Kenangan dalam Benda-Benda

Setelah sebulan di Jakarta, akhirnya saya diutus tugas ke Bandung juga selama dua minggu. Senang sekali, tentunya. Selain karena jam kerja yang fleksibel, bisa bertemu keluarga dan teman-teman, saya juga jadi bisa beres-beres kamar yang sudah ditinggal satu bulan. Tentunya saya menemukan debu tebal di kolong tempat tidur, pakaian yang bau apek karena lama disimpan, dan lainnya. Maka, sebaiknya semua itu diberesi sajalah ... terutama lemari.

Baju saya tidak banyak dan tidak beragam seperti perempuan kebanyakan. Itu-itu saja. Memang, pakaian bukan prioritas dalam menghabiskan uang (lebih cenderung ke buku, gadget, dan travelling) sehingga penampilan saya ya begini-begini saja. Sebagian besar pakaian saya adalah dikasih dari sepupu-sepupu perempuan. Biasanya mereka beli baju, lalu tidak cocok atau kesempitan, maka diberi ke saya. Atau mereka jalan-jalan, menemukan baju yang bagus lalu membeli baju tersebut untuk saya. Sama urusannya dengan tas, aksesoris, dan sandal cantik.

Lalu pakaian itu menumpuk. Saya banyak menerima tapi kurang banyak memberi. Biasanya setiap setahun dua kali saya keluarkan, tapi barang satu-dua pakaian saja. Tapi akhir-akhir ini pakaian yang dikeluarkan jumlahnya cukup banyak. Namun masih ada beberapa pakaian yang ingin dikeluarkan tapi terganjal dengan urusan "kenangan" seperti jas almamater, baju angkatan, baju saat jadi panitia acara, baju menang lomba, toga, dan lainnya. Waah, ini jarang dipakai tapi memenuhi lemari saja.

Awalnya saya ingin membuang kesemua itu, tapi teman-teman menyarankan jangan karena ada nilai "kenangan" di dalamnya. Ada perjuangan bersama dengan teman-teman saat masih aktif di himpunan, ada peluh saat mengerjakan acara, dan seterusnya. Dan tentunya baju seperti itu tidak akan diproduksi lagi alias eksklusif atau seumur hidup sekali. Lagipula kalaupun baru, nilainya tidak akan pernah sama.

Saya sendiri bukan tipe orang yang terlalu mengagungkan pentingnya menyimpan sebuah barang yang memiliki kenangan. Beberapa saya simpan, beberapa lagi tidak. Ternyata bagi sebagian orang, kenangan tidak cukup disimpan di pikiran. Mereka menyimpan kenangan dalam benda-benda, misalnya surat, pakaian, hiasan, dan lainnya. Namun, jika umur semakin panjang dan banyak kejadian yang harus dikenang, bukankah akan semakin banyak tumpukkan barang-barang?

Pada akhirnya pakaian-pakaian tadi urung saya hibahkan karena pertimbangan dari teman-teman. Saya lipat dan simpan lagi di pojok lemari. Entah sampai kapan. Mungkin sampai saya berubah pikiran.

Comments

Rizal Affif said…
Dulu gw juga suka nyimpen barang2 karena kenangab, Ni, sampai... gw sadar, semakin banyak gw menyimpan kenangan dalam bentuk barang, semakin sulit untuk hidup di saat ini. Energi barang2 itu justru membuat energi hidup yang harusnya mengalir lancar jadi terhambat. Jadilah gw banyak menyingkirkan clutters. It's worth it to clean your closet, life would flow easier :)
Nia Janiar said…
Wow, energi. Perspektif baru buat gue. Thanks.


Btw, akhirnya sudah gue hibahkan. :D
lintang said…
Wah sayang sekali, saya juga sama kaya mbak, banyak memiliki dan menyimpan barang2 kenangan, semua msh saya simpan, saya tdk bisa membayangkan bagaimana perasaan saya ketika melihat barang2 itu pd saat saya sudah sangat tua sekali, so amazing :-D

Popular Posts