Skip to main content

Tempat Sampah yang Baik

Akhir-akhir ini saya memikirkan tentang hubungan saya dengan teman yang sedang lupa berteman dengan saya di saat dia senang. Saya mengenang betapa kita sering berkomunikasi saat dia dalam kondisi down setelah putus, menggalau bersama, move on, hingga dapat penggantinya lagi. Lalu begitu dia mendapatkan apa yang ia inginkan, ia lupa. Kami jadi berbicara seperlunya saja.

Bukan hanya dia, tapi beberapa orang pun pernah begini. Saat jatuh, mereka baru datang. Tapi saat terbang, mereka mendamba hal-hal yang lebih tinggi. Lalu saya berpikir, "Kamu tuh gak inget sama orang yang ada saat kamu down? Yang bahkan orang yang kamu idamkan itu gak ada dan bahkan gak tahu kalau kamu lagi down?"

Diam-diam saya mulai menghitung untung rugi, SWOT-nya kalau bisa. Kalau Sapta (teman di klab nulis) bilang, saya ini terlalu terkonsep. Terlalu rigid terhadap peraturan pertemanan yang menurut saya idealnya harus begini atau begitu. Terlalu kaku bahwa orang dewasa harusnya begini dan begitu. Di luar itu, semuanya salah.

Sapta juga cerita tentang hubungan pertemanannya dengan orang lain. Ringkasnya, pertemanan memang begitu. Ada kala kita senang-senang dan makan ati atas perlakuan teman. Tapi jika kita tidak mau jadi tempat sampah yang baik dan kadar makan ati lebih banyak daripada senang-senang, kita bisa memutuskan mau atau tidaknya melanjutkan pertemanan. Atau menjaga sebuah jarak.

Saya pernah menulis tentang memahami orang lain. Intinya saya bertanya apakah dengan memahami orang lain, kita itu harus mengiyakan semua perkataan, memaklumi perbuatan buruknya lalu diakhiri makan ati, dan seterusnya. Hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa kelebihan dan kekurangan teman itu harus diterima. Satu paket. Dan itu tadi, resiko makan ati selalu ada.

Lalu apakah saya mau atau tidak menjadi tempat sampah? Saya pikir itu tidak masalah asal ada win-win solution. Dia buang sampah ke saya, saya buang sampah ke dia. Dia menjaga perasaan saya, saya menjaga perasaan ke dia. Begitu seterusnya.

Comments

Egowati said…
yuhu...same2.si aku juga lagi ngerasa begitu sekarang...saat sulit kita mau jadi tempat sampah..tapi pas doi bahagia,berbagi ato sekedan bilang "i'm ok now" juga kagak...
#hyah....dia curhat...heheh

-uknowwhoiam- :P
Nia Janiar said…
Huahaha.. Egowati. Namanya sangat Orde Baru pisan (pake wati). Haha. :p

Yaah, sedih deh tuh.. bahkan I'm oke now juga gak dapet. :)
G4reeLa said…
Ga enaknya ketika kita memberitahukan ke orang bahwa kita lulusan psikologi adalah reaksi: "wah, brarti gw bisa dong ya konsultasi ke lu.", yang ujung2nya adalah curhat semata. Ya ga sih? Walau kadang2 ada juga yang agak sopan dengan bilang, "duh, sorry, gw jadi curhat gini ke lu. gapapa kan ya", yang adalah ga ngaruh - karena toh dia udah curhat. Hahah. *ketawa miris.

Awalnya gw agak kurang sreg dengan istilah 'tempat sampah' yang lu pakai, Ni. Karena yang langsung kebayang ama gw adalah sesuatu yang jorok, bau, dan laleran. Tapi, pas sebelum ngetik komen yang di fb, gw tiba-tiba mikir, "apa ga ada istilah yang lebih cantik dari tempat sampah?" yang akhirnya berlanjut ke "tempat sampah juga kan banyak yang cantik2." Kayak tempat sampah-tempat sampah yang dibeli ama orang untuk ditaro di kamar, di samping meja rias, di mobil, di kubikel... Jadi, akhirnya, I'm ok with the term.

