Jijik

Saat ia melihat mukanya, tak tahan ia itu untuk memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya masuk ke dalam mulut hingga kerongkongan. Bergegaslah isi perutnya ke luar. Dimuntahkan tepat di kaki orang tersebut. Bau asam segera tercium. Cairan kental merembes di sepatu canvasnya.

"Kamu menjijikan. Tidak pernah aku se-menyesal ini bertemu dengan satu orang. Kamu sampah. Kamu lemah. Yang bisa kamu lakukan hanya bersumpah serapah tapi kamu tidak bisa apa-apa, teramat banyak mengeluh tapi tidak pernah ada solusi. Belum lagi caramu memperlakukan orang lain yang semena-mena karena kamu sendiri enggan disakiti terlebih dahulu. Kamu membutuhkan keterjatuhan orang lain agar kamu merasa superior. Juga kamu akan menyalahkan orang-orang di sekitar atas ketidakmampuanmu. Terutama topeng keceriaan dan kebahagiaan yang selalu kamu pakai padahal betapa belatung kebencian dan dendam yang gendut itu terus menggerogoti daging di muka aslimu yang selalu kamu tutupi. Aku sangat benci kamu. Kamu menjijikan."

Cermin di depannya bergeming. Menampakkan seseorang yang sedang marah-marah sambil menunjuk-nunjuk bayangan di dalamnya.

Comments

Popular Posts