Cantik itu Luka


Berpasanganlah dengan orang yang buruk rupa.

Mungkin itu salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Eka Kurniawan dalam bukunya Cantik itu Luka. Dibuka dengan penjabaran tokoh bernama Dewi Ayu yang memukau dan jelas membikin pembaca penasaran dengan kelanjutannya ceritanya, buku ini berkisah perempuan di masa sebelum kemerdekaan. Dewi Ayu, seorang indo yang dilahirkan dari rahim seorang gundik, harus mengalami kisah pahit yaitu dia dijadikan pelacur saat penjajahan Jepang. Namun Dewi Ayu bukanlah tipe pelacur yang menye-menye dan serba gelisah dengan statusnya sebagai pelacur. Sarkasme dan keberaniannya yang bisa terlihat saat ia berinteraksi dengan tokoh lain justru membuat Dewi Ayu memiliki karakter yang menarik.

Karena kecantikannya yang luar biasa, ia menjadi pelacur terkenal dan paling diinginkan oleh semua pria. Dia bukan pelacur yang bisa ditiduri seenaknya karena semua orang harus masuk ke daftar antri. Dari pelacurannya itu, ia menghasilkan tiga orang anak yang diberi nama: Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi yang dijabarkan oleh penulis sebagai perempuan cantik dengan kulit putih, rambut panjang hitam legam, buah dada yang mengkel, serta lekukan pinggang yang lembut--yang kemudian deskripsi cantik tidak menjadi fokus utama yang digambarkan secara spesifik oleh penulis (seperti bentuk mata, hidung, dagu, dan lainnya). Pokoknya mereka cantik. Titik.

Setelah anaknya beranjak dewasa, alur cerita perlahan-lahan mulai meninggalkan Dewi Ayu. Penulis mulai fokus pada Alamanda yang jatuh cinta pada tokoh komunis bernama Kamerad Kliwon tetapi harus kawin dengan paksa dengan Sang Shodancho. Sang Shodancho yang tidak tahan dengan kecantikan Alamanda dan begitu ingin memilikinya, membius Alamanda dan memperkosanya. Alamanda tidak mau warga tahu bahwa ia sudah diperkosa, maka ia meminta Sang Shodancho untuk mengawininya. Bertahun-tahun di awal pernikahannya, mereka tidak pernah berhubungan badan karena Alamanda memakai celana dalam besi yang hanya dibuka saat ia di kamar mandi. Karena tidak tahan, Sang Shodancho mendobrak pintu kamar mandi, mengangkat istrinya ke kamar, kemudian memperkosa istrinya sendiri.

Adegan pemerkosaan tidak diceritakan secara kasar oleh penulis. Justru penceritaan yang perlahan membikin pembaca (saya) simpati dengan Alamanda, terutama membayangkan bagaimana sakit hatinya diperkosa oleh orang yang tidak dicintai. Apalagi Sang Shodancho mengikat kedua kaki dan tangannya istrinya ke ujung-ujung tempat tidur agar bisa diperkosa kapan saja.

Sementara itu, Kamerad Kliwon ditangkap dan akan dieksekusi mati oleh Sang Shodancho karena terus menjalankan aksi yang membawa pesan komunisnya. Namun karena Alamanda masih mencintainya, ia berkata bahwa ia akan memberikan cinta pada suaminya asalkan Kamerad Kliwon dibebaskan. Permintaan dikabulkan. Akhirnya kedua pasangan suami istri itu berhubungan layaknya orang normal sehingga memiliki anak bernama Nurul Aini.

Karena tidak mungkin memiliki Alamanda, akhirnya Kamerad Kliwon menikah dengan Adinda dan memiliki anak bernama Krisan. Sementara itu adiknya yang paling kecil, Maya Dewi, dinikahkan ibunya dengan seorang preman pendatang yang menaklukan Halimunada bernama Maman Gendeng. Mereka dikaruniai seorang anak bernama Rengganis si Cantik.

Setelah banyak bercerita tentang kisah setiap tokoh dari Alamanda hingga Maya Dewi, penulis juga menjabarkan secara detil tentang kisah Kamerad Kliwon, Sang Shodancho, bahkan tokoh-tokoh lain seperti penjaga makam, kisah hidup Edi Idiot (preman yang berkuasa hingga Maman Gendeng membunuhnya untuk mengambil alih kuasa Halimunada), dan lainnya. Kemudian penulis juga menambahkan cerita kehidupan generasi ketiga yaitu cucu-cucunya Dewi Ayu; Nurul Aini, Krisan, dan Rengganis Si Cantik, yang terlibat hubungan inses dan aksi pembunuhan antar saudara.

Dewi Ayu terlihat bukan sebagai tokoh utama yang biasanya mendapatkan porsi penceritaan yang lebih banyak, justru semua tokoh mendapatkan porsi yang sama banyaknya (mungkin dengan sedikit perbedaan). Mungkin ini tujuan dari novel Cantik itu Luka karena banyak tokoh yang cantik (kemudian terluka) dan banyak tokoh yang berhubungan dengan para wanita cantik kemudian terluka. Kisah detil tentang tokoh lainnya membuat Dewi Ayu tenggelam di pertengahan cerita dan muncul lagi di akhir cerita untuk menjelaskan mengapa ia dan keturunannya begitu cantik namun memiliki pengalaman yang tidak biasa.

