#2: Eksistensi Monyet

Ceritanya si Monyet sudah mengalami kemajuan, salah satunya adalah keberadaan Aqua galon di kamarnya. Walau tidak punya dispenser (dan tidak berencana), teko, atau bahkan gelas, ia beli air minum galonan karena diharapkan lebih menghemat serta mengurangi konsumsi botol plastik. Sebenarnya sudah dari dulu ingin membeli galonan, tapi pikiran hanya tiga bulan di Jakarta menjadi bahan pertimbangan termasuk dalam membeli segala fasilitas. Selama ini ia pakai barang-barang temporer, misalnya menggunakan plastik-plastik yang sekali buang atau menggunakan barang pinjaman (yang sudah tersedia di kostan--entah termasuk fasilitas atau monyet asal comot saja). Namun pada akhirnya ia beli juga si air galon ini. Dia pikir: ia memutuskan untuk tinggal.

Tadi pagi ia memecahkan gelas milik kostan karena tidak sengaja ketendang saat membuka tirai jendela. Gelas kaca yang memang kelihatannya tipis itu menyisakan ceruk-ceruk tajam yang cocok dihunus ke nadi. Cocok buat orang depresi. Beberapa hari yang lalu, ia juga mematahkan gagang pel sehingga hanya menyisakan setengah saja. Gelas bisa ia ganti, tapi untuk gagang pel, ia tunggu pihak kost komplen saja. Sebelum ke Jakarta, ibunya sempat berkata, "Barang-barang (mama) yang kamu pegang pasti rusak: dari senter sampai jam tangan." Tidak apa-apa asal masih pada tahap bisa diganti. Mudah-mudahan bukan barang mahal. Jangan sampai.

Oh! Monyet juga pernah mematahkan kaitan jendela kostan. Juga kayu jemuran di kostan. Waaaa!

Kehidupannya berkisar kantor-kostan saja, kecuali ada ajakan jalan dari teman-teman sepermonyetannya. Akhir pekan ia habiskan di luar. Ada atau tidaknya teman ya terserah, ia tidak masalah jalan sendirian. Setiap awal minggu pasti ia cari-cari info acara yang seru dan bisa dihadiri di sini. Kalau tidak keluar, ia akan menghabiskan waktu di kostan dengan membaca buku. Jika buku sudah habis, sambil melihat langit-langit kamar, ia mulai mempertanyakan untuk apa sebenarnya ia di rimba Jakarta.

Di tempat asalnya ia punya banyak teman, punya jejaring, bertempat tinggal di rumah yang nyaman dengan fasilitas lengkap tanpa perlu repot mencuci pakaian, cari air minum, hemat makan, dan lainnya. Di sana juga ia dekat dengan ibu pasif yang sayang dengan dia apa adanya--tanpa pretensi dan presensi yang tidak diragukan. Selain jarak dan waktu yang sudah disinggung di tulisan sebelumnya, apakah hal-hal di atas juga adalah bayaran yang harus dilempar ke meja judi?

Ia akan menunggu hingga batas waktu tertentu sampai sejauh mana kehidupan akan membawanya. Jika tidak signifikan, bolehlah ia merubah jalan nasibnya. Meski mata ikan mas menggandol di kelopak matanya. Membikin ia bernafas satu-dua pula karena lendir menutupi kedua lubang hidungnya. 

Comments

Sundea said…
Jadi fabel ... hahahaha ....
Neni said…
ini dua kalimat terakhir bikin bingung... tapi suka gaya penulisan org ketiga ini...seolah mengamati diri sendiri dgn sedikit berjarak...
Nia Janiar said…
@Dea: Iyaaa..

@Neni: Itu menangis, maksudnya..

Popular Posts