entah bagaimana de Groot bisa menemukan tempat seperti ini. Pesawat? Helikopter?

Saat kami memperhatikan penjelasan, Reza dan Bang Ridwan memperlihatkan bangunan megah nan putih di kompleks ini tahun 1923. Aleutians menyayangkan bahwa bangunan sebagus ini harus dihancurkan. “Harusnya pribumi kala itu bisa berpikir dingin,” ujar Ambu Trizsa Vas. Juga ada pendapat lain seperti jika pribumi bisa menghancurkan, seharusnya mereka bisa membangunnya kembali.

Kolam Cinta

Selain keberadaan bangunan, ada sebuah kolam yang juga bersejarah. Namanya Kolam Cinta. Bentuknya seperti segitiga, dengan dua busur kecil di bagian atas yang melengkung dan bertemu di sebuah lingkaran sebagai titik. Kalau berdasarkan artikel M. Ryzki W berjudul Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II, disebutkan bahwa jika ada orang yang pacaran di sini, maka akan langgeng umur hubungannya. Mudah-mudahan yang jomblo juga tidak jadi langgeng kejomboloannya.


Membayangkan bangunan-bangunan besar berdiri kokoh di atas hamparan rumput hijau, dikelilingi pinus, dan berlatarkan gunung, rasanya diri ini akan terpesona dengan kemegahannya jika bangunan ada di depan mata. Belum lagi terbangunnya suasana seperti kabut serta gemericik sungai Cigeureuh yang berada di kawasan Gunung Puntang yang airnya dingin dan jernih hingga sekarang. Beberapa Aleutians menyempatkan berendam sambil menggigil di bawah air terjun kecil, sekaligus menutup perjalanan dan rangkaian kegiatan Aleut! di tahun ini.

Saat kami akan pulang, kendaraan peri kembali dipanggil. Hanya dengan satu pijitan di keypad berwarna hijau, sinyal langsung tersalur sehingga penerima bisa menerima kabar melalui telepon genggam. Begitu kekinian dan merupakan hasil usaha zaman dulu untuk membangun sebuah komunikasi: hutan dibuka, perumahan didirikan, tiang-tiang besi ditancapkan di tingginya pegunungan.

Sumber:
Hutagalung, Ridwan. 2009. “Pemboman” Radio Malabar. Artikel bisa dilihat di http://www.facebook.com/note.php?note_id=193995986486
Wiryawan, Ryzki. 2010. Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II. Artikel bisa dilihat di http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-malabar-with-geotrek-ii/

Comments

Pia Zakiyah said…
*menangis deras
Nia Janiar said…
*ditadahi*
Ridwan said…
Betul ya, alat2 komunikasi pemanggil elf yg canggih itu, ternyata rintisannya persis di depan kita semua kemarin itu. Sayangnya tinggal puing2 saja.
Nia Janiar said…
Iya, Bang.

Popular Posts