Skip to main content

Dokter-Dokter di Jalan


Cahaya matahari keemasan menerobos masuk rimbunnya pepohonan. Saat itu pukul setengah empat sore. Saya dan teman-teman Aleut berjalan menelusuri jalan-jalan yang diberi nama sesuai dengan nama dokter-dokter yang pernah berperan penting bagi Indonesia (dulu Hindia Belanda) atau setidaknya dikagumi sehingga dibikin nama jalannya dalam rangka menghormati.
Foto oleh Yandi Dephol

Kami berkumpul di taman yang terletak Jl. Otten, dekat Rumah Sakit Hasan Sadikin. Taman yang rindang itu menjadi titik awal memulai perjalanan kami. Jalan Otten diambil dari seorang dokter bernama Louis Otten, pria kelahiran Rijswijk. Beliau merupakan penemu vaksin cacar dan vaksi pes pada tahun 1934. Ia juga pernah menjabat sebagai direktur Institut Pasteur (kini Bio Farma) dan mendapat nobel di dunia kesehatan. Siapa sangka kalau dokter pernah ikut Olimpiade Musim Panas sepakbola tahun 1908.
Foto oleh Yandi Dephol
Foto oleh Nia Janiar

Tidak jauh dari sana, terdapat Jl. Westhoff yang terinspirasi dari Braille dalam menyantuni orang tuna netra. Pada tahun 1901, di Hinda Belanda banyak sekali tuna netra yang menumbuhkan rasa prihatin dr.  Westhoff  sehingga melaporkan hal tersebut ke jendral Hinda Belanda dan membuat Yayasan Perbaikan Nasib Orang Buta (Rumah Buta) di nusantara yang sekarang dikenal sebagai Wyata Guna. Sosoknya diabadikan sebagai patung dari kepala hingga dada yang dibuat sejak zaman kolonial dan kini berada di dalam kawasan Wyata Guna.
Foto oleh Yandi Dephol

Walaupun kami tidak melewati Jl. Pasteur, jalan yang selalu dilalui jika pergi atau datang dari luar kota ini tetap dibahas oleh para pegiat. Pasteur merupakan penemu penisilin (antibiotik) dan penemu pasteurisasi yaitu sebuah metode pemurnian anggur dan susu dalam suhu tinggi sehingga bakterinya musnah. Institut Pasteur didirikan di Perancis dan memiliki cabang di Hindia Belanda yaitu Bio Farma.
Foto oleh Yandi Dephol

Kami melanjutkan jalan kaki ke Jl. dr. Radjiman yang akan kau ketahui karena jalan ini khas sekali: adanya rentetan pedagang yang menjual anjing atau kucing. Radjiman Wedyodiningrat merupakan orang Jawa yang pernah bersekolah di Stovia--sekolah yang memperbolehkan hanya kaum pribumi ningrat untuk belajar. Berbeda dengan dokter lainnya, ia memilih terjun ke dunia politik dengan menjadi salah satu pendiri Boedi Oetomo.
Foto oleh Yandi Dephol

Selain itu terdapat dokter-dokter yang berasal dari luar P. Jawa seperti dr. Rubini yang berasal dari Kalimantan Barat atau dr. Susilo yang berasal dari Banjarmasin yang tidak bernasib baik. Mereka berdua ditangkap karena pergerakan masa kemudian dipenggal.

Sebelum menghabisi sesi ngaleut kali ini dengan buka bersama, kami melewati Jl. dr. Cipto yang lebih serius di dunia politik dan dikenal sebagai bagian dari Tiga Serangkai bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Karena kekritisannya terhadap pemerintah Belanda, ia sempat diasingkan ke Banda.
Foto oleh Yandi Dephol

Saat mendekati maghrib, saya dan teman-teman Aleut berbagi kesan di Iga Bakar Sijangkung yang rupanya menyita perhatian pengunjung lainnya. Mungkin berbicara sambil berdiri di tengah-tengah orang makan itu tidak lazim. Mungkin juga mereka ingin tahu. Mungkin ini bisa jadi salah satu cara melestarikan sejarah versi sederhana: melalui obrolan-obrolan ringan di angkringan.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…