Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2012

My Architect: A Son's Journey (2003)

Di suatu hari, Andika memberi saya sebuah film dengan judul My Architect: A Son's Journey. Film ini digadang-gadang bagus oleh teman saya sambil memberi ulasan singkat tentang isinya. Karena saya tahu selera film Andika (dalam artian menyukai film banyak dialog dan plot lambat), maka saya tidak berekspektasi banyak.

Ternyata ini adalah film dokumenter. Apalah yang diharapkan tentang film dokumenter selain penjabaran tentang suatu fakta yang ada. Namun dari awal, film ini begitu mengikat saya untuk terus menontonnya hingga akhir karena begitu menggelitik pikiran dan perasaan.

Film ini bercerita tentang Nathaniel Khan, seorang anak yang ingin mengenali ayahnya yang telah meninggalkannya semenjak umur 11 tahun. Ayahnya adalah Louis Khan, seorang arsitek ternama dunia yang meninggal karena serangan jantung di kamar mandi sebuah stasiun tahun 1974. Louis Khan meninggalkan 3 orang keluarga yaitu satu perempuan yang dinikahinya beserta anak dan dua perempuan yang tidak dinikahinya juga b…

Sejarah Di Antara Halaman Buku

Langit mendung rupanya tidak membuat 59 pegiat Aleut malas atau patah semangat menyusuri sejarah toko buku lama (juga percetakan) yang ada sepanjang Jalan Braga dan sekitarnya. Sembari makan roti atau minum kopi untuk menghangatkan diri, mereka duduk-duduk di pelataran Landmark--tempat yang terkenal sering mengadakan pesta buku atau pameran elektronik--sambil menunggu yang terlambat.
Lekat dengan perbukuan, tempat yang sedang diduduki para pegiat ini dulunya Toko Buku Van Dorp yang dibangun oleh Schoemaker pada tahun 1922. Schoemaker, yang karyanya tersebar di Bandung ini, menetapkan ciri khasnya pada pemasangan ornamen nusantara Batara Kala (anak Dewa Siwa yang merupakan dewa penguasa waktu dan memiliki wajah buruk rupa) tanpa rahang. Jika ingin melihat Batara Kala dengan rahang, bisa dilihat di Gedung Majestic.


Berbeda dengan Aula Timur ITB buatan Maclaine Pont dimana gaya Eropa dan nusantaranya betul-betul dilebur, ornament nusantara Schoemaker hanya berupa tempelan saja. Dengan g…

Desas-Desus Bawah Tanah

Kau tahu, rasanya berisik betul saat kau dan teman-teman kau itu melewati kami. Kaki-kaki kalian membuat tanah berdebam, menggetarkan dari kepala hingga kaki, membikin tulang-tulangku semakin keropos saja. Belum lagi, ada yang berisik, ada pula satu orang yang berkata keras-keras (seperti sedang berpidato atau orasi), belum lagi ada yang duduk di atas nisan membikin berat kami yang ada di bawahnya.

"Siapa sih?" tanya Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Suaranya merambat di dalam tanah.

"Mana ku tahu! Dulu pun pernah begini."

"Heuh!" Pria kelahiran 1882 yang dulu terkenal sebagai arsitek itu mengeluh panjang. Keluhannya semakin membikin teman-temanku yang sedang mengaso dengan tenang di dalam tanah Makam Pandu kini terbangun. Mereka protes sebentar lalu kembali tidur.

"Paling-paling ia mau menjenguk kau yang berprestasi itu. Mereka akan menyebut-nyebut Villa Isola, Gedung Merdeka, Hotel Preanger, sebagai karyamu. Juga akan menyinggung muridmu …

Daging Busuk

Daging busuk ada di kaki kananku. Warnanya hitam dan berbau. Terkadang terlihat beberapa belatung dari dagingnya. Belatung gendut berwarna putih itu merayap di tengah makanannya. Di malam hari mereka berpesta pora, terkadang tercium bau vodka. Paginya aku merasakan sakit sekali, setiap hari.

Daging busuk menjalar keseluruh kakiku. Rasanya sakit dan ngilu. Berjalan pun hanya mengandalkan kaki kiriku. Kalau berjalan, para belatung berjatuhan, menimbulkan jejak di jalan, lalu mereka berkeliaran, menjalar mencari makanan.

Sering kuacuhkan daging busuk di kaki kananku ini. Kadang kutengok sebentar lalu kubuat lupa lagi. Setiap sakitnya aku nikmati agar aku bisa melaluinya. Berpura-pura sembuh, berpura-pura kaki kanan bisa menginjak tanah lagi.

Tapi hari ini kutengok daging busukku. Belatungnya aku ambil satu persatu. Kubersihkan agar tidak terlalu berbau. Kubawa ke dokter agar ia memotong kakiku, agar tidak menjalar menghabiskan satu tubuhku.

Daging busukku sudah hilang. Hanya sedikit nyut…

Taman: di Balik Fungsi dan Cerita

Tiga buah kubus terlihat di sebuah taman yang berada di kampus yang berada di bilangan Jalan Ganesha. Dengan tempat duduk setengah lingkaran serta landainya pepohonan rambat yang meneduhkan, bangunan kampus yang didirikan pada tahun 1920 berdiri kokoh di sebelah utara. Sementara itu di sebelah selatannya terdapat Taman Ganesha yang dulunya bernama Ijzermanpark atau Yzerman Park yang berlatarkan gunung-gunung sebelah selatan kota Bandung.



Ijzermanpark dibangun pada tahun 1919 untuk menghargai seorang pegawai jawatan KA bernama Yzerman yang ikut merintis pembangunan De Techniche Hoogeschool te Bandung (THS) atau Institut Teknologi Bandung (ITB). Patungnya dari kepala hingga dada pernah disimpan di taman ini namun diganti pada tahun 1950-an dengan patung Ganesha namun patung masih bisa dilihat di gedung rektorat ITB. Taman ini jika dilihat dari atas akan terlihat seperti huruf 'y' sebagai inisial dari Yzerman. Selain itu plakat-plakat tentang nama serta ketinggian gunung, dapat …

Infantil

Semenjak sapi betinanya mulai besar lalu kantung susu yang menggantung dekat perut terlihat penuh, Hasyim tahu bahwa si mamalia itu siap diperah. Ini kali pertama ia memiliki sapi betina siap perah, maka pertama kali juga ia akan memerah. Selama ini ia hanya merawat domba-domba dan sepasang sapi milik Pak Haji Khasan yang di saat mau meninggal, majikannya itu mewariskan sebuah anak sapi kepada Hasyim agar anak yatim ini bisa menghidupi dirinya sendiri.
Sementara sang sapi sibuk mengunyah, Hasyim mengalungkan tali di leher kemudian dikaitkan ke pancang. Ia bersiap dengan membawa ember kecil serta jojodog (tempat duduk kecil) di dekat sang sapi. Sebelum memerah, ia meregangkan kedua jemarinya hingga bergemerutuk bunyinya. Ia melakukan apa yang selama ini ia lihat saat pegawai lain memerah ibunya sapi ini. Ia lumuri puting sapi dengan mentega, ia pegang salah satu putingnya kemudian ia meremasnya dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, sambil ditarik ke arah bawah. Air putih agak be…