Transasi Zona Tidak Nyaman



Di awal tahun 2012 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengecap pengalaman baru oleh kantor. Kantor meminta saya kerja di Jakarta selama 2 minggu dengan tanggungan biaya inap di kosan. Kantor juga mencarikan kosan untuk saya.

Tawaran itu dikirim lewat email oleh Pak J. Beliau meminta kalau hari Senin pertama di tahun 2012, saya sudah ada di Jakarta. Menarik juga karena sebelumnya saya berlibur ke Dieng untuk merayakan tahun baru bersama-sama (jurnal akan saya unggah) dan berencana pulang Senin pagi. Jadi, 2 Januari lalu, saya hanya menghabiskan beberapa jam di Bandung lalu langsung cabut ke Jakarta.

Saya merasa excited karena seumur hidup saya belum pernah merasakan ngekos, tinggal jauh dari ibu, mengurus makan serta cucian, dan lainnya. Maklum, selama ini saya dimanjakan oleh pembantu dan segala fasilitas yang sudah tersedia. Dan dukungan ibu saya serta keluarga bikin langkah saya ringan merantau dua minggu di Jakarta.

Kali itu adalah pertama kalinya saya bertemu orang kantor (karena selama ini kerja sendiri sebagai kontributor kota) dan ke Jakarta jika diminta Pak J. Setelah selesai kenalan, saya diantarkan ke kosan dan langsung bekerja! Waah .. Perjalanan pulang dari Dieng bikin saya roaming dan ngehang.

Sekarang adalah hari ke-11 saya di Jakarta. Banyak teman dan keluarga yang bertanya bagaimana keadaan saya di Jakarta. Saya selalu bilang so far so good karena saya merasa nyaman-nyaman saja dengan lingkungan sini--malah banyak hal yang membuktikan persepsi saya tentang Jakarta itu salah. Orang kantor baik, beberapa orang ramah, lingkungan kosan juga baik, dan lainnya. Masalah saya di sini hanyalah saya sendirian di kosan.

Kosan ini terdiri dari 3 kamar, dua terisi oleh saya dan satu orang laki-laki. Sebenarnya ini kosan perempuan, namun laki-laki ini sepupunya ibu kos (ibu kos masih mudah dan saya memanggilnya mbak!). Ibu kos bilang kalau saya keberatan dengan kehadiran sepupunya, dia bisa minta sepupunya ke luar. Saya bilang gak masalah. Lagian di rumah saya juga banyak laki-laki.

Saya kerja dari pukul 9 sampai 6. Seringkali pulang sambil menemukan kosan kosong saat maghrib lalu makan, mandi, shalat, nonton sendirian. Intinya--selain penakut--saya gak punya teman ngobrol.

Temen kosan (housemate) biasa pulang pukul 21:30, mandi, nonton bentar, lalu tidur. Kami tidak pernah nonton tv bareng di ruang tv karena saling sungkan. Selain itu obrolan hanya kisaran basa basi saja. Kalau dia pulang, biasanya saya masuk kamar, guling-guling sampai tertidur. Saya hanya butuh tahu bahwa dia ada di sini, maka saya bisa tidur dengan tenang.

Sifat penakut ini harus saya hadapi. Ini juga bikin saya berada di zona tidak nyaman terus. Mau kencing takut, jemur baju takut, denger suara dikit langsung berimajinasi yang aneh-aneh. Payah ...

Rasa sendiri bikin saya homesick. Nangis dikit kalau inget keluarga atau pas ditinggal Eka (sempat main ke Jakarta dan nginap di tempat saya) pulang ke Bandung sementara saya masih harus di sini. Saya diskusi sama teman-teman dan mereka bilang itu wajar.

Dengan waktu yang tersisa di sini, saya harus bersyukur bahwa saya punya pengalaman jauh dari orang tua yang artinya jadi menghargai setiap uang yang keluar, cuci baju, dan cuci piring pakai sabun Lux Magical Spell. Selain itu di kantor juga saya belajar tulis artikel bahasa Inggris, tahu standar penulisan kantor dan gaya serta informasi apa yang ingin di dapat dan lainnya.

Maka transisi ke zona tidak nyaman ini masih terproses sampai saya bisa membuatnya nyaman. Eh, ada coca cola si housemate nih di kulkas. Mumpung orangnya belum pulang, ambil aaah ...

Published with Blogger-droid v2.0.3

Comments

Riyan Arrizal said…
hmmm... tetep semangat ya mbak :)

mampir juga ya ke blog sblh, catatantahupetis.blogspot.com
Nia Janiar said…
Makasih! :)

Popular Posts