Lalu pemikiran gw jadi berlanjut ke apa salahnya jadi tempat sampah? Gw jadi ngebayangin apa jadinya kamar gw kalo ga ada tempat sampahnya, pasti jadi 'wow, what a mess!'. Jadi, gw menarik kesimpulan bahwa ketika orang curhat ke 'tempat sampah'nya, mereka sedang berusaha menyingkirkan hal-hal yang kusut dan kacau balau di hidup mereka, supaya hidup mereka ga jadi 'messed up' (kayak kamar tanpa tempat sampah tadi). Pada akhirnya, menjadi teman 'tempat sampah' bukanlah sesuatu yang buruk. You become something reliable that people come to when they need to sort their life. otherwise they will just... colapse.

Hoh! Thanks, Nia, karena sudah membuat gw menemukan sesuatu yang baru di pagi buta ini.

Btw, istilah yang diberikan temen2 gw ke gw adalah Nyai Tolombong, dan gw suka isilah itu. :)
Nia Janiar said…
Haha.

1. Pertama gue setuju sama psikologi-psikologi itu. Kadang, kalau misal kita tidak bereaksi sesuai harapan, mereka berharap, "Kok elo kayak bukan lulusan psikologi aja sih?" Kalau kata temen gue, "Nah dia bukan s.psi koq lebih paham s.psi musti gimana?"

Selain itu, kadang juga ingin berhenti sebentar jadi tempat sampah. Karena kadang denger cerita orang itu memuakkan dan melelahkan.

2. Saat penulisan, gak kebayang sampah yang laleran. Jadi itu sahih! :D Nah! Gue juga tanya ke lawan bicara gue saat itu, "Perlu bangga gak sih kita sebagai tempat sampah? Perlu gak sih bangga didatengin teman kita setiap ada masalah?" Terus temen gue bilang, "Perlu berbangga!"

Mungkin alesan dia bisa nyambung sama komentar Mbak Niken tentang "You become something reliable that people come to when they need to sort their life."

Tapi konsep pertemanan gue kemarin adalah ada di saat suka dan duka. Kalau suka sama orang lain, dan duka baru ke gue ... rasanya enggak adil.
Sundea said…
Pas baca judul "Tempat Sampah yang Baik" gue kira ini postingan harfiah. Tentang tong sampah beneran dan dia baik. Ternyata bukan =D

Anw, temen itu emang macem2 jenisnya, kok. Temen yg ada deket kita pas susah doang emang ada, tapi temen yg ada deket kita pas seneng-seneng doang juga ada. Kadang temen yg satu "dibayar" dengan temen yg lainnya. Kalo udah begitu, biasanya kita jadi seneng-seneng aja temenan sama siapapun. Kalo suatu saat temennya nggak cocok lagi juga kita lebih nothing to loose ngelepasnya. Emang begitu kali siklusnya.

Tapi di antara temen-temen yg macem2 jenisnya itu pasti ada yg bisa kita sebut sahabat. Mau si sahabat itu ada atau enggak secara fisik, ada ikatan intutif antara kita sama dia. Tanpa diberatin apa-apa lagi, kita bisa dateng kapanpun sama dia dan dia sebaliknya. Gue rasa yg begini yg perlu dijaga baik-baik dengan tetep setulus-tulusnya satu sama lain =)
Nia Janiar said…
Sahabat juga gue masih bingung, De. Gue kadang suka mikir apa gue punya sahabat. Karena hubungan gue tidak pernah sangat dekat (apalagi secara intuitif dengan seseorang). Ada beberapa temen gue yang merasa sahabat itu seperti soulmate. Waah, gue malah lebih jauh dari hal itu.

Tapi mungkin suatu saat gue akan menemukannya.
Sundea said…
Someday you will =)
Nia Janiar said…
Amin. :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…