Taman: di Balik Fungsi dan Cerita


Tiga buah kubus terlihat di sebuah taman yang berada di kampus yang berada di bilangan Jalan Ganesha. Dengan tempat duduk setengah lingkaran serta landainya pepohonan rambat yang meneduhkan, bangunan kampus yang didirikan pada tahun 1920 berdiri kokoh di sebelah utara. Sementara itu di sebelah selatannya terdapat Taman Ganesha yang dulunya bernama Ijzermanpark atau Yzerman Park yang berlatarkan gunung-gunung sebelah selatan kota Bandung.

Plakat nama serta ketinggian gunung di Ijzermanpark (Taman Ganesha)

Ijzermanpark/Yzerman Park/Taman Ganesha

Ijzermanpark dibangun pada tahun 1919 untuk menghargai seorang pegawai jawatan KA bernama Yzerman yang ikut merintis pembangunan De Techniche Hoogeschool te Bandung (THS) atau Institut Teknologi Bandung (ITB). Patungnya dari kepala hingga dada pernah disimpan di taman ini namun diganti pada tahun 1950-an dengan patung Ganesha namun patung masih bisa dilihat di gedung rektorat ITB. Taman ini jika dilihat dari atas akan terlihat seperti huruf 'y' sebagai inisial dari Yzerman. Selain itu plakat-plakat tentang nama serta ketinggian gunung, dapat terlihat di tembok batu yang memisahkan bagian depan taman dengan taman itu sendiri.

Taman dirancang secara estetis fungsinya tidak hanya menyerap polusi kota saja tetapi keindahan untuk memberi kesegaran di antara rutinitas keseharian. Setelah lelah belajar dan bekerja, bolehlah pergi ke taman bersama keluarga atau teman sambil menikmati keindahan panorama gunung yang bisa dilihat dari Ijzermanpark. Walaupun sudah tidak bisa melihat gunung, taman ini masih digunakan warga sekitar juga mahasiswa ITB untuk berkumpul, mengerjakan tugas, atau sekedar berdiskusi.

Dalam taman selalu terdapat dua elemen yaitu bidang lunak seperti rumput dan pohon serta bidang keras seperti kolam serta jalan setapak bahkan selokan kecil yang mungkin sudah dipikirkan saat pembangunan taman ini. Berada di tanah dengan level yang lebih rendah, taman ini akan dipenuhi genangan air saat hujan sehingga dua buah selokan pernah dibangun untuk menanggulangi hal tersebut. Namun ketidaan selokan di Ijzermanpark sekarang mengakibatkan genangan serta tumpukan sampah yang terbawa arus air serta efek becek setelahnya.

Tepat di depan Ijzermanpark terdapat kampus ITB yang mengadaptasi kampus bergaya Amerika yaitu adanya taman-taman di dalam kampus dengan fungsi sebagai ruang interaksi. Kampus yang dirancang Henry Maclaine Pont (1879-1955) ini dibangun untuk mencetak para ahli teknik dan arsitektur yang mengerti kondisi lingkungan Hindia Belanda. Maclaine Pont mengawinkan arsitektur lokal dengan gaya modern yaitu ia memasukkan gaya Minangkabau pada atapnya yang bisa dilihat di bangunan utama kampus ITB. Keputusannya ini sempat dikritik karena Minangkabau dirasa tidak pas di lingkungan Sunda. Namun Manclaine Pont memiliki alasan bahwa Sumatera merupakan bagian dari Sunda Besar (Sumatera, Jawa, dan Bali)

Gaya Busur Berikat Cincin

Arsitek yang dilahirkan di Batavia ini juga memasukkan unsur candi yang bisa dilihat di tangga bangunan di ITB yang terbuat dari batu candi. Selain itu, ia juga tidak memakai pilar dalam bangunan tetapi kayu untuk memaksimalkan ruang (terlihat seperti gambar di atas). Dengan gaya busur berikat cincin, Manclaine Pont menghadirkan gaya arsitektur dengan teknologi tercanggih kala itu.


Lanjut ke arah PDAM Badak Singa, di sini pernah terdapat sebuah lapangan luas yang dijadikan tempat latihan sepakbola. Namun aktivitas tersebut dipindahkan ke Gasibu yang merupakan singkatan dari Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara. Warga mungkin mengira bahwa Gasibu berasal dari kata Gazebo yang berarti bangunan kecil dengan atap yang dipakai beristirahat.

