Memaknai Rumah

Sebuah jalan selebar 1.5 meter mengiringi saya sampai tempat yang akan saya tinggali entah berapa lama. Di kiri dan kanan jalan terdapat rumah-rumah yang berdiri rapat dan saling himpit dengan tetangganya. Kerapatan bukan hanya masalah kiri kanan, tetapi pintu depan dengan batas jalan yang kadang hanya menyisakan sebaris lantai selebar sekitar 50 cm saja.

Tiba-tiba saya terbayang dengan rumah teman saya. Saat ia membangun rumahnya, saya ingat bagaimana ia mendiskusikan dan menambahkan beberapa fungsi untuk mengisi ruang luas di atas tanahnya. Ia menyediakan tempat untuk halaman depan dan belakang serta garasi yang bisa membuat hingga dua mobil. Saya begitu senang ketika rumahnya jadi, turut mengagumi keindahannya, dan menikmati atmosfirnya.

Bayangan saya terasa jauh dan asing ketika saya melihat rumah-rumah rapat ini. Mereka tidak punya halaman. Kalaupun ada ruang hijau, hanya terisi dengan satu pot tumbuhan. Selain itu mereka punya motor yang diparkir mepet ke tembok rumah. Tidak ada halaman, tidak ada pagar, tidak ada ruang tamu. Jika pintunya dibuka, maka langsung menghadap kamar dan kasur. Orang-orang bisa mengintip dari jendela yang tingginya tepat berada di sisi jalan. Tirai yang tipis juga tidak berarti apa-apa semenjak segala kegiatan di dalamnya bisa diperhatikan.

Kosan saya termasuk beruntung karena ia memiliki halaman yang bisa memarkir 4 motor, tanahnya cukup luas untuk mengembangkan sebuah pohon besar, memiliki pagar, ruangan-ruangan di dalamnya pun luas. Selain itu juga ia memiliki dua lantai, sedikit halaman belakang, dan lainnya. Rumah yang saya diami sekarang ini baik ketimbang rumah-rumah yang ada di bagian depan jalan.

Ini kali pertama saya tinggal di lingkungan padat dimana orang-orang bisa berjalan dan bercengkrama dengan menggunakan piyama, saling mengobrol dan tiduran di teras dengan tetangga. Mungkin mereka pendatang--seperti orang yang punya tempat saya sekarang ini, membangun rumah lalu berkembang biak di sini. Memadati daerah luas yang kini terasa sempit. Namun ini adalah rumah mereka.

Saat berangkat ke kantor dan melalui jalan kecil ini, pikiran saya melayang ke rumah yang ada di Bandung. Saya rindu rumah: bangunannya dan lingkungan psikologisnya yang membikin saya nyaman apapun keadaannya. Ketika pikiran sudah kembali ke raga, saya jadi bertanya-tanya, "Mau sampai kapan saya di sini?" Setahun, dua tahun, ... bertahun-tahun?

Saya bukan orang perantuan seperti teman kantor saya atau teman-teman lainnya yang sudah biasa hidup di kota lain. Akar saya masih beranak-pinak di tempat saya berasal walau kini setiap serabutnya mulai terasa tercabut padahal baru 11 hari. Namun saya berusaha memaknainya, saya berusaha menikmatinya sebagai pengalaman pertama dari ketercerabutan. Sebagai bentuk eksplorasi untuk menemukan .. apapun.

Lagipula bukankah semua orang harus berpisah dari inang yang selama ini memberi makan? Karena lama kelamaan mereka juga harus menjadi inang yang memberi makan yang membangun rumah fisik dan psikologis untuk orang-orang yang dinaunginya.

Rumah. Saya ulang-ulang hingga tidak ada artinya.

Comments

Popular Posts