Skip to main content

Terpanggang di Bawah Matahari

Foto oleh Nia Janiar
Seorang wanita berdiri menenteng senjata di kedua tangannya. Rambutnya yang dikepang serta sebuah topi di atas kepalanya. Ia juga memakai seragam seperti tentara. Siapakah ia? Siapa yang ia lawan? Tahukah ia bahwa negara yang dipijaknya ini sekarang sudah merdeka?

Tanpa menghiraukan terik matahari yang panas, ia tidak berpindah dari tempatnya. Ke manakah ia memandang? Apakah tatapan tanpa kedip itu mengarah Hotel Aston, Hotel Kedaton, sebuah billboard iklan, dan kawasan luas yang dulunya bernama Kampung Apandi--diambil dari seorang tokoh yang berkontribusi dalam sejarah perkembangan buku di Bandung karena telah mendirikan sebuah percetakan bernama Toko Tjitak Affandi? Atau hanya membayangkan sebuah panorama Bandung yang dulu langitnya pernah berkilau karena kota ini berkobar laksana lautan api?

Instalasi di samping ini hanyalah satu dari sekian banyak yang ditujukan untuk mengenang jasa pahlawan. Bandung pernah mempunyai beberapa badan perjuangan rakyat melawan penjajah, salah satunya adalah Laskar Wanita Indonesia (Laswi) yang resmi dibentuk tanggal 12 September 1945. Para anggotanya merupakan pelajar wanita yang berasal dari sekolah menengah di Bandung. Mereka diajarkan kemampuan militer seperti menembak, membongkar pasang senjata, dan bela diri. Patung ini dibuat oleh Sunaryo (pemilik Selasar Sunaryo Art Space) dan diresmikan oleh walikota Bandung, Husein Wangsaatmaja, tanggal 10 November 1981.

Keduanya berlokasi dekat Viaduct--dekat Gedung Indonesia Menggugat dan Monumen Lokomotif Kereta Api. Patung Laswi dan Patung Tentara Pelajar terletak di atas taman kecil yang terdapat rimbunnya pohon bambu. Sayangnya, tidak ada plakat berisi penjelasan lebih lanjut tentang patung ini. Patung pria yang ada di belakangnya (Patung Tentara Pelajar) pun bernasib sama. Malah di bawah patung terdapat coretan-coretan pilox oleh tangan-tangan jahil.

Namun keduanya tetap setia berdiri dengan tegap, lengkap dengan senjata, dan memandang awas ke depan. Meski yang mereka lihat di depan hanyalah bangunan-bangunan dan langit biru yang kusut oleh kabel telepon dan meski di belakang mereka hanyalah deruan kereta api di atas rel yang beradu.



Referensi:


http://meditasisamudra.blogspot.com/2011/11/bandung-patung-dan-monumen-yang-bisu.html
http://agungsmail.wordpress.com/2010/03/21/dalam-perang-wanita-dan-pria-itu-sama/

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…