Eliminasi

Ketika ada kekesalan laten dan tidak ada keinginan untuk memperbaiki serta malas konfrontasi karena sudah bisa diprediksi reaksinya yang mungkin tidak akan membawa kemana-mana, maka seseorang memilih mengeliminasi. Ia memutuskan untuk putus hubungan, langsung meninggalkan, menanggapi dingin atau bahkan sama sekali tidak ada tanggapan. Perilaku ekstrimnya itu tanpa disertai alasan ke temannya sehingga sang teman merasa sedih, merasa berbuat salah tanpa tahu apa, dan merasa ada urusan yang belum selesai. Temannya menghabiskan sebagian waktunya dengan bertanya-tanya.

Saya adalah si seseorang tadi. Tapi saya juga adalah sang teman yang dieliminasi.

Alasan mengeliminasi bisa jadi karena orang ini kebanyakan negatifnya ketimbang positifnya, memiliki sikap yang tidak baik, pemikiran yang tidak cocok, dan setelah diutarakan keberatan kita (bukan dalam tujuan mengubah, tetapi mencari jalan tengah bersama) sikapnya itu terus berulang, atau membuat kesalahan yang membikin sakit hati betul; bisa dimaafkan tapi sulit dilupakan sehingga hubungannya tidak akan pernah sama. Di dunia, memang tidak ada malaikat yang selalu baik tetapi selalu ada pilihan siapa ingin berteman dengan siapa.

Lalu hal-hal yang diutarakan di atas harus saya telan pula karena saya termasuk orang yang dieliminasi. Apakah saya sudah menyakiti orang lain? Apakah ada sikap saya yang menyebalkan? Saya butuh sebuah alasan dari satu tindakan. 

Maka, untuk memutuskan lingkaran setan pertanyaan, maka saya memutuskan untuk bertanya pada teman yang saya rasa dia mengeliminasi saya. Ia adalah teman saya semenjak SMP. Kami berteman terus hingga kuliah. Hingga pada akhir kuliah, saya merasa dia menjauhi saya: sms tidak dibalas dan telepon tidak dijawab, yang mana ini bukan kebiasaannya. Setelah itu kami tidak berhubungan sama sekali sehingga saya kehilangan milestone-nya seperti saat ia lulus kuliah, saat mendapatkan pekerjaan, dan lainnya. Hingga tadi, empat tahun setelahnya, saya bertanya: "Ada apa dengan kita?"

Kalau ia tidak signifikan, pasti saya tidak akan repot-repot mikir. Kalau dia hanya teman selewat, pasti saya tidak akan ambil pusing.

Rupanya ia memang menghindari dari teman-temannya, termasuk saya, karena (menurutnya) saat itu ia sedang bermasalah dengan dirinya dan tidak bisa berbagi dengan siapa-siapa termasuk saya, bahwa yang menyelamatkannya dari semua itu adalah seseorang yang kini jadi pacarnya. Lalu setelah masa suramnya lewat pun ia tidak bisa menghubungi saya (walau sms) karena nomer saya tidak ada. Atau memang tidak ada keinginan seperti dulu pula?

Di sini dapat diketahui bahwa eliminiasi bisa terjadi bukan karena ada kekesalan laten, melainkan ada isu pribadi. Bahwa ketika teman memutuskan hubungan, itu tidak sepenuhnya salah orang lain, selain dia sendiri. Walaupun setelahnya ia memutuskan untuk berjarak, berjarak, dan berjarak dalam batas aman untuknya. 

Seperti yang sedang terjadi sekarang, entah mengapa teman yang lain ini sepertinya sedang menjaga jarak. Intensitas mengobrol berkurang, tidak hadirnya ia dalam suatu media pertemuan. Mudah-mudahan tidak sampai ia ingin memutuskan hubungan dengan saya. Mengeliminasi dan dieleminasi. Kupikir, karma itu ada dan nyata. Dan dia bekerja.

Comments

Sundea said…
Idup selalu punya sistem keseimbangannya kok, Ni. Kalo ada yang pergi, akan ada yang baru. Apapun bentuknya =)
Nia Janiar said…
Iya ya... *jadi mikir* Hehe..

Popular Posts