Ronggeng Dukuh Paruk

Saat film Sang Penari tayang di bioskop tahun lalu, saya melihat twit seorang teman yang menyatakan ketidakpuasan terhadap film ini, terutama tokoh utama--Srintil, diperankan oleh Prisia Nasution (kemudian ia menang sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di Piala Citra FFI 2011)--yang tidak terlihat Jawa eksotis. Selain itu juga film yang diangkat dari buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini memiliki judul yang sama tidak eksotisnya karena dikecilkan maknanya menjadi Sang Penari.

Berbeda dengan teman saya yang di atas, teman saya yang lain merekomendasikan saya nonton film ini. "Filmnya bagus, berarti bukunya lebih bagus." Karena penasaran dan belum pernah membaca karya Ahmad Tohari, akhirnya saya membeli bukunya di bulan Januari 2012 dan baru selesai lima bulan setelahnya.

Sampul buku yang diambil dari film membatasi saya dalam membayangkan tokoh Srintil dan Rasus

Novel ini merupakan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala yang dijadikan satu. Kali ini saya tidak akan memberi komentar mengenai ceritanya tetapi mengenai teknik penulisannya. Saya kagum dengan kemampuan Ahmad Tohari dalam menulis detil-detil deskripsi yang langsung terbaca di halaman pertama. Bagaimana ia menyimpan perhatian pada hal-hal yang ada di sekitar dan jauh dari tokoh. Bagaimana ia menggambarkan suasana Dukuh Paruk sehingga terasa begitu nyata, keadaan nenek Rasus yang akan meninggal, dan keadaan Srintil saat jiwanya terguncang akibat Bajus yang sudah melambungkan harapan Srintil terlalu tinggi.

Awalnya detil seperti memanjakan pembaca namun detil yang banyak membikin kinerja baca saya melorot, terutama di saat mencapai bagian akhir cerita. Entah karena saya penasaran, bosan, atau ingin cepat selesai--pada akhirnya deskripsi yang detil ini saya lewati juga. Selain itu, bagi saya, konflik yang menggetarkan pun hanya terjadi sekali yaitu ketika Srintil dipenjara akibat ronggengannya membawa pesan komunis. Setelah itu tidak ada konflik yang berarti sehingga cerita terasa datar.

Saya sempat berdiskusi dengan teman saya bagaimana gaya menulis Ahmad Tohari di buku ini terasa tidak seperti karya tahun 1980an karena terasa "canggih". Saya bertanya-tanya apakah ada gaya penulisan ini memang wajar di tahun 1985, adakah pengubahan tulisan (karena saya membaca buku cetakan terbaru) atau memang kemampuan penulis berada jauh di depan dari masanya? Ahmad Tohari menulis seperti ini,

"Pendapat lain mengatakan, itulah hukum dialektika pergolakan politik yang acap kali berupa ironi sejarah dan ironi kemanusiaan. ... Pendapat ini sekaligus menyepelekan kemungkinan terlibatnya sentimen keagamaan. Juga sentimen politik karena Dukuh Paruk sepanjang sejarahnya tidak bisa memahami politik serta ideologi politik apapun." ~ Ronggeng Dukuh Paruk, 243. 
"Di bawah sinar pelita yang kuning kemerahan, di antara kain-kain dan bantal yang sudah berwarna tanah, seonggok benda hidup sedang dalam proses menjadi benda mati. Partikel-partikel hidup sedang memisahkan diri dari ikatan organisasi maharumit, mahacanggih, kemudian terurai dari ikatan-ikatan kimiawi oleh bakteri pembusuk untuk selanjutnya kembali larut dalam keberadaan universial." ~ Ronggeng Dukuh Paruk, 254.

Dari buku Ronggeng Dukuh Paruk ini saya mendapatkan sebuah pembelajaran bahwa walaupun latar belakang berada di negeri antah berantah, dialog dalam Bahasa Indonesia sahih adanya. Misalnya walaupun latar belakang ceritanya di Jawa, bukan berarti semua dialognya harus berbahasa Jawa, namun tetap ada beberapa ciri khas yang dibawa. Sama seperti beberapa film fantasi luar negeri yang tetap menggunakan berbahasa Inggris.

Apakah saya merekomendasikan buku ini? Ya, tentu saja. Buku Ahmad Tohari yang tembus dimensi waktu ini layak dibaca.

Comments

Popular Posts