Pengalaman yang tidak mengenakkan ini membuat Dewi Ayu ingin bahwa anak yang ia kandung (di usia 50-an) itu sangat buruk rupa. Saat hamil, ia membayangkan hal-hal buruk seperti tai, setan, colokkan listrik, dan lainnya. Rupanya doanya itu terkabul. Anaknya yang terakhir--dengan kulit gelap dan hidung seperti colokkan listrik--ia beri nama dengan ironis: Si Cantik.

Si Cantik ini serupa monster yang ditakuti dan membuat warga jijik melihatnya. Namun siapa sangka, ternyata Si Cantik ini bersetubuh dan hamil juga dengan seorang pria yang tidak bisa dilihat Dewi Ayu dan Rosinah (pegawainya). Di akhir cerita, rupanya yang menyetubuhi Si Cantik adalah Krisan--yang merupakan keponakannya sendiri. Pengakuan-pengakuan Krisan tentang mengapa ia melakukan hubungan inses dengan Rengganis Si Cantik kemudian membunuhnya, mengapa ia mencintai sepupunya sendiri yaitu Alamanda, kemudian menghamili bibinya sendiri yaitu Si Cantik, menjelaskan maksud dari novel ini: berpasanganlah dengan yang buruk rupa karena ia akan mencintaimu, tidak akan mengecewakan, dan tidak akan menyakiti.

Di awal cerita diceritakan bahwa Dewi Ayu menikah dengan Mak Gedik--seorang pria yang seharusnya menjadi kakeknya namun kekasihnya direbut oleh Belanda untuk dijadikan gundik. Setelah Mak Gedik mati bunuh diri, rupanya ia menggentayangi Dewi Ayu dan mengutuk hal-hal buruk kepada ia dan keturunannya sehingga bernasib tidak baik. Lalu Dewi Ayu bangkit dari kubur, mengapus kutukan, dan kembali lagi ke kubur.

Di sinilah penulis memasukkan unsur surealisme di novelnya--yang menurut majalah Horison, " ... mengawinkan kepercayaan-kepercayaan lokal dengan silogisme filsafat yang membobol semua tabu, dan memberikan hormat yang sama pada realitas sejarah dan mitos ... "

Secara keseluruhan, Cantik itu Luka adalah novel yang rumit. Bukan dari kata-kata atau tema yang dipilih, melainkan secara teknis penulisan. Eka Kurniawan menggunakan banyak sekali tokoh dan banyak sekali sub-plot tanpa kehilangan benang merah di antara semuanya. Selain itu juga banyak adegan flashback (plot mundur) serta banyak adegan yang diceritakan paralel.

Novel ini bukanlah novel kosong yang isinya percintaan. Pembaca bisa menemukan kisah situasi politik sebelum kemerdekaan yang digambarkan secara luas di pertengahan cerita. Selain itu juga dialog-dialog cerdas yang sering dilontarkan tokoh Dewi Ayu dan Alamanda juga membikin novel ini menarik.

Berikut ini petikan (dengan dihilangkannya narasi) dialog Dewi Ayu dengan Mama Kalong:

"Mama, pinjami aku uang. Aku mau membeli rumahku kembali," katanya.
Bagaimanapun, Mama Kalong selalu memperhitungkan uang dari segi bisnisnya yang paling baik. "Dari mana kau bisa membayar?" tanyanya.
"Aku punya harta karun," jawab Dewi Ayu. "Sebelum perang aku menimbun seluruh perhiasan nenekku di tempat yang tak seorang pun akan mengetahuinya kecuali aku dan Tuhan."
... Mereka hanya berhenti di waktu-waktu sejenak untuk makan dan melepas lelah, sebelum terus membongkar beton dan mengaduk-aduk sisa tai yang telah menjadi tanah. Tapi mereka tampaknya tak akan menemukan apapun, kecuali cacing tanah yang menggeliat-geliat marah. Dewi Ayu percaya bahwa mereka mengeluarkan semua kotoran dari tabung pembuangan, namun tetap saja ia tak menemukan semua perhiasan yang pernah dibuangnya. Tak ada kalung dan gelang emas, yang ada hanya gundukan tanah membusuk, cokelat dan lembab. Ia tak percaya semua perhiasan itu ikut membusuk bersama tai, maka ia segera meninggalkan pekerjaannya dengan putus asa, sambil menggerutu:
"Tuhan telah mencurinya."

Comments

ngalir banget penceritaannya

Novelnya kayaknya rumit...hehe

bolehliat
Nia Janiar said…
Rumit secara teknis penulisannya, tapi Eka Kurniawan jagoan meraciknya sehingga terasa ngalir banget. Baca deh, Wi!
Nonasan said…
huaaaaaaa penasaran banget. udah lama ngincer novel ini tapi belum ke beli, harganya cukup mahal buat ukuran anak sekolah kayak aku T_T
Nia Janiar said…
Iyaa, memangg.. mahaal. :D Saya waktu itu untungnya beli di pasar buku, jadinya dapet yang bekas, hanya 20rb saja. Lumayaaan. :D
Retno Wulandari said…
Hm.. masuk list langsung. Rekomendasi Nia biasanya cocok. Asik :D
Nia Janiar said…
Assik, kalau udah baca, kasih tau yaa. Kita bahassss. :)
Sundea said…
Kalo dari segi cerita, kayaknya bukan selera gue ya ... hehehe ...

Selain itu gue nggak berapa suka covernya sebenernya.

Mungkin selera aja :p
Nia Janiar said…
Haha, iya, De.. terus beberapa temen gue bilang justru cover edisi lama ini lebih bagus ketimbang cover-nya yang sekarang. :D

Popular Posts