SMAK Dago dari arah belakang

Sebagai informasi tambahan, dekat dari PDAM terdapat sebuah sekolah bernama SMAK Dago yang sempat heboh sekitar satu tahun yang lalu karena ada sengketa lahan. Sekolah Kristen ini memiliki catatan sejarah panjang. Dengan halaman luas juga bangunan yang tampak tidak terurus serta menyeramkan jika dilihat dari luar ini dikenal sebagai Lyceum. Awalnya merupakan villa milik seorang pengusaha Cina kemudian beralih fungsi menjadi sekolah Christelijk Lyceum di awal abad 20. Sekolah ini juga pernah dipakai sebagai rumah sakit darurat untuk Sekutu.

Lanjut ke taman lainnya yaitu taman yang dikenal sebagai Taman Flexi. Taman ini berada di tengah-tengah pemukiman orang Eropa kala itu. Selain sebagai tempat berinteraksi, taman ini juga berfungsi sebagai penunjung kesehatan. Namun taman yang dikelilingi pagar ini menjadi bulan-bulanan aksi vandalisme seperti coret-moret, sampah yang dibuang sembarangan di selokan sekitar taman, serta pecahan kaca minuman keras yang bisa dilihat di trotoar di sekelilingnya.

Taman, dengan segala fungsinya, harus ditempatkan secara tepat. Taman-taman dilalui kanal-kanal yang mengalirkan air yang berfungsi untuk menyuburkan tanaman yang ada di atasnya. Kanal yang dibuat Martanegara bisa dilihat dengan jelas di dekat Kebon Bibit--tepat di sebelah gedung rektorat ITB juga Taman Lansia yang berada dekat Gedung Sate. Kanal tersebut mengalirkan air dari Cikapundung hingga Lengkong Tengah. Selain itu terdapat kanal lain yang mengalirkan air dari Cikapundung - tengah kota Bandung - Cikapundung Tua (daerah Gatot Subroto).

Taman Flexi

Brandgang/Branghang

Tidak hanya mengenai kisah taman, di sini juga Ridwan Hutagalung menjelaskan mengenai bangunan yang ada di kota Bandung juga brandgang atau branghang. Brandgang merupakan saluran air yang berada di antara bangunan. Brandgang bisa dilihat di Gempol dan dekat foto studio Jonas serta dekat RM. Sambara. Brandgang berfungsi sebagai tempat evakuasi kebakaran. Oleh karena itu dilarang membangunan permanen dan semi permanen di atasnya. Berbeda dengan gang, brandgang tidak memiliki nama jalan.

Taman, dalam KBBI, diartikan sebagai kebun yang ditanami dengan bunga-bunga dan lainnya (tempat bersenang-senang). Namun taman yang ada di Bandung ini umumnya dipagar (bahkan ada yang dipagar tinggi dan dikunci sehingga tidak dapat dipakai untuk bersenang-senang) membuat fungsi taman sebagai ruang publik menjadi berjarak dengan publik itu sendiri dengan alasan agar taman tidak dirusak atau tidak dipakai tidur gelandangan. Padahal taman (selain alasan polusi dan kesehatan) dibutuhkan agar warga bisa rehat sejenak--menjauhkan diri dari rutinitas keseharian atau berdiskusi tentang pentingnya taman itu sendiri barang sebentar saja.


Comments

Asep said…
Mengapa taman yang di Jl. Rangga Gading disebut Taman Flexi?
ki helmy said…
Sayang sekali foto-foto nya ga muncul ya teh??
ki helmy said…
sayang foto fotonya ga nampak ya teh? mengurangi imajinasi waktu membacanya
Nia Janiar said…
Waduh, saya juga ga ngerti deh kenapa ini foto-fotonya menghilang..
Anonymous said…
Boleh tanya ga? Artikelnya bagus. Sumbernya dari mana? Terimakasih.
Nia Janiar said…
Sumber buku bacaannya bisa ditanya ke Komunitas Aleut. Hubungi aja via Twitter-nya @KomunitasAleut

Popular Posts