Catatan Perjalanan: Krakatau

Setelah sekitar enam bulan mendekam diri di kamar, kantor, dan lingkungan sekitar .. akhirnya saya melakukan perjalanan pula. Setelah menjamah gegunungan dan dataran tinggi, saya merasa betul-betul rindu laut. Awalnya saya pilih yang dekat-dekat saja dari Jakarta yaitu Kep. Seribu. Tapi karena belum bertemu orang-orang atau EO yang mau ke sana, lalu kemudian ada EO yang mengajak trekking dan snorkeling di Selat Sunda, maka saya memutuskan untuk pergi ke Krakatau di pertengahan Juni kemarin.

Tentu, seperti biasa, saya pergi dengan Eka. Hanya ada beberapa tambahan yaitu teman-teman yang pernah kami temukan di perjalanan yaitu Sis dan Andrie. Saya dan Eka memutuskan untuk memakai EO saja karena sedang malas ngatur uang, bikin itinerary, mengatur tujuan mana yang akan didahulukan, dan lainnya. Mungkin itu lain kali saja, kalau destinasinya jauh dan dalam jangka waktu yang lama pula. Total yang saya habiskan dari EO yang saya jasanya dipakai adalah Rp. 550.000 dengan peralatan snorkeling.

Kami berangkat di Jumat malam. Eka sampai di Jakarta sekitar pukul setengah 6 sore. Saat itu saya masih di kantor. Begitu jam pulang, saya langsung ketemu Eka di PGC dan kami makan malam. Teman saya memilih tempat makan yang terkenal dengan kelamaannya dalam memproses makanan dan saya memilih fast food karena diburu waktu. Setelah selesai, tanpa berlama-lama, kami langsung pergi ke Kampung Rambutan.

Dari PGC ke Kampung Rambutan tidaklah sulit. Hanya naik dua kali angkot. Bagi saya, ini adalah kali pertama saya pergi ke Kp. Rambutan. Terminalnya luas, banyak orang, namun tidak terlalu menyeramkan. Kalau ada banyak orang yang bertanya kami mau kemana, ya wajar. Namun kalau sudah melebihi batas seperti kasus ada satu orang bapak-bapak yang sudah memperhatikan dari kejauhan, menyempatkan mendatangi diri pada kami sambil cengar-cengir lalu ngobrol berlama-lama, ya harus tegas.

Di ruang tunggu, kami bertemu dengan Sis dan Andrie dalam waktu yang bersamaan. Andrie ditemukan saat ia menuju ke kamar mandi. Saya langsung memanggil, "Mas Andrie!" Pria yang terakhir kami lihat dua tahun yang lalu saat trip ke Karimunjawa ini banyak berubah seperti bentuk kacamata dan gaya rambut, sehingga saya sempat bertanya-tanya dari kejauhan, "Itu teh mas Andrie atau bukan sih?" Sementara Sis sudah duduk di belakang.

Setelah dicek oleh EO, kami pergi naik bus Arimbi menuju Pelabuhan Merak. Bus ini memperbolehkan naik turunnya pedagang dan penumpang sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu 3 jam. Tempat duduknya tidak enak karena jarak kaki cukup sempit dan punggung bangkunya tidak bisa dimundurkan sehingga kepala saya berkali-kali jatuh. Kalau menyandarkan ke Eka engga enak karena takut ilernya meleber ke pundak. Lagian takut dianggap sok ikrib. Hihi.

Sesampainya di terminal Pelabuhan Merak, kami dan teman-teman lain naik ojek. Sebetulnya kalau jalan tidak terlalu jauh. Namun karena Danang (pemimpin EO) dan kru keberatan membawa peralatan snorkeling, maka kami ikut saja ketika disuruh naik ojek bertiga-bertiga. Begitu sampai di Pelabuhan Merak, kami diberikan tiket ferry dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni yang kalau tidak salah seharga Rp. 11.500.


Entah di bus atau di kapal ya sama saja. Sama-sama ada anak kecoaknya. Saya yang protes mengenai keterjatuhan kepala, memilih tempat duduk paling pojok agar kepala ini jelas mau disimpan di mana. Tapi tetap saja tidak bisa bersandar karena kecoak yang merayap di dinding kapal. Jadi, pembaca, lain kali bawa baygon yaa. Untungnya ada bantal. Maka, tanpa mempedulikan kebersihan, saya tidur saja. Eka sepertinya tidak tidur. Perjalanan pun berkisar 2.5 hingga 3 jam.

Melewati jalur lintas Sumatera tentu adalah hal yang baru. Saya jadi teringat Neni yang rumahnya di Kalianda dan Ella yang rumahnya di Bengkulu. Pastinya mereka melalui jalur ini. Kiri dan kanan jalan kadang masih rimbun dengan rerumputan dan perkebunan. Kalau kata supir, jalur barat ini lebih mending dari jalur timur karena hutannya sudah jarang dan lebih banyak orang yang melalui jalur ini.

Sekitar pukul 6 kurang, kami sampai di Dermaga Canti di Sumatera Selatan. Dermaga Canti ini menghubungi kami ke Pulau Sebesi--pulau tempat kami menginap nanti--dan pulau-pulau lain yang akan kami kunjungi. Setelah menggosok gigi (tidak mandi karena sebentar lagi akan snorkeling) dan sarapan, kami naik kapal kecil. Ya sebenarnya tidak terlalu kecil sih, cukup untuk 26 orang.


