Skip to main content

Mengejar Matahari Sore

Tadinya hari ini saya berencana seharian saja di rumah karena--selain kemarin lelah sekali setelah meliput banyak tempat--perut saya kontraksi sedari pagi. Entah apa yang saya makan kemarin. Seharian saya makan obat dan minum banyak air untuk jaga-jaga agar tidak mencapai kondisi yang dulu pernah alami: muntah dan menggigil. Makan pun tidak enak karena perut terasa "penuh". Saya merasa lemas.

Tapi rencana kemudian gagal karena Rulli, saudara saya, mengajak makan siang bareng dengan keluarganya karena kakaknya (saudara saya juga) ulang tahun dan mau makan bersama. Lah, masa rezeki ditolak. Tentu saya ikut. Cuman saya sudah mewanti-wanti Rulli jika saya akan sewaktu-waktu butuh ke kamar mandi.

Kami pergi ke Nasi Bakar 15 yang ada di Jalan Cimandiri--samping Gedung Sate. Ini adalah kali pertama saya makan di sini. Bentuknya seperti warung besar dengan tempat duduk lesehan. Jelas kebersihan bukanlah prioritas. Kita harus meminta pegawainya dengan spesifik untuk membersihkan area tertentu, seperti bagian bawah meja yang kadang menyisakan tissue, misalnya.

Hanya seorang yang sadar kamera

Perihal nasi bakar di sini cukup terkenal. Tempatnya penuh saat kami datang, terutama saat jam makan siang. Walaupun konsepnya warung, semua orang dari berbagai kalangan datang ke sini. Tua dan muda. Sendirian, berpasangan, atau bersama keluarga.

Setelah dicoba, bagi saya rasanya biasa. Saya tidak suka nasi yang berasa (seperti nasi uduk) juga saya pernah merasakan ayam dengan bumbu yang jauh lebih sedap. Sayangnya istilah nasi bakar itu tidak tercermin dari nasi yang saya makan karena bisa dilihat daun yang terbakar di bagian luar saja sehingga tidak ada dampaknya pada aroma dan rasa nasi. Entah, mungkin mereka membakarnya agak buru-buru karena banyaknya pengunjung. Namun kata teteh saya yang pernah beberapa kali ke sini sebelumnya, mereka pernah membuat lebih baik dari ini.

Lho, saya baru tahu ada citra rasa makanan yang terkait dengan perbedaan waktu.

Setelah dari sana, saya dan Rulli memutuskan ke Zoe Corner untuk menemaninya meminjam komik. Begitu sampai dan melihat rak yang ada di bagian paling depan, saya lihat Partikel-nya Dewi Lestari. Buku yang dicap tanggal 17 Mei 2012 (sekarang) itu sepertinya baru dikeluarkan dan belum pernah dipinjam siapa-siapa selain saya. Wah! Rezeki pula nih! Padahal Rulli yang berniat meminjam komik malah tidak dapat karena komik yang dimaksud tidak ada.

Mungkin saat itu waktu menunjukkan pukul 4 sore. Saya tidak tahu pasti karena seharian tidak melihat jam. Tapi yang jelas saat itu Bandung tidak hujan dan matahari sorenya menyinari jalan-jalan yang ada di Bandung. "Li, dari semua waktu, aku paling suka sore hari," ujar saya. Ternyata saudara saya ini setuju. Menurutnya sore itu identik dengan santai, nyaman, dan matahari yang bersinar keemasan. "Mungkin karena itu ya ada istilah JJS alias jalan-jalan sore," sambung saya yang duduk berboncengan di atas motor.

Self-picture

Sinarnya di Jalan Gudang Utara

Para penyuka matahari sore

Rumah yang terberkati

Diserap oleh pakaian dan dipantulkan oleh mobil

Matahari sore dekat Sadang Serang

Tadinya kami mau pulang namun diurungkan karena Rulli bilang ia mau potong rambut di Jalan Gandapura. Saya teringat dengan teman-teman saya yang suka potong rambut di daerah Cisitu. Sunan Salon, lebih tepatnya. Saya sms Niken--teman menulis--untuk bertanya kejelasan tempatnya. Akhirnya setelah keliling mencari barber shop dengan harga potong 8000an, kami pergi ke salon tersebut yang harga potongnya sekitar 25.000an jika dipotong oleh asisten pemilik salon. Saya mengusulkan ia untuk memapas sisi kiri dan kanannya rambutnya seperti trend sekarang. Rulli ikut saran saya hanya ia memilih tidak terlalu tipis. "Takut jelek," katanya.

Yang motong orangnya ganteng :3

Hari beranjak gelap tapi masih ada satu tempat yang harus kami kunjungi yaitu Cizz--sebuah toko cake yang terkenal di Bandung. Ternyata Rulli mau beli kue tart buat kakaknya sebagai kejutan. Tidak hanya itu, Rulli juga meminta saya memilih salah satu kue yang ada di sana. Wah! Lagi-lagi rezeki. Saya pun memilih ini:

Blueberry Cheesecake
Hari ini saya banyak diberi. Semoga Rulli dan keluarganya dilancarkan rezekinya. Selain itu mudah-mudahan saya selalu ingat untuk juga memberi ke orang lain.

Comments

Anonymous said…
ayo,Nia hati2,cowok ganteng kalo ga....biasanya....???:)


-egowati-
Nia Janiar said…
Ahahaha,, iya euy.. :)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…