Bunga Kol Milik Harri

Satu minggu menuju pernikahannya, hampir semua orang menyelamati Harri. Bagaimana tidak, perahu yang sudah berlayar kemana-mana itu akhirnya memutuskan untuk berlabuh juga, kemudian tinggal di pesisir bersama seorang perempuan bernama Naraya. Dia bukan lagi pelaut yang sekedar mampir untuk membeli barang saja, tetapi ia memutuskan untuk menetap. Tinggal. Membangun sebuah keluarga. Mengakhiri pengalaman terombang-ambingnya.

Calon istri yang dikenali setahun belakangan ini pun tidak kalah bahagianya karena lepas sudah beban dia dari pertanyaan kapan akan dinikahi oleh orang yang akhirnya berhasil ia taklukan--Harri, si kumbang sosialita kelas menengah atas yang dikenal suka gonta-ganti perempuan. Sebuah kebanggaan akhirnya tersematkan di dadanya, seperti pramuka yang menyematkan lencananya.

Semakin mendekati hari yang dimaksud, perempuan yang berkulit kuning langsat itu semakin sibuk merawat dirinya dengan rempah-rempah yang konon merupakan ramuan rahasia cantiknya wanita tanah Pasundan. Berbeda dengan Naraya, Harri sibuk menggaruk kepala botaknya yang tidak gatal. Dalam diam, ia cemas karena obatnya belum bereaksi mengatasi masalah dan takut istrinya melihat segalanya.

Pesta digelar di bilangan Dago dengan mewah bernuansa emas yang berkilau karena kontras dengan birunya kolam renang dan latar belakang langit malam. Harri dan Naraya bersanding layaknya raja dan ratu sehari. Terutama sang ratu yang bergincu merah tak henti-hentinya mengukir sebuah senyum. Lihatlah, tamu-tamu wanita yang hilir mudik memandanginya dengan penuh rasa iri. Sementara piala yang dimenangkannya terus meringis menahan sakit di tengah kedua pahanya.

"Bisa enggak sekarang?" tanya Harri kepada istrinya. Sementara si istri sudah berbalut jaring tipis sambil duduk manis di samping tempat tidur.

"Lho, kenapa?" tanya Naraya agak tersinggung. Ia tidak ingin usahanya duduk di atas rempah-rempah yang diasapi itu tidak berguna.

"Aku enggak enak badan," jawab Harri sambil menelusup masuk ke dalam selimut dan menutup badannya hingga bahu. Naraya hanya termanggu. Setelah itu--dengan agak malu--ia berganti baju dan tidur berpunggungan dengan seseorang yang disangka akan membuat sebuah malam kebersamaan pertama ini mengesankan.

Suaminya terus menolak sampai sang istri benar-benar nekat. Hingga ia akhirnya meraba sebuah gerinjul besar yang menurutnya tidak sama dengan bentuk kelamin laki-laki yang pernah dipegangnya. Segera disingkapnya selimut tebal itu dan  lolongan panjang segera memenuhi kamar yang sudah tidak dipenuhi kembang-kembang.

"Apa itu, Har?!"

Si suami yang baru siaga itu gelagapan sambil melihat celananya yang setengah terbuka. Dilihatnya bunga kol yang bertengger di samping kelaminnya. Bulatan-bulatan kecil berkumpul membentuk sebuah jengger. Melihatnya, Naraya bergidik jijik.

"Sudah lama kamu punya ini? Kenapa gak bilang?!"

"Tiga bulan yang lalu!"

"Kamu dapet dari mana? Pasti kamu main sama cewek lain. Iya, 'kan?!" tanya Naraya sengit. Yang ditanya diam saja. Lidahnya kelu. Hanya berharap semoga bunga kolnya tidak digoreng oleh istrinya dengan kilat di matanya.


[Hasil latihan sesi menulis Reading Lights Writers' Circle tentang luka/penyakit yang memalukan.]

Comments

Sundea said…
Itu sayur kol yang nggak bisa dimakan, Ni ...
Nia Janiar said…
Hiii, iyaaa..

Popular Posts