Pulang Sebentar

Selama tiga minggu di Jakarta, akhirnya akhir pekan ini saya pulang ke Bandung. Di hari Jumat kemarin itu rasanya seperti orang pertama kali kencan: tidak sabar dan deg-degan. Memang agak berlebihan bagi teman-teman saya yang sudah berbulan-bulan di Jakarta dan tidak pulang. Maklum, ini pertama kali saya bekerja di luar kota dan jauh dari keluarga. Selain khawatir dengan keadaan ibu, saya sudah tidak sabar bertemu dan main dengan teman-teman karena pekerjaan di belakang layar itu sangat menjemukkan.

Saya naik bis Primajasa yang ada di Jalan M.T. Haryono--dekat dari tempat saya. Harganya murah hanya Rp. 45.000, selain itu juga tidak perlu reservasi segala. Aduh, bis ini ... saat di ditanjakkan Cipularang, ia tampak bersusah payah sekali sementara mobil lain melaju kencang di sisi kanan dan kiri. Saya berangkat dari Jakarta pukul 18:30 dan sampai di Terminal Leuwi Panjang pukul 21:30. Untungnya saya dijemput Rulli, saudara saya, di terminal yang letaknya jauh dari rumah. Sebenarnya saya enggak kebayang mau naik apa dari Leuwi Panjang ke rumah (entah taksi atau ojek) karena angkutan umum yang lewat di depan rumah saya rata-rata hanya sampai jam sembilan. Saya akan kembali ke Jakarta di Senin subuh, Rulli menyarankan saya naik travel saja. Betul juga. Dengan kekuatan bis yang seperti itu serta belum tahu medan Jakarta di pagi hari dan harus masuk kantor, saya menyetujui ucapannya.

Akhir pekan ini betul-betul hari saya dan teman-teman. Mereka bertanya bagaimana keadaan saya selama di Jakarta, membahas perihal blog tentang teman seatap (yang membuat saya ingin menulisnya lagi tapi mungkin masih dipikirkan kontennya), aktivitas yang saya lakukan, dan lainnya. Saya bercerita bahwa hidup di Jakarta itu seperti datang ke sebuah negeri yang selama ini hanya saya lihat dari kejauhan dan saya dengar cerita-ceritanya saja. Lalu di negeri ini saya bertemu dengan tokoh-tokoh yang hanya saya tahu melalui karya. Saya merasa di tempat ini saya dapat menemui hal-hal yang selama ini dianggap tidak ada.

Saya juga menghadiri acara tahunan Crafty Days di Tobucil. Selain banyak barang-barang seru dan acara musik sore yang seru. Ini dia oleh-oleh fotonya:

Para vendors yang dikunjungi pengunjung

Limited edition cookies

Musik sore: Ririungan Gitar Bandung (RGB)

Musik sore: Tesla Manaf Effendi dan Rudi Aru

Musik sore (agak beda): Seeblink

Selain lihat barang-barang lucu (yang tidak beli juga), saya bertemu dengan teman-teman komunitas di sini seperti teman-teman wartawan, aktivis lingkungan, dan lainnya. Mungkin ini kenapa saya begitu merindukan Bandung layaknya orang yang sedang kasmaran. Saya membangun kehidupan, saya membangun jejaring, akar saya mengakar dan tumbuh subur di sini. Ini membuat saya bertanya-tanya sebenarnya untuk apa saya meninggalkan ini semua. Untuk apa pula saya meninggalkan kenyamanan di rumah dengan fasilitas serba ada dan tidak usah berurusan dengan tinja orang lain. Uang? Karir?

Kalau menurut Rizal, saya dan dia itu sama-sama sedang melacur karena mengorbankan sesuatu yang lebih besar untuk sesuatu yang lebih kecil. Entah idealisme, passion, atau waktu yang digerus oleh rutinitas namun terhibur oleh uang yang datang setiap awal/akhir bulan serta harapan peningkatan karir untuk kehidupan yang lebih baik. Saat ia dan istrinya akan pulang setelah main ke rumah saya, kami berkelakar, "Selamat melacur!"

Tapi saya pikir hidup itu pilihan dan--dari dulu hingga sekarang--saya tidak ingin jadi kodok yang tidak sadar yang sedang direbus dalam kuali. Kuali itu adalah zona nyaman. Saya ingin keluar, ingin tahu rasanya berada di luar zona nyaman hingga dapat memperluas dan membentuk zona itu sendiri. Pengalaman-pengalaman tiga minggu yang tidak pernah saya dapat juga memberi ketertarikan sendiri.

Akhir pekan dengan kegiatan-kegiatan di atas dapat mengisi energi berminggu-minggu untuk kembali ke ibukota. Hati saya yang kering sekarang basah lagi. Bahan bakarnya kembali terisi agar kendaraannya bisa bergegas ke akhir pekan selanjutnya!

See you soon, Bandung!

Comments

Popular Posts