Skip to main content

Infantil

Semenjak sapi betinanya mulai besar lalu kantung susu yang menggantung dekat perut terlihat penuh, Hasyim tahu bahwa si mamalia itu siap diperah. Ini kali pertama ia memiliki sapi betina siap perah, maka pertama kali juga ia akan memerah. Selama ini ia hanya merawat domba-domba dan sepasang sapi milik Pak Haji Khasan yang di saat mau meninggal, majikannya itu mewariskan sebuah anak sapi kepada Hasyim agar anak yatim ini bisa menghidupi dirinya sendiri.

Sementara sang sapi sibuk mengunyah, Hasyim mengalungkan tali di leher kemudian dikaitkan ke pancang. Ia bersiap dengan membawa ember kecil serta jojodog (tempat duduk kecil) di dekat sang sapi. Sebelum memerah, ia meregangkan kedua jemarinya hingga bergemerutuk bunyinya. Ia melakukan apa yang selama ini ia lihat saat pegawai lain memerah ibunya sapi ini. Ia lumuri puting sapi dengan mentega, ia pegang salah satu putingnya kemudian ia meremasnya dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, sambil ditarik ke arah bawah. Air putih agak bening itu keluar dari sumbernya—hanya sedikit. Sang sapi melenguh untuk susu pertamanya. Hasyim diam sebentar untuk melihat apa sapi tersebut kesakitan atau tidak namun sapi tampak tak acuh sambil melanjutkan makan.

Dengan prosedur yang sama, ia mengulangi dengan tangan kirinya di puting yang berbeda sehingga kedua tangannya kini sibuk memompa kantung susu hingga airnya bermuncratan. Prosedur berulang itu lama kelamaan membuat wajah Hasyim memerah dan berseri-seri. Entah apa yang ia bayangkan. Mungkin dorongan infantil seorang anak laki-laki yang merindukan kantung perempuan yang memberi hangat selama 9 bulan atau perempuan yang membagi sari tubuh melalui gumpalan kenyal bersarang di mulut?

Susu semakin memenuhi ember. Pancurannya menimbulkan busa-busa putih di dalamnya. Warnanya terlihat kental. Penasaran, ia celupkan kelingkingnya ke dalam ember lalu dihisap oleh mulutnya. Apakah rasanya sama dengan air susu ibuku? – tanya Hasyim dalam hati. Meski ia sudah menyedot sari tubuh ibunya selama bertahun-tahun, aneh, ia tidak pernah ingat rasanya.

Tak tahan melihat kantung susu bergelantungan, pemuda itu mendekatkan mulutnya dan mulai menghisapnya. Air putih itu memenuhi mulutnya. Dipejamkan kedua matanya, membayangkan diri menjadi bayi, sambil mendekap diri membayangkan kehangatan ibunya. Hasyim, si pemuda tanggung yang sedang dikuasai dorongan Oedipal, tidak menyadari bahwa ibu yang dibayangkannya itu sedang melihat ulahnya.

“Masya Allah, Hasyim! Najis!!” teriak ibunya sambil membangunkan lamunan Hasyim dengan tumpahan air susu sapi ke kepalanya. Hasyim gelagapan.


Bandung, 4 Februari 2012. Reading Lights Writers' Circle dengan tema Susu. 

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…