My Architect: A Son's Journey (2003)

Di suatu hari, Andika memberi saya sebuah film dengan judul My Architect: A Son's Journey. Film ini digadang-gadang bagus oleh teman saya sambil memberi ulasan singkat tentang isinya. Karena saya tahu selera film Andika (dalam artian menyukai film banyak dialog dan plot lambat), maka saya tidak berekspektasi banyak.

Ternyata ini adalah film dokumenter. Apalah yang diharapkan tentang film dokumenter selain penjabaran tentang suatu fakta yang ada. Namun dari awal, film ini begitu mengikat saya untuk terus menontonnya hingga akhir karena begitu menggelitik pikiran dan perasaan.

Film ini bercerita tentang Nathaniel Khan, seorang anak yang ingin mengenali ayahnya yang telah meninggalkannya semenjak umur 11 tahun. Ayahnya adalah Louis Khan, seorang arsitek ternama dunia yang meninggal karena serangan jantung di kamar mandi sebuah stasiun tahun 1974. Louis Khan meninggalkan 3 orang keluarga yaitu satu perempuan yang dinikahinya beserta anak dan dua perempuan yang tidak dinikahinya juga beserta memiliki anak.

Khan melakukan perjalanan ke gedung-gedung yang dibuat oleh ayahnya, mewawancarai kolega, istri, dan juga saudari tirinya. Selain itu ia juga mengamati beragam video tentang ayahnya. Di sana ia menemukan bahwa ayahnya ini merupakan seorang arsitek yang hebat, memiliki kekhasan geometris dan simetris pada karya-karyanya, sekaligus orang biasa yang memiliki kesalahan termasuk menghamili dua perempuan lain namun tetap bersama istri hingga akhir hayatnya. Khan, sebagai anak dari perempuan terakhir yang ayahnya hamili, tentu berharap bahwa ayahnya akan meninggalkan istrinya dan tinggal bersama ia dan ibunya, berharap ayahnya memenuhi akan berkunjung di musim panas namun tidak pernah datang.

Di film ini, tidak hanya menyajikan narasi tentang Louis Khan, bangunan-bangunan cantik dari sudut pandang menarik pun lumayan memanjakan mata. Selain itu kegigihan Khan dalam mengenali ayah yang jelas-jelas mengabaikannya tentu menjadi sudut pandang pertama yang membikin film ini lebih sentimental.

Saya terbawa emosi yang melodramatis menonton film ini. Saya mulai memproyeksikan diri saya sebagai Khan--seorang anak yang juga ditinggalkan ayahnya untuk memilih bersama orang lain. Namun berbeda dengan Khan, saya tidak memiliki keinginan untuk mengenali dan meresapi keberadaannya, di luar konteks apakah sosok ayah tersebut terkenal atau tidak. Momentum pemberian film ini sangat tepat dimana saya baru bertemu dengan ayah saya atas prakasa saya sendiri dalam rangka menyisihkan daging busuk--dalam artian menyisihkan emosi negatif yang hanya memakan dari dalam saja. Ya, tidak ada keinginan untuk mengenali, namun tidak ada keinginan untuk membenci.

Khan sendiri pada akhirnya bisa mengucapkan selamat tinggal di perjalanannya ke Bangladesh yaitu saat ia berkunjung ke gedung terakhir yang dibuat ayahnya. Perjalanannya berakhir. Semua gedung sudah ia kunjungi, saudara tiri pun sudah ia persatukan dalam sebuah rumah pohon dan saling berbagi perasaan orang tua mereka yang saling menghindar. Pencariannya selesai. Lalu di ujung film, Khan menyimpulkan,

"On this journey, my father became real to me. A man, not a myth. Now that I know him a little bit better, I miss him more than ever. I really wish things had been different. But he chose the life he wanted. It's hard to let go. But after these years, I think I found the right time and place .. to say goodbye."

Comments

Neni said…
AAawwhh, Nia! #speechless yet touched.
Nia Janiar said…
Hihi.. :)
Dodi Faedlulloh said…
Tampaknya cukup recomended juga film ini. Semenarik tulisanmu. :)
Walau tak begitu paham tentang arsitektur, biasanya film dokumentasi selalu mengilustrasikan dengan alur yang dekskriptif dan mudah dimengengerti, secara audio-visual.
Nia Janiar said…
Saya juga enggak paham tentang arsitektur, tapi film ini bisa bikin mengerti. Mangga ditonton :)
Sundea said…
Ini ya yang ditongton pas gue dateng? Hehehe ...
Nia Janiar said…
Bukan, De.. waktu itu nonton yang The Help :D :D

Popular Posts