Skip to main content

#1: Monyet Jakarta

Jakarta adalah rimba, saya adalah monyetnya. Binatang yang--entah bertangan, berkaki, atau bertangan sekaligus berkaki dengan jumlah empat buah--perilaku bergelantungan dari pohon satu ke pohon lain terasa mirip seperti saya yang berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Sebuah perpindahan yang menghabiskan banyak hal, terutama uang dan waktu.

Jakarta adalah sebuah negeri dongeng yang selama ini hanya saya lihat lewat layar kaca: pemberitaan dan warkop DKI. Lalu merambah ke sosial media dimana ada tempat-tempat asyik di sini seperti komunitas-komunitas baca buku, kepenulisan, galeri-galeri seni, perpustakaan yang tersembunyi, dan lainnya. Selain itu si negeri dongeng ini punya tokoh-tokoh yang saya ikuti perkembangannya terutama tokoh sastra. Berada di sini, saya merasa bahwa segala yang saya lihat dari kejauhan itu nyata. Bahwa penulis buku puisi Perahu Kertas dan Hujan Bulan Juni yang bait puisinya kerap dipetik orang itu benar-benar ada. Bahwa tempat yang pernah disambangi front pembela suatu agama karena menghadirkan penulis muslim lesbian yang liberal juga betulan ada. Lalu apakah saya di sini untuk mengejar bergabung dalam komunitas?--sebagaimana pertanyaan teman kepada saya. Rasanya tidak. Saya cenderung penasaran dengan tempat-tempat baru yang ada di negeri ini.

Imbasnya adalah untuk mencapai tempat tertentu membutuhkan usaha yang ekstra. Untuk sampai Monas, dari tempat saya, diperlukan waktu sekitar dua jam: melalui busway yang banyak transit dan seringkali mengantri karena bus melalui daerah-daerah ramai. Untuk daerah yang bisa dicapai dengan busway agak melegakan di kantong (saat ini hanya menghabiskan Rp. 3.500 saja selama tidak keluar dari halte). Namun jika sudah harus pergi ke tempat yang jauh menggunakan lebih dari satu mikrolet, disambung bajaj, dan ojek ... wah, seperti masalah sepasang kekasih yang berhubungan jarak jauh: berat diongkos.

Di sini saya merasa waktu bergitu berharga dan mahal. Waktu adalah uang. Contoh kecilnya adalah jika mau pergi ke kostan saya, diperlukan ongkos Rp. 2.500 dengan menggunakan angkot. Payahnya adalah angkot di sini adalah tipe angkot yang baru berangkat jika sudah penuh. Kalau jam pulang kantor sih enak karena cepat berangkat, tapi kalau sudah menuju jam 10 malam, mungkin bisa menunggu hingga satu jam. Kalau ingin cepat ya naik ojek seharga dua kali lipat. Bagi tempat-tempat lain yang jaraknya lumayan, ongkos ojek saja bisa mencapai Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000 untuk sekali jalan. Bayangkan jika harus bolak-balik.

Hutan beton sekaligus negeri dongeng ini memerlukan dua atau tiga kali gaji, biaya pengeluaran, dan waktu yang dihabiskan dari tempat saya berasal. Apakah saya betah tinggal di sini? Gilanya, saya betah di sini. Ada sebuah keadaan yang saya dapatkan dan saya sukai: anonimitas. Sebuah kebebasan ketika saya hadir dalam suatu tempat/acara tanpa menjadi "beku" akan kehadiran seseorang yang saya kenal. Di sini, saya bebas menjadi atau berlaku seperti monyet dengan jangkauan pohon-pohon untuk bergelantung yang lebih luas. Sebuah harga yang harus saya bayar.

Samar-samar lagu Kicir-Kicir terdengar di kamar kostan. Rupanya tetangga sedang memasang keras-keras.


"Kicir-kicir ini lagunya. Lagu lama, ya Tuan, dari Jakarta. Saya menyanyi, ya Tuan, memang sengaja. Untuk menghibur .. menghibur hati nan duka." 

Comments

Sundea said…
Niaaa ... gue suka banget analoginya. Ada kritiknya, ada imajinatifnya, ada personalnya juga, dan ngena banget semuanya.

Hmmm ... kalo Jkt hutan rimba, mungkin gue burung. Gue dtg sekali2, terus terbang pulang lagi kalo udah selesai urusannya ... hehehe ...
Nia Janiar said…
Awh, Dea.. makasiih.. makasiihh. Hehe. Burungnya pake migrasi bersama di musim tertentu gak, De?
idealmind32 said…
*angguk-angguk* bener banget.. kita terhempas dalam anonimitas yang anehnya bikin kita betah... i've been here a long time before you do, but you have a great understanding about this city... *menjura* :)
Nia Janiar said…
Ahoy! Welcome to the club! He.

Btw, kaos Kierkegaardnya bagus. Nanti kapan2 pesen deh..
Sundea said…
Migrasinya situasional ... hehehe ... kalo ada yg mo bareng hayu, kalo nggak ya terbang sendiri. Monyet mau ikut ? =p
Nia Janiar said…
Monyet gak bisa migrasi jauh-jauh. Gelantungannya bikin capek. He.
Vendy said…
*nyanyi "Siapa suruh datang Jakarta" :))
Nia Janiar said…
I saw it coming.. x)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…