Dialog

Kemarin-kemarin ini saya baca bukunya Reda Gaudiamo. Buku yang berjudul Bisik-Bisik ini berisi tentang keseharian yang disampaikan dalam format dialog dan sangat minim narasi. Format seperti ini, menurut Sapardi yang menulis di kata pengantarnya, membatasi pembaca membayangkan keadaan/setting di setiap cerita (kalau tidak salah). Tapi menurut saya justru tidak karena dengan ucapan yang disampaikan lewat dialog, pembaca jadi menebak-nebak setting serta karakter setiap tokoh yang artinya proses membayangkan menjadi lebih luas.

Ini adalah salah satu kutipan yang paling saya sukai dalam salah satu cerita berjudul "Kawin" karena menurut saya lemparan pernyataan kedua tokohnya begitu pas serta logika obrolannya jalan:

...

"Umurmu ... berapa sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Masih muda sebetulnya."
"Tapi semua temanku sudah kawin sekarang."
"Kalau teman-temanmu masuk selokan, kau juga buru-buru terjun menemani mereka?"
"Kak!"
"Habis masak kawin karena mengikuti teman. Kau sendiri, memang mau kawin atau tidak?"
"Mau, Kak."
"Kenapa kawin?"
"Daripada dosa, Kak!"
"Kuhajar, kau!"
"Kak!"
"Dengar, kawin itu bukan soal dosa atau tidak dosa. Kawin itu karena kau sudah menemukan orang yang tepat. Karena kau cinta padanya!"

...

"Hei, aku tidak mengada-ada. Kau ingat temanmu, si Basri?"
"Ya, ya, aku ingat."
"Kapan dia kawin? Enam bulan lalu. Kapan cerai dia? Minggu lalu. Macam mana, tuh?"
"Aku tak akan begitu, Kak. Kami tak akan begitu. Janji."
"Jangan janji padaku. Janji pada dirimu. Tetapi sebelum kau bisa penuhi janji itu, kau harus tahu, dengan siapa kau mengikatkan diri."
"Dia gadis baik-baik."
"Aku tidak bilang apa-apa tentang dia."
"Khawatir aku, jangan-jangan Kakak tak suka."
"Aku bukan tak suka. Aku hanya tak senang melihat kalian terburu-buru kawin hanya dengan omongan orang, desakan orang tua, takut dosa. Aku tak tahu apa kata ahli agama, tetapi aku rasa, akan lebih berdosa lagi kalian kalau menikah terburu-buru dan tergesa-gesa bercerai hanya karena tak saling kenal, tak saling cinta."
"Kak, kalau orang tuanya tetap tak mau perkawinan ditunda, bagaimana?"
"Ya, tidak usah kawin!"
"Ampun!"
"Perempuan itu banyak! Melimpah-limpah. Bukan cuma dia seorang di dunia ini."
"Tapi aku ingin kawin. Aku ingin punya istri."
"Punya istri?"
"Lalu apa?"
"Bukan mau punya istri, tapi mau jadi suami."
"Apa bedanya?"
"Banyak."
"Kalau jadi suami, kau jadi pasangannya."
"Kalau punya?"
"Kau jadikan dia barang, milik."

...

Pertemuan Reading Lights Writer's Circle kemarin pun membahas tentang dialog. Dialog harus tetap efektif dalam menyampaikan pesan. Dialog menjadi format yang pas untuk membantu menguatkan karakter tokoh dan bahkan menyampaikan pendapat pribadi penulisnya itu sendiri. Dengan berpura-pura sebagai tokoh.

Comments

Andika said…
"Dengan berpura-pura sebagai tokoh."

Hahaha.
Nia Janiar said…
Apaa luuu :p
Neni said…
hahhahaaa...kalian! :)

Jadi kapan, Nia? #loh?
Nia Janiar said…
Tettoott, wrong question! :D

Popular Posts