Skip to main content

Hingar Bingar Film Bisu

Saat mendengar akan ada sebuah band rock asal Prancis yang mengiringi film bisu secara langsung di Institut Fran├žais Indonesia (IFI), saya teringat dengan sejarah film di Bandung saat zaman Hindia Belanda. Pada saat itu, di Majestic, pernah ditampilkan film hitam putih dengan iringan kelompok musik secara langsung karena teknologi belum tersedia. Nada musik yang diberikan itu sama dengan suasana yang dipertontonkan film. Saya merasa konsep itu dibawa lagi ke zaman sekarang sehingga saya bisa merasakan sensasi yang sama dengan orang-orang yang nonton di Majestic saat itu.

Filmnya berjudul Nosferatu (1922) yang merupakan film horor masterpiece karya Friedrich W. Murnau. Filmnya bercerita tentang seorang perempuan bernama Nina yang mati digigit vampire sebagai bentuk pengorbanan agar si vampire mati. Walaupun tidak ada efek berlebihan, permainan bayangan di film ini benar-benar menyeramkan. Misalnya saat si vampire akan datang, diperlihatkan bayangan vampire perlahan-lahan muncul. Berawal dari kukunya yang panjang, kepalanya yang botak, jubahnya, dan seterusnya.

Selama film ditayangkan, Serge Teyssot-Gay dan Cyril Bilbeaud, memainkan ilustrasi musik dengan segala improvisasi. Musiknya intens, dimainkan dari awal hingga akhir, namun nadanya bervariasi--dari lembut hingga keras. Saat di klimaks cerita yaitu ketika Nina digigit oleh vampire-nya, musik rock yang dimainkan Zone Libre ini semakin klimaks pula. Gebukkan drumnya semakin keras membuat degup jantung terasa lebih cepat. Belum lagi gesekan gitarnya membikin dramatis suasana.

Wah, mana pernah saya nonton film di bioskop lalu musiknya memenuhi rongga dada kemudian gambaran visual tanpa komputer itu membuat sebegini menyeramkan. Justru kesederhanaan hitam putihnya membikin lebih fokus ke ceritanya, kebisuannya membikin lebih fokus ke gerak geriknya. Walaupun tetap diiringi suara musik dan terjadi pembagian fokus antara melihat filmnya atau musisinya. Bisu tetapi hingar bingar.

Secara umum, ini adalah pengalaman baru saya. Saya beruntung bisa mendapatkannya. Bagi yang tidak lihat, untuk melihat foto-fotonya, bisa dilihat di Flickr saya. Atau bisa lihat potongan acaranya di sini:

Comments

Andika said…
Keren! Kelihatannya mengerikan! Jadi penasaran Nosferatu teh kayak gimana. Tapi pasti beda kalo nontonnya nggak diikuti live music. Kebawa mimpi, nggak?
Nia Janiar said…
Haha, enggaaa :D

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…