Surat Untuk Padma

Padma yang kurindukan, 

Aku menghabiskan hari terakhirku di Bandung bersama Andika Budiman. Ia teman baikku. Ia bukan salah satu orang yang aku sebut namanya dalam devosi: penuh pujian dan disertai keinginan memberi. Semoga tidak ada prasangka darimu yang tidak pernah kentara namun kesannya tersampaikan juga. Atau itu yang diam-diam kuharapkan.

Di hari Selasa, setelah matahari beranjak sedikit dari tengah hari, aku dan Andika pergi ke galeri s.14 karena ada pameran berjudul Tales of Walking Island oleh Kemal Ezedin. Aku sudah mengetahui kabar beritanya di hari Sabtu sebelumnya karena keluargaku sempat berkata akan datang saat pembukaan pamerannya. Namun aku tidak bisa hadir karena--seperti yang kamu tahu--Sabtu adalah jadwalku menulis bersama teman-teman. Lalu tiba-tiba dosenku menautkan poster pameran di lini masaku. Kupikir, Semesta memberi tanda, akhirnya aku memutuskan untung datang dan mengajak Andika karena ia juga suka mendatangi pameran seni.

Kami sempat tersesat di daerah Cigadung karena salah belok. Kami juga sempat salah jalan di kompleks perumahan dosen UNPAD itu. Agak lucu karena kami sama-sama orang Bandung dan ini bukanlah kali pertama kami datang. Lalu setelah sampai, kami disambut oleh pemilik galeri bernama Mbak Herra yang ramah--sehingga saking ramahnya membuatku agak sungkan. Dan masuklah kami ke ruangan yang penuh motif dan warna. Oh, psikedelik, rupanya.

Kemal Ezedin rupanya pernah bekerja di Jalan Sesama (Sesame Street). Sepertinya pengalamannya dalam menggambarkan karakter boneka lalu dituangkan ke lukisan, bercampur magic mushroom dan terinspiriasi oleh Hayao Miyazaki, membuatnya ia menghasilkan karya-karya seru ini. Aku tahu kamu akan suka. Oleh karena itu, aku lampirkan foto-fotonya ya:




Kupikir karya-karyanya dapat mengingatkanku pada alam psikedelik tanpa aku harus memakan jamur. Menurutmu? Sedikit mengingatkan pada Paprika, tapi aku lebih suka yang ini. Dan aku juga jadi kepikiran makan jamur supaya novelku bisa beraroma psikedelik seperti Cala Ibi. Tidakkah itu mengasikkan bisa menambah detil-detil ganjil di luar khazanah manusia?

Setelah dari sana, kami pergi ke Selasar Sunaryo yang letaknya tidak jauh dari Cigadung--karena kami menggunakan jalan tembus. Di sana ada pameran Bandung New Emergence Vol. 4 (bne.4) yang diisi oleh seniman-seniman muda di Bandung. Dari semua karya yang dipajang, aku suka karya-karyanya Agugn. Sama seperti Kemal, melihat karya-karyanya dia terasa kumplit, satu rasa, dan mengenyangkan dalam porsi yang pas. Aku pernah kenyang sekali tapi tidak sampai mual yaitu setelah melihat pameran tunggalnya Agus Suwage. Sayangnya aku tidak boleh foto karyanya Agugn karena tidak diperbolehkan. Tapi ini fotonya dari kejauhan, karyanya berjajar di sebelah kiri.


Selain itu aku melihat kegelisahan-kegelisahan dalam bne.4 ini. Entah apa. Seperti perasaan khawatir, marah, atau apapun yang ditumpahkan seniman pada karya-karyanya. Aku ingin seperti mereka yang bisa melukis atau menggambar karena kupikir itu jauh lebih menyenangkan dan ringkas dalam menyampaikan pesan ketimbang menulis. Sama seperti penyanyi yang tinggal membuka dan mengatupkan mulutnya, daripada harus repot membawa instrumen musik.

Setelah itu kami pergi ke Kineruku dan mengobrol hingga malam sambil diselingi baca buku. Tempat ini adalah surga bagi pecinta buku. Banyak buku-buku sastra Indonesia klasik yang jarang ditemukan tapi ada di sini dan lumayan lengkap. Selain itu, aku mencoba kopi Vietnam karena temanku sering memberitahu tentang keenakannya di Twitter. Aku penasaran. Begitu mencerap tetes pertama, aku ingat kamu yang pecinta kopi. Jika kamu ada di sini, mungkin kau akan menganalisis dari baunya kemudian membiarkannya mengambang sebentar di lidahmu agar kamu bisa menimbang berat kopinya. Sementara itu dahimu akan berkerut.

Setelah itu .. aku pulang dengan perasaan tidak jelas menuju Jakarta. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Mungkin karena sedang tidak ingin anonim. Atau mungkin secara khidmat sedang merindukan sosok yang tidak ada dimana-mana yaitu kamu. Kamu yang tidak jelas keberadaannya. Surat ini kukirim tanpa alamat.

Comments

Andika said…
Gw mengendus aroma kontradiktif antara kalimat kedua dan ketiga.
Nia Janiar said…
Yang manaaa?
Neni said…
Si dika masih nyasar aja dia? hahah.... kalimat kedua dan ketiga itu sepertinya ttg tdk adanya devosi dst... :P

Btw, saya suka baca surat bernada personal ini...

dan anonimitas terkadang membuat merasa 'sendirian'...
Nia Janiar said…
Mungkin antara teman baik dan tidak ada devosi.

Popular Posts