#3: Ngarai di Jakarta


Sudah saya sangka negeri dongeng ini memiliki jurang yang dalam dan luas. Saya sudah mempersiapkan mental untuk melihatnya, namun saat betul-betul di depan mata, sungguh membikin kegalauan luar biasa.

Pada hari Minggu sore, saya dan Niken, janjian untuk melakukan pinik bersama. Aksi ini sudah rutin dilaksanakan Niken dan kawan-kawan untuk berpiknik di taman-taman yang ada di Jakarta. Ia menawarkan untuk janjian di Halte Tosari. Karena sebelumnya saya memiliki agenda berburu foto di Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral, saya bilang ke teman saya bahwa kita ketemuan langsung di taman saja. Berbekal petunjuk dari Niken, saya sampai dengan selamat di Taman Suropati yang letaknya tidak jauh dari Bunderan HI, tepatnya di Jl. Imam Bonjol, Jakarta.
Proses pembuatan patung perunggu ini menghabiskan waktu sekitar satu tahun

Dari Halte Tosari, saya naik bus 213 ke arah Priok sambil meyakinkan kenek kalau ini betul melewati taman yang menjadi destinasi kami. Setelah kenek bilang, "Taman .. taman .." saya turun di dekat lampu merah. Sebelum melihat Taman Suropati, perhatian saya sudah tertuju pada patung Diponegoro yang menempati lahan seluas 3000 m2. Pedestrian dengan bunga-bunga yang tertatap rapi itu menghiasi sekeliling patungnya, belum lagi ada air mancur di bawah patungnya. Ciamik sekali.

Begitu mata mulai melihat dan kaki mulai menjejak Taman Suropati, saya berseru dalam hati, "Anjrit. Ngeselin banget!" Taman yang tertata, bersih, rerumputan menghampar hijau, air mancur yang membuncah di kala sore, pedagang yang tertata, orang-orang (baik pribumi dan asing) bermain ensamble, serta anak-anak berlarian sementara orang tua dengan suka cita menemaninya. Memang tidak ada masalah, justru bagus malah, tapi ini terlalu ... berbeda.

Pikiran saya langsung tertuju pada daerah tempat saya tinggal di Jakarta Timur, tepatnya daerah Pusat Grosir Cililitan dan Komodor Halim. Sampah kering berserakkan di jalan, angkutan berdesakkan di dekat perempatan Cililitan Besar, dan banyak pengemis yang duduk taman kecil dekat PGC. Lalu jika masuk ke arah Halim, akan ditemukan Taman Segitiga Intirub dengan rumput yang kering, tempat duduk yang tidak diurus dengan baik, dan terlihat sampah. Tentunya tidak akan terlihat orang-orang yang bermain biola atau terompet di sini.

Apakah karena di sini bukan area tempat tinggal gubernur atau pegawai kedubes sehingga tidak layak mendapatkan perlakuan yang sama? Lalu berada di Jakarta mana Taman Suropati ini? Di Jakarta bagian pencitraan? Apakah tidak terlihat kesamaan bahwa dari kedua taman di atas terlihat orang-orang yang berada di dalamnya sebagai tanda bahwa setiap warga (dari status sosial manapun) sama-sama membutuhkan ruang terbuka?

Tampaknya ini sudah jadi permasalah yang klise. Lalu ketika sudah klise, orang cenderung abai, tanpa sadar mereka sedang mengeruk dinding dan lantai ngarainya sendiri, jadi semakin lebar dan semakin dalam, menjauhkan dua kutub hingga sama sekali tidak terlihat keberadaannya. Yang di atas terlena akan kenyamanannya, yang di bawah terlena akan ketidakberdayaannya.

Akhirnya saya dan teman-teman menghabiskan waktu hingga malam. Teman saya, Mahel, bercerita bahwa ia pernah tidur di sana hingga pagi. Mungkin hanya di taman ini yang nyaman untuk ditiduri tanpa takut diganggu polisi atau preman/pengemis/gelandangan yang wara-wiri.

Selamat datang di Jakarta



External link:
Foto-foto Mesjid Istiqlal: http://www.flickr.com/photos/niajaniar/sets/72157630514968546/
Foto-foto Gereja Katedral: http://www.flickr.com/photos/niajaniar/sets/72157630539144786/
Foto-foto Taman Suropati: http://www.flickr.com/photos/niajaniar/sets/72157630488985598/

Comments

Popular Posts