Realita Dalam The Raid

"Aduh, gue mending nonton film horor deh!" ujar salah seorang wanita yang duduk di belakang saya. Saat itu di layar sedang ditampilkan tentang sekelompok polisi khusus yang berada di dalam apartemen/rumah susun kumuh dan terjebak bersama para penghuni rusun yang siap membunuh. Polisi khusus yang berbekal pistol itu harus melawan penduduk setempat yang juga membawa pistol, golok dan pedang panjang, dan bela diri dengan tangan kosong.

Diam-diam saya menyetujui ucapan wanita itu. Karena sepanjang film, saya berpegangan pada kerah kemeja, menenggelamkan setengah muka ke dalamnya, mengaduh sama Rulli--saudara saya yang mengajak saya nonton The Raid--sambil bertanya dalam hati, "Kenapa gue nonton film ini?" lalu melihat jam, lalu menyadari bahwa saya baru 10 menit ada di dalam bioskop.

Ini bukan pertama kalinya saya nonton film bunuh-bunuhan dan berdarah-darah. Sebagai contoh, walaupun linu, saya menikmati Kill Bill. Tapi The Raid ini lebiiih dari film-film yang pernah saya tonton. Mengapa? Karena film ini begitu dekat dengan saya, pemirsa! Bagaimana tidak: setting di Indonesia, muka tokohnya begitu sejatinya Indonesia (hidung bangir, kulit sawo matang, kulit berminyak, memiliki beragam suku), umpatannya dipakai orang Indonesia pada umumnya (bukan f*ck, son of a b*tch, *ssh*le), dan ... tabung gas elpiji! Lalu senjatanya adalah golok, saudara-saudara sebangsa setanah air. Apalagi saat salah satu musuhnya mengambil golok yang disimpan di bawah meja dan detil gesekan antara golok dan meja terdengar jelas.

Iko Uwais, yang lebih dari sekedar pemanis.

Bagian yang bikin linu tentunya saat Rama (Iko Uwais) menusuk di pangkal paha kemudian ia menggesernya hingga lutut, menancapkan leher ke gerigi bekas patahan pintu, menggorok Mad Dog dengan pecahan lampu, dan lainnya. Bagi saya, adegan berkelahi di film ini enak dilihat kok dan tidak ada sesi "canggung" (sesi saling diam, bingung, dan saling menunggu siapa yang mau mukul duluan).

Film yang durasinya kurang dari dua jam ini cukup intens adegan berkelahinya (seolah-olah penonton tidak diberi jeda untuk mengambil nafas) dan setting-nya hanya satu yaitu rumah susun. Perkembangan plot dan karakter bukanlah hal penting karena ini adalah film eksyen. Nikmati saja adegan pukul-pukulannya tanpa perlu diambil pusing kalau menemukan hal yang tidak masuk akal, nikmati saja jalan ceritanya jika menemukan dialog yang kaku. Karena film eksyen esensinya adalah untuk dinikmati, menyalurkan adrenalin, dan diteriaki bersama teman-teman.

4 comments:

Sundea said...

Kayaknya filmnya nggak gue banget, ya ... ehehehe ....

Nia Janiar said...

Haha, sangat enggak, De..

Anonymous said...

buniii, aku nonton ini kemaren ama ceu2 gia.
Beneran salut ama film ini. Membuktikan bahwa dengan cerita dan karakter yang bagus, ga masalah walau lokasi cuma sebiji atau ga ada hantu/pocong/ ato cewek seksi di dalamnya.... hehehe

Nia Janiar said...

Ieu sahaaa anu komeeennn :p