Skip to main content

Cupcake di 90Gourmet

Cupcake di 90Gourmet

Okay, jadi ini kisah agak kampring punya. Tadi, untuk kali pertama, saya ke 90Gourmet yang ada di Jl. R. E. Martadinata padahal restoran ini deket banget dari rumah. Alasan penundaan itu terjadi karena dua alasan. Pertama, 90Gourmet terlihat besar dan mewah dari luar sehingga diasumsikan harganya pasti mahal. Kedua, ada asalan yang tidak bisa dijelaskan seperti semakin dekat sebuah tempat menarik dari tempat tinggal, konon kecenderungan untuk datang semakin kecil.

Sebelum pergi ke sana, saya melakukan aksi jelajah internet. Memang harga makanannya bervariasi. Selain makanan barat seperti pizza (juga ada alcoholic beverages), di sini juga ada makanan Jepang seperti sushi. Namun sungguhlah saya tidak membeli semua itu karena alasan ketiga saya datang ke sana adalah ingin mencoba red velvet yang disarankan teman. Penyaranan ini datang ketika saya sibuk bertanya tentang tempat beli cupcake yang enak.

Saat saya datang, saya disambut dengan ramah dengan pegawainya. Dari pintu masuk pun sudah terlihat sebuah tempat kecil beserta meja dan kursi sebagai cafe kecil menjual cupcake di sebelah kanan. Saya bertanya apa cupcake yang paling direkomendasikan dan pegawainya bilang red velvet. Aha! Gayung bersambit! Maka bersegeralah saya membelinya setelah melihat koleksi-koleksi lain yang membikin tergiur.

Sebelumnya saya sudah coba merek lain (ada di tulisan sebelumnya), tapi icing red velvet ini enak sekali. Bukan mentega yang tidak ada rasa, tapi seperti isi kue soes (fla). Topping-nya memang tidak segila topping yang saya tabur di cupcake sebelumnya dan vanilanya juga tidak terlalu terasa, tapi tetap enak dan adonannya terasa penuh. Dan tentunya membuat saya penasaran dengan varian rasa lainnya sambil minum, duduk-duduk, mengobrol bersama teman, dan memandangi langit sore kota Bandung.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…