Tuhan, Irasionalitas, dan Seks

Buku bersampul kuning kehijauan itu sudah lama mejeng di rak toko buku namun baru minggu ini saya membeli Cerita Cinta Enrico karya Ayu Utami. Jika tidak ada rencana menghadiri diskusi sore buku ini yang diadakan Reading Room Jakarta, mungkin saya baru akan membelinya dalam jangka waktu yang sedikit lama karena ada buku yang belum selesai dibaca. Tapi saya ingin saat diskusi nanti, saya bisa konek alias nyambung, dan terutama bisa minta tanda tangan. Maka pergilah saya ke sebuah mall gahul di bilangan Semanggi yang antri halte busway-nya bikin saya ampun-ampunan 7 turunan.


Cerita Cerita Enrico merupakan novel yang memiliki perbedaan generasi dan setting. Novel ini bercerita tentang anak yang ikut orang tuanya bergerilya ke pedalaman Sumatera di tahun 1950an, dibesarkan oleh ibu sehingga tokoh memiliki kesan yang sangat mendalam padanya namun ia menjadi dekat dengan ayah karena ibunya berubah karena kematian kakaknya. Enrico tinggal di sebuah tangsi militer sederhana, berinteraksi dengan anak kolong atau anak kampung yang membikin pengalaman menjadi dewasanya berbeda. Tidak seperti perempuan yang cenderung tertutup dan tidak membicarakan tentang seks, perkembangan seksualitas Enrico dipelajari bersama-sama antar teman laki-lakinya seperti pencelikkan penis atau mengembot ayam. Selain itu perkembangan keagamaannya juga terjadi terutama saat ibunya memutuskan masuk menjadi anggota Saksi Yehuwa, melihatnya ibunya menjadi orang yang asing karena ia menjauhkan diri pada hal-hal duniawi, dan seterusnya.

Demi bebas dari ibunya, Enrico memutuskan untuk kuliah di ITB. Di sini ia memiliki pengalaman seks dengan banyak perempuan tanpa dinikahi dan tanpa ingin memiliki keturunan. Baginya kebebasan adalah segalanya. Ia tidak ingin terikat dan tidak ingin membebankan anaknya sebagaimana ibunya membebankannya. Namun keadaannya berubah ketika ayahnya meninggal dan ia menyadari ia hanyalah sebatang kara (ibunya meninggal 15 tahun yang lalu) hidup di Jakarta. Dan tanpa sengaja, ia bertemu dengan A--seorang wanita yang memiliki prinsip kurang lebih sama dengannya--yang kemudian mereka menikah di gereja Katolik karena bagi A pernikahan tidak memiliki kesalahan ontologis.

Cerita Cinta Enrico adalah sebuah novel kisah nyata yang kisahnya sendiri mulai penulis dengar di tahun 2000. Sepuluh tahun kemudian dari itu, ia merasa cerita si Enrico ini menarik jika dibuat tulisan. Proses menulisnya sendiri hanya memakan 2.5 bulan. Ayu Utami mengakui bahwa kecepatan menulisnya melonjak setelah ia menulis Bilangan Fu dimana pada novel itu ia harus mengendalikan beberapa persoalan agar tidak terpecah-pecah. Memang, jika dilihat dari fisiknya, ketebalan Bilangan Fu sangat representatif. Isinya apalagi.

Proses mewawancarai tokoh cerita membuat penulis seolah-olah menjadi seorang psikolog yang mencoba menggali alam bawah sadar Enrico, mencari keterkaitan yang tidak tokoh sadari, dan menafsirkan cerita-cerita yang sepotong-potong bahwa: kelahiran Enrico sama dengan PRRI, Enrico yang tidak menangis atau bentuk kaki seperti ceker ayam pasti berhubungan dengan makna revolusi, dan lainnya. Sejarah-sejarah personal Enrico ini begitu dihargai oleh Ayu Utami. "Pengalaman subjektif lebih otentik ketimbang pengalaman objektif," ujarnya. Apalagi sejarah personal sepertinya banyak diabaikan oleh pendidikan di Indonesia yang selalu mengedepankan sejarah-sejarah besar seperti Soekarno, Hatta, dan lainnya. Ayu Utami juga menambahkan tentang pentingnya pencatatan sejarah pribadi.



Di antara peserta diskusi, ada yang berkomentar bahwa tulisan-tulisannya Ayu Utami selalu militer, kiri, dan aktivis. Baginya, militer akan selalu menjadi penjahat yang paling besar bagi masyarakat. Misalnya warga tidak boleh lewat dengan kacamata hitam, tidak boleh kendaraannya disusul, dan lainnya. Meski demikian, Ayu sendiri sepertinya terjebak dalam hubungan love-hate relationship dengan militer, "Walaupun jahat tapi aku suka dengan mereka karena mereka secara fisik itu seksi banget! Kalau kita ke Lobang Buaya, kalau lihat Pierre Tandean, aduh ...! Saya tertarik dengan pria yang berambut pendek." Sementara tokoh aktivis selalu ada karena Ayu Utami selalu menyuarakan tentang ketidakadilan dan biasanya hal itu diusung oleh para aktivis sehingga mau tidak mau tokoh yang dibuatnya adalah aktivis. Walaupun Parang Jati, Yuda, dan Marja dalam Bilangan Fu bukanlah aktivis.

Penulis yang saat itu mengenakan dress berwarna biru tua itu berkata bahwa dalam semua karyanya selalu mengandung tiga unsur yaitu Tuhan, irasionalitas (agama), dan seks. Agama selalu muncul karena ia adalah seorang yang religius (bahkan bisa pergi ke gereja setiap hari!) dan punya ketertarikan yang besar dengan Tuhan. Tapi itu pernah membawanya ke sebuah titik dimana ia tidak percaya agama (agnostik). Ia menganggap agama terlalu keras dan mendeskitkan perempuan. Love-hate relationship terjadi lagi dalam hubungannya dengan agama. Jika ia adalah sebuah bangunan, maka bata-bata yang menyusunnya adalah agama. Bahkan jika ditilik, bahasa penulis berambut panjang ini begitu biblical, misalnya di novel Saman ia menggunakan metafor keagamaan. "Agama adalah bahasa saya. Meninggalkan agama berarti saya tidak memiliki bahasa," ujarnya.

Selain itu, baginya, seks selalu menjadi hal yang irasional, aneh, dan tidak pernah selesai sehingga ia selalu menambah perspektif baru dalam tulisannya. "Dalam novel saya, seks itu bukan bumbu melainkan menu utama. Misalnya jika unsur seks di Saman dihilangkan, maka novel itu tidak ada." Seks menimbulkan greget tersendiri karena banyak orang yang tidak tahu tapi sok tahu. Sambil tertawa, Ayu Utami bercerita bahwa ia pernah membaca surat pembaca tentang seorang istri yang bertanya rasanya orgasme karena ia tidak tahu apakah ia sudah orgasme atau belum. Namun suaminya berkata bahwa sang istri sudah orgasme karena suami turut merasakannya.


Sebelum diskusi selesai, ada pengunjung lain yang bertanya mengapa Enrico menikah dengan A pada akhirnya padahal ia begitu tidak ingin kemerdekannya terenggut. Ayu Utami menjawab, "Kadang sesuatu yang kita sangkal ... ternyata sesuatu yang kita inginkan." Di sela-sela ada orang yang bertanya mengenai permasalahan anak. Penulis yang ditanya itu berkata bahwa memiliki atau tidak memiliki anak tetap menjadi sebuah pilihan.

No comments: