Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2012

Sri Sumarah dan Bawuk

Di suatu sore, tahun 1975, Umar berkata padaku, "Aku akan membuat dua cerita roman." Aku menanggapinya biasa saja, sebiasa reaksinya saat karyanya terdahulu yaitu Seribu Kunang-Kunang di Manhattan dianggap sebagai cerita pendek terbaik oleh majalah Horison tahun 1968. "Kau kok biasa saja?" tanyanya merajuk. Aku menghela nafas, sedikit saja agar ia tidak melihatnya, lalu berkata, "Oh ya? Tentang apa?"

"Aku akan menulis tentang seorang perempuan yang begitu tabah, menyerah, berserah, terserah. Ya, akan kunamakan Sri Sumarah. Dia hanya tinggal sama neneknya, sekolah hanya sampai SKP, lalu menikah. Sebelum menikah, ia dinasihati oleh neneknya bagaimana menyenangkan suami agar betah tinggal di rumah. Seperti Sembadra yang melayani Arjuna. Krasan."

"Tunggu, tunggu," aku menyela. "Kok tidak berdaya begitu? Aku tidak setuju, ah!"

"Tidak setuju bagaimana?"

"Iya, tadi yang kau sebut itu.. menyerah, sekolah rendah, lalu …

#4: Suaka Jakarta

Jadi, pada suatu hari di pulang kerja, si Monyet diajak teman seperimbaannya pergi untuk membeli makanan yang pada awalnya temannya bilang Richeese Factory (belakangan diketahui Cheese Cake Factory) yang ada di Blok M dan Tebet. Karena di Tebet belum tahu betul keberadaannya dan daerah Kampung Melayu yang agak seram, maka mereka memutuskan pergi ke daerah Blok M saja.

Untuk mencapai Blok M, si monyet dan temannya ini harus naik Kopaja 57 yang baru ada setelah 45 menit menunggu karena kopaja dari arah Kramat Jati tidak kunjung datang. Untungnya ada kopaja yang putar balik sehingga mereka bisa segera berangkat. Setelah sampai Terminal Blok M, mereka berjalan sampai Taman Ayodya yang konon kata teman temannya si monyet restorannya tidak jauh dari sana.

Daerah di belakang Plaza Blok M ini ternyata bagus ya. Ada warung ayam goreng yang penuh sekali dan dikunjungi berbagai kalangan. Lanjut ke arah Jl. Mahakam, di sana juga ada restoran, bar & lounge Koi Mahakam dengan nama Carlsberg di…

Rumah Bambu

Rumah Bambu adalah satu-satunya kumpulan cerpen karya Y. B. Mangunwijaya. Kumcer yang berisi dua puluh tiga naskah cerpen ini sebagian besar ditemukan di rumah penulis di Kuwera, Yogyakarta, dalam kondisi yang sulit dibaca dan penuh koreksi. Tiga diantaranya sudah pernah dipublikasikan.
 Walaupun tidak semua tercantum tanggal pembuatannya, beberapa cerpennya menunjukkan tahun 1980-an.

Penulis adalah pria kelahiran Ambarawa, 6 Mei 1929. Ia pernah mengenyam pendidikan filsafat dan teologi di Yogyakarta. Selain menulis buku-buku fiksi (salah satunya Burung-Burung Manyar yang menurut beberapa orang teman saya mengatakan bagus), ia juga menulis banyak karya non-fiksi seperti karya-karya yang bertema religi, arsitekturial, dan lainnya.

Saat membaca kumpulan karya ini, saya mencoba memperhatikan gaya bahasa yang ia gunakan. Banyak kata-kata yang tidak saya pahami (bukan istilah, tapi melainkan kata yang jarang dipakai seperti gori, meni karmein, lincak, ambril, amben, dan lainnya) sehingga …

Kartu Pos dan Kantung Teh

Seharusnya sekarang saya sudah mulai menulis ulasan sebuah buku. Tapi karena buku tersebut agak sulit baca, maka belum selesai saja dan tidak tahu harus menulis apa. Beberapa kali saya mencoba menulis cerita keseharian, namun belakangan sering saya hapus dan saya batalkan untuk ditulis di blog. Karena merasa tidak penting dan pembaca yang budiman ini tidak minat pula membacanya.

Tapi, sebenernya saya mengalami pengalaman-pengalaman yang menarik:

1. Teman saya, Andika, mengirimkan kartu pos yang dikirimkan tanggal 7 Agustus 2012. Ia sedang keranjingan kartu pos. Hampir semua temannya ia kirim, bahkan sampai om, pengurus museum, hingga toko vintage. Bahkan ia rela-rela pergi untuk membeli kartu pos, juga mengirimkan kartu yang dikasih temannya setelah pergi dari Vietnam, juga kartu-kartu yang berasal dari Inggris. Sementara saya, dapat kartu pos ini:


2. Saya dan ibu saya buka puasa bersama di Rocca yang terletak di Jl. Progo. Restorannya cukup mahal tapi layak pula. Saya memesan Chicken…

Mengeluh Berkualitas

Pembaca yang budiman, postingan kali ini akan saya gunakan untuk memuntahkan keluhan yang terjadi di hari Senin (13/8). Memang permasalahannya bukan masalah paling besar dan menyedihkan sedunia, tapi ya agar blognya update saja. Jadi begini ...

1. Hari Senin, saya pergi ke bank Mandiri di Jl. R. E. Martadinata untuk mengambil ATM dan PIN Internet Banking yang sudah 10 hari dari pengajuan. Sampai di sana, ternyata ATM saya tidak bisa diaktivasi karena sepertinya ada masalah dengan jaringannya. Maka, salah satu costumer service yang baik hati (saya terkesan dengan kebaikannya semenjak saya buka rekening baru di sana) bilang bahwa ia akan menghubungi pihak IT dan akan menghubungi saya untuk konfirmasi. Setelah dari meja CS, saya beranjaklah ke meja teller untuk ambil PIN internet banking yang ternyata tidak ada pula (katanya belum sampai--padahal sudah 10 hari--dan saya harus ke sana lagi).

Selang dua jam, CS tersebut menelepon saya dan bilang bahwa ATM sudah aktif dan diharapkan saya bi…

Dokter-Dokter di Jalan

Cahaya matahari keemasan menerobos masuk rimbunnya pepohonan. Saat itu pukul setengah empat sore. Saya dan teman-teman Aleut berjalan menelusuri jalan-jalan yang diberi nama sesuai dengan nama dokter-dokter yang pernah berperan penting bagi Indonesia (dulu Hindia Belanda) atau setidaknya dikagumi sehingga dibikin nama jalannya dalam rangka menghormati.

Kami berkumpul di taman yang terletak Jl. Otten, dekat Rumah Sakit Hasan Sadikin. Taman yang rindang itu menjadi titik awal memulai perjalanan kami. Jalan Otten diambil dari seorang dokter bernama Louis Otten, pria kelahiran Rijswijk. Beliau merupakan penemu vaksin cacar dan vaksi pes pada tahun 1934. Ia juga pernah menjabat sebagai direktur Institut Pasteur (kini Bio Farma) dan mendapat nobel di dunia kesehatan. Siapa sangka kalau dokter pernah ikut Olimpiade Musim Panas sepakbola tahun 1908.

Tidak jauh dari sana, terdapat Jl. Westhoff yang terinspirasi dari Braille dalam menyantuni orang tuna netra. Pada tahun 1901, di Hinda Belanda …

Kenangan dalam Benda-Benda

Setelah sebulan di Jakarta, akhirnya saya diutus tugas ke Bandung juga selama dua minggu. Senang sekali, tentunya. Selain karena jam kerja yang fleksibel, bisa bertemu keluarga dan teman-teman, saya juga jadi bisa beres-beres kamar yang sudah ditinggal satu bulan. Tentunya saya menemukan debu tebal di kolong tempat tidur, pakaian yang bau apek karena lama disimpan, dan lainnya. Maka, sebaiknya semua itu diberesi sajalah ... terutama lemari.

Baju saya tidak banyak dan tidak beragam seperti perempuan kebanyakan. Itu-itu saja. Memang, pakaian bukan prioritas dalam menghabiskan uang (lebih cenderung ke buku, gadget, dan travelling) sehingga penampilan saya ya begini-begini saja. Sebagian besar pakaian saya adalah dikasih dari sepupu-sepupu perempuan. Biasanya mereka beli baju, lalu tidak cocok atau kesempitan, maka diberi ke saya. Atau mereka jalan-jalan, menemukan baju yang bagus lalu membeli baju tersebut untuk saya. Sama urusannya dengan tas, aksesoris, dan sandal cantik.

Lalu pakaian …