Rumah Bambu


Rumah Bambu adalah satu-satunya kumpulan cerpen karya Y. B. Mangunwijaya. Kumcer yang berisi dua puluh tiga naskah cerpen ini sebagian besar ditemukan di rumah penulis di Kuwera, Yogyakarta, dalam kondisi yang sulit dibaca dan penuh koreksi. Tiga diantaranya sudah pernah dipublikasikan.
 Walaupun tidak semua tercantum tanggal pembuatannya, beberapa cerpennya menunjukkan tahun 1980-an.

Penulis adalah pria kelahiran Ambarawa, 6 Mei 1929. Ia pernah mengenyam pendidikan filsafat dan teologi di Yogyakarta. Selain menulis buku-buku fiksi (salah satunya Burung-Burung Manyar yang menurut beberapa orang teman saya mengatakan bagus), ia juga menulis banyak karya non-fiksi seperti karya-karya yang bertema religi, arsitekturial, dan lainnya.

Saat membaca kumpulan karya ini, saya mencoba memperhatikan gaya bahasa yang ia gunakan. Banyak kata-kata yang tidak saya pahami (bukan istilah, tapi melainkan kata yang jarang dipakai seperti gori, meni karmein, lincak, ambril, amben, dan lainnya) sehingga dapat menambah kosa kata. Selain itu ia banyak menggunakan istilah asing yang ditulis dalam omongan bahasa Indonesia seperti rait o hrong ai olwees siip atau telleffaon.

Contoh gaya bahasa yang saya suka misalnya seperti ini:

"Ada macan tutul, ada bambu tutul juga. Kuning gading berbintik-bintik besar kecil cokelat elok. Puas sekali Parji memandang dan menyeka lincak bambu tutul yang baru dibelinya itu." (hal. 88)

Dalam kalimat di atas, saya suka bagaimana Mangunwijaya memadatkan penggambaran kursi dengan kuning gading berbintik-bintik besar kecil cokelat elok ketimbang sebuah kursi berwarna kuning gading dengan motif bintik berukuran besar kecil dan bewarna cokelat yang indah sehingga menjadi lebih efektif.

"Sekali lagi Mbok Imah melirik masygul dari stupa kelapa dan gorinya, melepaskan anak panah-anak panah kejengkelan ke mata lelaki yang hanya sejarak dua batang petai di belakangnya." (hal. 134)

Untuk kalimat di atas, saya tertawa begitu membaca dua batang petai di belakangnya. Ukuran panjang yang lain digunakan oleh penulis bisa dicontoh pembaca untuk menggunakan hal-hal yang tidak biasa dalam tulisan.

Namun terkadang gaya bahasanya berganti menjadi kaku seperti yang ada di cerpennya yang berjudul "Mbah Benguk":

"Namun kearifan pengalaman sehari-hari manusia yang tercetus dalam mitologi selalu ungkapan pengetahuan bawah sadar bahwa kebijaksanaan sehari-hari suatu bangsa lebih lengkap pengertiannya. Bagi si anak, ada wanita yang dialaminya selaku almamater (ibunda tersayang) dan kita boleh berasumsi jumlah mereka banyak, tetapi ada yang ibarat Betari Durga yang pemusnah dan mengerikan atau leyak-leyak Bali. (Dapat diasumsi, banyak juga jumlahnya.)" (hal. 114)

atau cerpennya berjudul "Renungan Pop" yang pernah dimuat dalam Horison No. 2 Tahun XIX, Februari 1985

"Dan bukankah tumpukkan besi tua dan drum-drum bekas aspal PUTL itu ekspresi strukturialisme estetis yang transparan menggetarkan warta senja yang menawarkan suatu fajar baru?" (hal. 126)

Saya membaca Rumah Bambu membutuhkan waktu cukup lama karena kumcer ini agak sulit dibaca. Bukan karena temanya yang berat, tetapi struktur kalimat di dalam karyanya kadang ada beberapa yang tidak beraturan, seperti "Aku tanya belirecykler ekologi tadi berkuliah." (hal.130)

Dari semua cerpennya, saya paling menyukai Rumah Bambu karena ceritanya yang begitu mengena di hati. Cerpen ini berkisah tentang Parji, seorang tukang kebun dan pembantu di sebuah motel, yang mendapat rumah kontrakan terbuat dari bilik dan memiliki lincak (bangku panjang dari bambu) yang mengkilat layaknya kursi priyayi . Walaupun sederhana, ia sangat bangga dengan rumahnya, apalagi ia bisa membawa istrinya dan anak yang baru lahir ke rumahnya. Selama ini, mereka tinggal di rumah mertua Parji. Walaupun mertuanya baik, Parji selalu merasa berada di bawah bayang-bayang mertua.

Akhirnya hari yang menggetarkan tiba untuk memperlihatkan rumah barunya kepada istrinya. Bukannya senang, istrinya malah tidak mau tinggal di sana karena renggangnya bilik dan lantai kayu bisa bikin bayinya masuk angin. Walaupun Parji sudah meyakinkan bahwa bayinya tidak akan apa-apa, sang istri tetap percaya pada suster Methilda daripada ... Tidak meneruskan kalimatnya, Parji tahu bahwa istrinya mengkecilkan Parji yang hanya jongos motel saja.

Comments

Popular Posts