Pewarasan Standar Sinetron dan Lagu Murung

Saat menonton televisi dari pukul 6 sore hingga tengah malam, pasti akan ditemukan acara rutin yang diselenggarakan stasiun televisi yaitu sinetron yang ditayangkan hingga ratusan episode. Dari beragam sinetron yang ditayangkan, rata-rata memiliki kesamaan tema yaitu cinta, plot berkisar tentang dua orang yang tidak bersatu namun cerita akan berakhir manis, karakter selalu ada antagonis yang menghalalkan segala cara dan protagonis yang selalu menangis, twist cerita bahwa ada dua anak yang tertukar atau hilang ingatan, dan setting berkisar rumah atau kantor.

Saat mendengar radio juga akan ditemukan lagu-lagu yang berpusat pada tema yang sama, mengenai sebuah perasaan cinta yang hanya dibedakan berdasarkan variasinya: cinta segitiga, bertepuk sebelah tangan, ditinggalkan, dan lainnya. Lagu diiringi dengan musik melankolis, mendayu-dayu, serta nada yang melintat melintut ala dangdut.

Lalu orang-orang (termasuk saya) akan mengeluh betapa buruknya produk media (terutama elektronik), tidak mendidik, dan mencoba mengkritisi bahwa ada kekurangan di sini dan di situ. Mencoba menganalisis "apakah media yang membentuk selera masyarakat atau media yang mengakomodasi selera masyarakat?" Biasanya hasil analisa berupa daftar kekurangan dari produk-produk tersebut.

Namun standar apa yang menjadi pegangan untuk orang-orang yang berpendapat? Apakah mereka mengkritisi sinetron di Indonesia ini dengan standar sinetron luar negeri dengan dialog yang cerdas? Apakah mereka mengkritisi musik pop dengan standar musik jazz atau klasik? Bukankah memakai standar yang berbeda pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang negatif saja? Karena jelas, tanpa dikritisi pun, sudah terlihat bocelnya produk-produk di atas secara kasat mata.

Contohnya begini: Jika mau menetapkan target belajar seorang anak yang berkebutuhan khusus (disleksia) dengan menggunakan standar anak normal karena nanti akan keblinger. Bagaimana tidak, anak yang kesulitan mengenal huruf dan membaca karena pengaruh neurotransmitter itu dipaksa untuk bisa baca dan paham layaknya anak normal. Aktivitas otaknya saja berbeda! Atau ketika anak autis yang dipaksa bisa berinteraksi dengan lingkungannya. Namanya juga autis, dia pasti memiliki gangguan komunikasi dan interaksi.

Pun dengan lagu murung atau sinetron yang tidak masuk akal. Kalau melihatnya dari standar yang tinggi, siapa yang tidak waras? Jelas yang mencoba menganalisis hal tersebut. Kalau sudah tidak termasuk target market mereka, ya sudah. Kalau tahu tujuan mereka hanya menghibur (tanpa perlu proses berpikir), ya tidak perlu dikritisi tentang perkembangan karakter atau plot yang tidak masuk akal. Jika sudah tahu berbeda, mengapa masih dibandingkan juga? Bandingkan sesuai dengan standarnya. Jika mau mengkritisi sinetron A, bandingkan dengan lini sinetron lainnya. Jika mau mengkritis genre drama, bandingkan dengan genre yang sama.

Atau kalau mau pakai kacamata kuda: tidak usah menonton atau mendengarkan.

Comments

Sundea said…
Gue setuju, Ni.

Kita nggak bisa ngelarang Chiki-chikian gopek dijual di warung. Tapi kita bisa nentuin seberapa banyak jajan gituan dan seberapa banyak makan yang sehat ;)
Nia Janiar said…
Setuju banget! :)

Popular Posts