Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2012

Di Balik Pabrik Kopi Aroma

Dalam rangka bertugas meliput, saya datang ke Aroma Factory and Coffee Shop alias Kopi Aroma. Sebetulnya sudah dari dulu ingin datang ke tempat ini karena sepupu saya bercita-cita ingin membuat kedai kopi, ingin mengajak seorang teman yang dulunya bekerja sebagai barista kedai kopi ternama, dan tentunya saya sendiri ingin tahu apa di balik toko kopi yang telah berdiri dari tahun 1930 ini.

Maka datanglah saya ke sebuah toko tua yang letaknya tidak jauh dari Pasar Baru. Di sekitar toko terdapat ruko-ruko yang sebagian besar menjual alat elektronik serta perlengkapan otomotif yang dijual di atas trotoar. Toko ini tepat berada di pertigaan Jalan Banceuy. Bentuk tokonya lengkung, mengingatkan pada Vila Isola yang ada di Jalan Setiabudi.

Toko yang kecil itu dipenuhi oleh pembeli yang sebagai besar pria dewasa. Ada yang membeli satuan dan ada yang membeli berbungkus-bungkus kopi. Di ruang depan (toko) dan ruang tengah (tempat menimbang dan membungkus kopi) terdapat tiga orang pria yang sibuk…

Dialog

Kemarin-kemarin ini saya baca bukunya Reda Gaudiamo. Buku yang berjudul Bisik-Bisik ini berisi tentang keseharian yang disampaikan dalam format dialog dan sangat minim narasi. Format seperti ini, menurut Sapardi yang menulis di kata pengantarnya, membatasi pembaca membayangkan keadaan/setting di setiap cerita (kalau tidak salah). Tapi menurut saya justru tidak karena dengan ucapan yang disampaikan lewat dialog, pembaca jadi menebak-nebak setting serta karakter setiap tokoh yang artinya proses membayangkan menjadi lebih luas.

Ini adalah salah satu kutipan yang paling saya sukai dalam salah satu cerita berjudul "Kawin" karena menurut saya lemparan pernyataan kedua tokohnya begitu pas serta logika obrolannya jalan:

...
"Umurmu ... berapa sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Masih muda sebetulnya."
"Tapi semua temanku sudah kawin sekarang."
"Kalau teman-temanmu masuk selokan, kau juga buru-buru terjun menemani mereka?"
"Kak!"

We Need To Talk About Kevin

We Need To Talk About Kevin adalah film yang disturbing. Bagaimana tidak, pada adegan pertama sudah disajikan pesta perang tomat (di Spanyol) dengan warna merah menutupi seluruh tubuh lalu sebuah rumah yang penuh dengan cat merah dan seorang wanita bernama Eva dengan penampilan kusut dan roman muka yang selalu cemas. Selain itu kelebatan masa lalu dengan gambar samar-samar juga mengiring penonton secara intens menuju cerita utama.

Berkisah tentang Eva, seorang ibu yang mengacuhkan dan tampak tidak menginginkan anaknya bernama Kevin. Saat Kevin bayi dan menangis, Eva hanya melihat Kevin tanpa berusaha mendiamkan atau menggendongnya. Bahkan ia pernah mendekatkan Kevin pada seorang pegawai yang sedang mengebor aspal untuk menelan suara tangis anaknya. Saat Kevin berkembang, Eva mencoba untuk mendekatkan diri pada anak laki-lakinya namun Kevin menjadi anak yang tidak responsif, membalas perkataan-perkataan dengan agresif, dan memandang dengan pandangan benci kepada ibunya. Ia seringkali s…

Sejarah Bioskop di Bandung

Tulisan oleh Nia Janiar
Foto oleh Ali Hanifa

Sebelum dunia perbioskopan dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan besar yang melebur di pusat perbelanjaan seperti sekarang, Bandung pernah memiliki bioskop yang menjamur dari sekitar awal 1900an hingga 1970an. Bioskop-bioskop itu berdiri dalam gedung-gedung yang terpisah dari pertokoan. Apa saja bioskop yang pernah hadir dan menjadi bagian sejarah pemutaran film di Bandung? Perjalanan bersama Komunitas Aleut! (18/3) dituliskan berdasarkan urutan rute perjalanan.

Gedung tua yang tidak terawat dan tampak menyeramkan menjadi gedung pertama yang merupakan saksi sejarah bioskop di Bandung. Gedung ini adalah gedung Panti Karya yang berada di Jalan Merdeka, tepatnya di depan mall Bandung Indah Plaza dan di belakang Dunkin Donuts. Gedung yang semula dimiliki PJKA ini diganti fungsinya sebagai bioskop karena pemutaran film sedang marak kala itu. Pada saat itu, Panti Karya kerap kali dikunjungi oleh anak sekolah, misalnya pelajar SD Ciujung yang terl…

Parasit

Dari semua ide tulisan yang akan dikerjakan tapi tidak kesampaian, saya akan menulis tentang parasit. Dalam KBBI, parasit adalah (1) benalu; pasilan; (2) organisme yg hidup dan mengisap makanan dr organisme lain yg ditempelinya; (3) ki orang yg hidupnya menjadi beban (membebani) orang lain. Karena saya tidak akan membahas benalu atau organisme, saya akan membahas poin ketiga.

Barusan salah satu teman saya datang ke saya untuk bercerita tentang perseteruan yang terjadi di keluarganya antara ia dan kakak iparnya. Katanya kakak iparnya ini menyela pembicaraan teman saya dengan kakaknya, ikut campur dalam sebuah percakapan yang tidak ia dengar seluruhnya, terjadi salah paham, lalu kakak iparnya berbicara kasar kepada teman saya semacam 'goblok betul!'

Jangan lupa pakai zoom in dan zoom out atau latar belakang lagu yang intens untuk mendramatisir keadaan.

Teman saya ini orangnya tidak reaktif dan tidak mudah berkonflik. Untuk menjaga perasaan kakaknya, teman saya memutuskan untuk m…

Mengeliminasi Teman

Kemarin malam, saat saya melihat daftar kontak di telepon genggam saya, saya merasa isinya terlalu banyak oleh orang-orang yang saya kenal dalam sekali atau dua kali pertemuan juga orang-orang yang saya butuhkan dalam satu atau dua kali kesempatan. Daftar kontak saya penuh, awut-awutan, dan terasa tidak dekat bagi empunya. Lalu saya berpikir untuk menghapus satu per satu orang-orang yang sekiranya belum saya butuhkan atau belum membutuhkan saya dalam waktu dekat ini.

Daftar kontak berantakan ketika versi terbarunya terhapus begitu saja saat meng-upgrade lalu saya restore kontak satu tahun yang lalu. Nama-nama yang tidak penting mulai muncul lagi--seperti kenangan-kenangan yang berkelebat muncul tidak beraturan sebelum tidur. Kemarin itu saya seperti masuk ke dalam mesin waktu, meluncur ke masa lalu.

Setiap kali melihat nama lalu menghapusnya, saya merasa sedang membuka buku harian. Oh, ada dr. Euis--dosen neurologi saat saya kuliah--yang pernah memberi nilai 1.5 skala 4 di UTS Neurolo…