Mengeliminasi Teman

Kemarin malam, saat saya melihat daftar kontak di telepon genggam saya, saya merasa isinya terlalu banyak oleh orang-orang yang saya kenal dalam sekali atau dua kali pertemuan juga orang-orang yang saya butuhkan dalam satu atau dua kali kesempatan. Daftar kontak saya penuh, awut-awutan, dan terasa tidak dekat bagi empunya. Lalu saya berpikir untuk menghapus satu per satu orang-orang yang sekiranya belum saya butuhkan atau belum membutuhkan saya dalam waktu dekat ini.

Daftar kontak berantakan ketika versi terbarunya terhapus begitu saja saat meng-upgrade lalu saya restore kontak satu tahun yang lalu. Nama-nama yang tidak penting mulai muncul lagi--seperti kenangan-kenangan yang berkelebat muncul tidak beraturan sebelum tidur. Kemarin itu saya seperti masuk ke dalam mesin waktu, meluncur ke masa lalu.

Setiap kali melihat nama lalu menghapusnya, saya merasa sedang membuka buku harian. Oh, ada dr. Euis--dosen neurologi saat saya kuliah--yang pernah memberi nilai 1.5 skala 4 di UTS Neurologi. Kalau diabjadkan, mungkin nilainya D atau E. Saya teringat betapa susah payahnya saya menghapal bagian otak serta kegunaannya, penyaluran informasi melalui dendrit, nukleus, dan seterusnya. Lalu setelah shock dapat nilai seburuk itu, saya menghafal sekuat tenaga tentang neurologi sampai rasanya pusing, mual, dan ingin muntah. Apalagi beliau bilang bahwa nilai di transkrip nilai itu merupakan rata-rata dari UTS dan UAS. Mengingat hal tersebut, saya memberi standar pada diri bahwa saya harus dapat A di UAS agar hasilnya tidak buruk-buruk amat. Lalu pada akhirnya, saya mendapatkan nilai B di transkrip nilai.

Atau juga ada Bapak N, seperti dosen kemahasiswaan, yang saat itu intens berhubungan dengan beliau karena saya dan teman-teman mau mengadakan acara di kampus. Karena pada saat itu saya ketua panitia, maka dengan tentengan proposal serta degup jantung yang berdebar kencang, saya harus menghadapnya. Selain itu ada Dra. S yang tangannya suka dicium oleh mahasiswanya sehingga membikin saya berada di situasi monyet dimana merasa berkewajiban untuk mencium tangannya juga. Selain itu beliau sering mengkomentari jika mahasiswanya berpakaian tidak rapi.

Maka saya menghapus kontak saat kuliah dan tempat kerja pertama. Saya menyisakan beberapa nomer yang saya pikir saya masih membutuhkannya. Bukan untuk memutuskan hubungan (karena sudah saya back up dan bisa ditengok lagi sewaktu-waktu) tapi sebagai bagian dari proses menata dan mengevaluasi kembali hidup saya ini. Hal seperti ini pernah saya lakukan dimana saya menghapus id YM saya kemudian menggantinya dengan yang baru.

Agak berlebihan tapi sepertinya semua orang punya cara tersendiri. 

Comments

Sundea said…
Ini kan judulnya "Mengeliminasi Teman". Jadi lu temenan, ya, sama dosen-dosen lu itu ? Hehehe ...

Arrange waktu jalan2 yok, sama Indra sama Andika. Kami jangan dieliminasi, ya, Ni *grin*
Nia Janiar said…
Ih, akrab banget gue sama dosen-dosen :p #sokakrab

Hayuuu, Deaaa .. Gue fleksibel dan April gue mulai ke Jakarta lagi. Oh tentunya dong kalian tidak dieliminasi. :)
Anonymous said…
Bapak N??ato bapak M??hehe

masih nebah-nebak si bapak N!
hahaah

Tiwi
Nia Janiar said…
I'll let you know in more private room. Hehe..

Popular Posts