Di Balik Pabrik Kopi Aroma

Dalam rangka bertugas meliput, saya datang ke Aroma Factory and Coffee Shop alias Kopi Aroma. Sebetulnya sudah dari dulu ingin datang ke tempat ini karena sepupu saya bercita-cita ingin membuat kedai kopi, ingin mengajak seorang teman yang dulunya bekerja sebagai barista kedai kopi ternama, dan tentunya saya sendiri ingin tahu apa di balik toko kopi yang telah berdiri dari tahun 1930 ini.

Maka datanglah saya ke sebuah toko tua yang letaknya tidak jauh dari Pasar Baru. Di sekitar toko terdapat ruko-ruko yang sebagian besar menjual alat elektronik serta perlengkapan otomotif yang dijual di atas trotoar. Toko ini tepat berada di pertigaan Jalan Banceuy. Bentuk tokonya lengkung, mengingatkan pada Vila Isola yang ada di Jalan Setiabudi.

Toko yang kecil itu dipenuhi oleh pembeli yang sebagai besar pria dewasa. Ada yang membeli satuan dan ada yang membeli berbungkus-bungkus kopi. Di ruang depan (toko) dan ruang tengah (tempat menimbang dan membungkus kopi) terdapat tiga orang pria yang sibuk menimbang dan melayani pembeli. Sementara di belakang mereka, ada seorang wanita yang bernama Ibu Maria. Ibu Maria ini yang bertugas sebagai istri pemiliki, kasir, pengawas, sekaligus orang yang akan mengangkat telepon jika pengunjung mau melakukan reservasi masuk ke dalam pabrik.

Sejujurnya saya tidak melakukan reservasi padahal saya tahu Pak Widya--pemiliki Kopi Aroma--tidak akan ada terus setiap saat di tempat. Jadi saya agak-agak gambling. Saya menghampiri salah satu pegawai dan Bu Maria untuk mengutarakan niat saya berkunjung. Akhirnya saya dipertemukan dengan Pak Widya yang saat itu mengenakan seragam cokelat tua, sama seperti pegawai lainnya. Lalu dengan ramahnya, ia menyuruh saya masuk dan menggiring saya masuk ke dalam pabrik.

Pak Widya di duduk antara tumpukan kopinya, setelah memanggang kopi selama dua jam.

Isi pabriknya merupakan tumpukan karung goni, mesin penggiling kopi, serta mesin penggarangan kopi yang sudah tua dan masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar utamanya. Di dekat mesin penggarangan, ada sebuah ruang besar yang penuh dengan tumpukan karung goni berwarna cokelat dan putih, menumpuk hingga langit-langit yang berdebu sekaligus menjadi lantai yang diinjak-injak siapapun yang melewatinya. Ketika saya mau masuk, Pak Widya mengingatkan untuk berhati-hati karena licin.

Biji-biji kopi yang berasal dari pegunungan itu rupanya disimpan dalam gudang selama 5 tahun untuk kopi robusta dan 8 tahun untuk kopi arabika. Penyimpanan itu ditujukan agar kadar asam dan kafeinnya berkurang. Selain itu dalam pembuatannya pun tidak dipakai zat kimia sehingga Kopi Aroma ini sehat adanya. Kalau dipegang/dipukul karung goninya, akan terasa perbedaan kepadatan kopi. Semakin lama penyimpanannya, semakin terasa padat dan keras.

Saya pikir perbedaan karung goni putih dan cokelat itu menandakan perbedaan kopi robusta dan kopi arabika, namun ternyata tidak ada perbedaan karena isinya sama saja. Perbedaan warna karung terjadi karena karung goni yang terbuat dari serat sudah jarang diproduksi tetapi diganti dengan plastik buatan pabrik yang lebih rapat namun sirkulasi udaranya tidak baik. "Kalau ciptaan Tuhan sudah ditiru oleh manusia, pasti hasilnya tidak baik," ujar Pak Widya.

Menurut Pak Widya, kopinya murah karena tidak dilakukan orang berdasi Rp. 12.500 untuk arabika per 250 gram, Rp. 17.500 untuk robusta per 230 gram), tidak berniat membuat Kopi Aroma lebih besar dari ini karena ia tahu akan kapasitasnya dan tidak mau membuat kualitas kopinya menurun. Dalam obrolan, ia sering menyelipkan tentang pentingnya berusaha dengan jujur karena manusia hanya akan membawa amal baik saat mati nanti. Selain itu juga ia menghindari pemborongan/pembelian besar-besaran oleh satu orang konsumen dengan maksud agar semua orang bisa kebagian membeli kopinya. Konsep berbagi ini rupanya tidak ditanamkan dalam berbisnis saja, Pak Widya memiliki anak asuh yang harus ia urus saat di hari libur. Oleh karena itu, Kopi Aroma tutup saat libur atau Pak Widya tidak ada di toko di saat tertentu.

Pria yang merupakan generasi kedua yang mengoperasikan Kopi Aroma ini selalu terbuka jika ada pengunjung yang mau datang ke pabrik kopinya. Namun karena tempat yang sempit, sebaiknya datang dengan jumlah maksimal 15 orang dan lakukan reservasi sebelumnya. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang Kopi Aroma, saya yakin pengunjung akan mendapatkan kesan lebih dari keramahtamahan pemilik serta makna hidup dari sudut pandangnya.


---
Kopi Aroma bisa dikunjungi di Jl. Banceuy No. 51 Bandung dengan nomer telepon 022 4230473.

Comments

Popular Posts