Mengeluh Berkualitas

Pembaca yang budiman, postingan kali ini akan saya gunakan untuk memuntahkan keluhan yang terjadi di hari Senin (13/8). Memang permasalahannya bukan masalah paling besar dan menyedihkan sedunia, tapi ya agar blognya update saja. Jadi begini ...

1. Hari Senin, saya pergi ke bank Mandiri di Jl. R. E. Martadinata untuk mengambil ATM dan PIN Internet Banking yang sudah 10 hari dari pengajuan. Sampai di sana, ternyata ATM saya tidak bisa diaktivasi karena sepertinya ada masalah dengan jaringannya. Maka, salah satu costumer service yang baik hati (saya terkesan dengan kebaikannya semenjak saya buka rekening baru di sana) bilang bahwa ia akan menghubungi pihak IT dan akan menghubungi saya untuk konfirmasi. Setelah dari meja CS, saya beranjaklah ke meja teller untuk ambil PIN internet banking yang ternyata tidak ada pula (katanya belum sampai--padahal sudah 10 hari--dan saya harus ke sana lagi).

Selang dua jam, CS tersebut menelepon saya dan bilang bahwa ATM sudah aktif dan diharapkan saya bisa balik lagi untuk ambil PIN. Karena saya sudah ada di travel Cipaganti menuju Jakarta, saya bilang apakah bisa saya minta PIN-nya lewat telepon, ia menjawab tidak, tapi ia bilang bahwa bisa minta di kantor cabang. Sebelum menutup telepon, ia meminta maaf. Walaupun saya agak kecewa, tapi tidak apa-apa.

2. Saat sampai di Cipaganti, ternyata keberangkatan selanjutnya (satu jam dari waktu kedatangan saya) itu tidak ada, sehingga saya harus berangkat dua jam kemudian. Karena berpikir bahwa travel lain yang saya mau jauh dari Pasteur, maka saya pilih menunggu dua jam. Tapi kemudian menyesal kenapa harus kekeuh ke jurusan Dewi Sartika, kenapa tidak mencari tujuan di Jakarta Timur lainnya. Ahk, ya sudahlah.

3. Menunggu memang membosankan. Saya bawa dua buku: Umar Kayam dan Y.B. Mangunwijaya tapi buku itu sengaja tidak saya baca semenjak Bandung karena sengaja untuk bacaan di Jakarta. Oh! Kan saya bawa netbook, kenapa tidak main internet saja! Maka saya nyalakan itu si Sophie, saya colok modemnya, dan JRENG ... kuotanya sudah habis kemarin.

Di BTC memang ada gerai telepon yang menjual kartu perdana. Tapi saat saya datang, ternyata tokonya tutup. Oh! Mungkin karena masih jam 10. Lalu saya datang sejam kemudian, ternyata masih tutup. Oh! Akhirnya saya mencoba jalan keluar BTC dan mencari gerai pulsa. Dan tidak ada. Mak.

4. Sepulang kerja, teman saya ingin ketemu karena saya membawa kue lebaran untuknya. Saya bilang bagaimana jika besok saja karena saya harus beres-beres kostan yang sudah ditinggal 2 minggu, tapi dia bilang ingin hari ini karena mumpung dia sedang buka bersama di luar (dan malas jika harus keluar keesokan harinya). Kami janjian di Plaza Semanggi. Ya sudah, demi mempromosikan kue lebaran.

Di timeline Twitter banyak yang menyebutkan kalau Jakarta sedang macet-macetnya. Oh! Selain lewat Pancoran yang terkenal macet, saya 'kan bisa lewat Tendean dan Wolter Monginsidi untuk ke Blok M lalu sambung busway ke Plaza Semanggi. Cerdas, bukan? Itulah yang namanya pengalaman! Maka saya nunggu Kopaja M57 di dekat PGC yang lamaaa sekali karena terhambat di Kramat Jati, padahal yang mau naik juga sudah antri. Lalu saya mencoba cerdas dengan mencoba naik busway dari halte PGC. Tapi ternyata penumpang tidak bisa masuk halte karena kata petugas busway-nya terhambat di Pancoran jadi kedatangannya tidak bisa diperkirakan. Maka saya balik lagi ke tempat tunggu Kopaja. Ternyata tidak cerdas-cerdas amat. Bah.

Kemacetan di Kalibata akibat lampu merah yang lama itu ternyata tidak seperti biasa. Hari itu antrian agak cepat. Saya agak lega. Tapi ternyata macetnya berpindah ke Mampang sampai Blok M. Merayap! Saat di Tendean, teman saya telepon untuk bertanya saya ada di mana, saya bilang saya ada di Wolter Monginsidi (bohong dikit). Terus dia bilang, "Kalau lo balik, udah kejauhan ya?" Saya jawab, "Ya masa baliiikkkk?"

Wolter Mongindisi, tempat yang banyak restoran mahal itu, juga macet. Saya memutuskan turun dari kopaja dan naik ojek ke Blok M Plaza (rencana tempat diganti, teman saya yang menyambut bola, agar pertemuan cepat terjadi) seharga Rp. 15.000. Ternyata macetnya akibat mobil-mobil yang mau keluar dari restoran. Hih. Etapi di kisaran Blok M-nya juga merayaaap.

5. Ya sudah, akhirnya kami ketemuan di Burger King. Pas saat saya datang, banyak sisa makanan orang-orang yang habis buka puasa itu belum dibersihkan sehingga saya sulit cari tempat bersih. Beda banget sama yang di Thamrin, bahkan di sana ada satpamnya segala! Setelah dapat, saya duduk, makan, teman saya datang, ngobrol sebentar, kasih kue, lalu pulang. Jalan pulangnya juga macet di Duren Tiga. Mana nafas sudah sesak karena udara yang berpolusi terasa berat untuk dihirup. Tapi ya sudahlah ya, namanya juga Jakarta, suruh siapa datang ke sini.

Ternyata Jakarta masuk ke dalam The World's 20 Worst Places to Work dan menempati urutan ke-2. Benar kata teman saya; kalau kamu bisa tinggal di Jakarta, maka kamu bisa tinggal dimana saja. Selamat, Bung!

Comments

Popular Posts