Sepanjang perjalanan ke Pulau Sebuku Kecil, matahari lamat-lamat muncul dari arah timur, melalui pegunungan yang ada di Sumatera Selatan. Kamera-kamera langsung dikeluarkan. Selain itu juga laut semakin membiru karena kedalaman. Sayangnya laut di sini agak kotor dengan sampah-sampah. Jangan-jangan itu penyebab sensasi ditusuk-tusuk dan gatal saat saya snorkeling di Pulau Sebuku Besar. Saya pikir saya kena bulu babi atau dihinggapi binatang laut. Tapi pas saya lihat tidak ada apa-apa. Dan beberapa teman mengeluhkan hal yang sama.


I've seen better corals than these. Itulah yang saya pikirkan begitu melihat karang yang ada di sekitar Pulau Sebuku Kecil dan Lagoon Cabe (dekat Rakata). Comparison is easily done when you've seen the perfection. Tapi, seperti yang Danang bilang, bahwa setiap pulau pasti memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing. Memang tidak seberwarna dan bervariasi seperti yang ada di Karimunjawa, tapi ada beberapa karang yang belum pernah kami lihat di sana misalnya seperti karang berbentuk bunga kol seperti di bawah ini:

Foto milik Danang/Fari

Foto milik Danang/Fari

Foto milik Danang/Fari

Inilah yang saya rindukan dari penantian berbulan-bulan yaitu melihat--jika bukan surga--adalah kehidupan lain di bawah sana. Ikan-ikan yang berseliweran membuat saya berkhayal bahwa mereka memiliki struktur masyarakat perikanan, mereka terkagum-kagum atau takut melihat makhluk besar yang mengambang di atas mereka. Karena saya merasa beberapa kali kontak mata dengan para ikan. Hehe.

Saya dan Eka lebih agresif minta foto underwater karena selama snorkeling kami belum pernah punya foto underwaterMau beli kameranya juga mahal. Mau pinjem tapi gak punya temen yang punya. Huu, miskin kalian. Apalagi Eka sudah konsisten menyelamnya, saya masih kadang-kadang bisa dan kadang-kadang tidak.  Untungnya sekarang sudah ada fotonya:

Eka dan saya

Kami menginap di rumah warga di Pulau Sebesi. Rumah yang perempuan tinggali tidak terlalu bersih, terutama bagian kamar. Dindingnya banyak jejak air sehingga udara terasa lembab dan baunya tidak enak. Untungnya tidak ada binatang selain nyamuk dan semut besar. Berbeda saat saya dan Eka nginap di Ujung Genteng dimana ada kaki seribu di kasur dan kamar mandi. Selain itu kamar mandinya lumayan, ada dua, sehingga para perempuan pun mandinya berdua-dua agar lebih cepat.

Sekitar pukul 4 pagi, kami berangkat ke Anak Krakatau. Semua orang masuk ke lambung kapal. Saat itu ombak terasa besar dan membikin kapal bergoyang, sementara angin di luar cukup besar. Agak seru. Tapi keseruan berakhir setelah hujan datang, para ABK menutup semua jendela. Jadinya kami berada di satu ruangan yang penuh orang sambil terguncang. Memang bikin mual. Untungnya saya menemukan spot tiduran (duluan). Karena begitu saya terbangun, di sebelah kanan saya sudah ada orang yang lagi tidur dan di sebelah kiri saya sudah ada kaki. Sementara sepatu trekking saya di luar. Kehujanan.

Pasir hitam langsung menyambut kami. Lambang Cagar Alam Krakatau juga yang langsung diserbu teman-teman untuk foto-foto, menandakan kami resmi berada di hasil erupsi Gunung Krakatau yang meletus pada 27 Agustus 1888. Rupanya ini lho yang bencana alam modern yang pernah menggemparkan dunia, yang sering namanya dicatut dalam film-film luar negeri sana.

Kemiringannya membinasakan peluh
Foto milik Sis

Pulau Rakata dan Anak Krakatau

Pulau Panjang dan Pulau Rakata -- dari kejauhan

Perjalanan menuju patok 9 (patok teraman dari Anak Krakatau) sih tidak terlalu jauh, tapi kemiringannya membikin bibir pucat. Dari patok 9 juga bisa terlihat Pulau Panjang dan Pulau Rakata. Lagi-lagi matahari yang sama dengan yang mengiringi saat meninggalkan Sumatera muncul dari balik Pulau Panjang. Kuning. Membulat sempurna. Bersyukur saat itu kami sudah ada di atas sehingga perjalanan tidak terlalu panas.

Gunung dan laut membuat perjalanan ini lengkap. Kami mendapatkan keduanya. Alam pun sedang bekerjasama dengan baik. Ia memberikan matahari yang terbit dan terbenam untuk menambahkan keindahannya juga memberikan langit yang biru. Oranye, biru, hijau, putih ... saya sadari; melalui alam, Tuhan mengajari warna-warna.

Juga melalui alam, Tuhan mendekatkan para manusia.

Comments

Eka Handayani said…
wooo...kangen deh baca tulisan nia ttg perjalanan... lets have a trip again yuuu...
Nia Janiar said…
Aku mau nabung buat beli kamera DSLR...

Popular Posts