Kartu Pos dan Kantung Teh

Seharusnya sekarang saya sudah mulai menulis ulasan sebuah buku. Tapi karena buku tersebut agak sulit baca, maka belum selesai saja dan tidak tahu harus menulis apa. Beberapa kali saya mencoba menulis cerita keseharian, namun belakangan sering saya hapus dan saya batalkan untuk ditulis di blog. Karena merasa tidak penting dan pembaca yang budiman ini tidak minat pula membacanya.

Tapi, sebenernya saya mengalami pengalaman-pengalaman yang menarik:

1. Teman saya, Andika, mengirimkan kartu pos yang dikirimkan tanggal 7 Agustus 2012. Ia sedang keranjingan kartu pos. Hampir semua temannya ia kirim, bahkan sampai om, pengurus museum, hingga toko vintage. Bahkan ia rela-rela pergi untuk membeli kartu pos, juga mengirimkan kartu yang dikasih temannya setelah pergi dari Vietnam, juga kartu-kartu yang berasal dari Inggris. Sementara saya, dapat kartu pos ini:


2. Saya dan ibu saya buka puasa bersama di Rocca yang terletak di Jl. Progo. Restorannya cukup mahal tapi layak pula. Saya memesan Chicken Kiev (semacam steak ayam berbalut tepung dengan minyak yang enak, dioles mustard, dan ditemani kentang yang lezat) dan ibu saya memesan Grilled Chicken Steak bersauskan jamur dan kentang goreng yang sangat memanjakan lidah! Saya penggemar kentang. Selain Rocca, kentang yang enak (baik goreng maupun tumbuk) ada di Karnivor di Jl. R. E. Martadinata dan Origin di Jl. Sumatera.


Masih di restoran yang sama, beberapa hari kemudian, saya datang bersama teman saya--Marty. Kali ini saya mencoba pastanya. Saya pilih yang direkomendasikan chief (nama menunya lupa). Jadi pasta di bawah ini bukan pasta tipikal yang berbalur keju dan daging. Spaghetti ini dimasak bersama minyak zaitun dan bayam. Rasanya asing di lidah Indonesia saya dan agak asin--entah memang sengaja atau keasinan.


3. Setelah lebaran, Andika datang ke rumah untuk bersilahturahmi. Ia membawa buah tangan dari calon iparnya yang baru pulang dari Jerman. Ia membawakan saya dua kantung teh yang wanginya haruuum sekali. Selain itu, benangnya seperti benang jahit, kainnya dan pembungkusannya seolah-olah dibikin sendiri, serta tulisan tangan Marani dan Green Sunshine. Sampai menuliskan ini, saya belum mencobanya karena sayang. Terima kasih, Dika!


Ah, ternyata menulis sedikit dengan bantuan foto juga cukup nyaman untuk kondisi serba susah mikir ini.

Comments

Egowati said…
mama udah lebih sehat,ya?:)
Nia Janiar said…
Alhamdulillah.. :)

Popular Posts