Sri Sumarah dan Bawuk


Di suatu sore, tahun 1975, Umar berkata padaku, "Aku akan membuat dua cerita roman." Aku menanggapinya biasa saja, sebiasa reaksinya saat karyanya terdahulu yaitu Seribu Kunang-Kunang di Manhattan dianggap sebagai cerita pendek terbaik oleh majalah Horison tahun 1968. "Kau kok biasa saja?" tanyanya merajuk. Aku menghela nafas, sedikit saja agar ia tidak melihatnya, lalu berkata, "Oh ya? Tentang apa?"

"Aku akan menulis tentang seorang perempuan yang begitu tabah, menyerah, berserah, terserah. Ya, akan kunamakan Sri Sumarah. Dia hanya tinggal sama neneknya, sekolah hanya sampai SKP, lalu menikah. Sebelum menikah, ia dinasihati oleh neneknya bagaimana menyenangkan suami agar betah tinggal di rumah. Seperti Sembadra yang melayani Arjuna. Krasan."

"Tunggu, tunggu," aku menyela. "Kok tidak berdaya begitu? Aku tidak setuju, ah!"

"Tidak setuju bagaimana?"

"Iya, tadi yang kau sebut itu.. menyerah, sekolah rendah, lalu harus melayani pria. Kok perempuan dibuat selemah itu?" ujarku menuju sengit.

"Lho, justru itulah kekuatan perempuan. Patuh, sabar, mengerti kelemahan suami sekaligus mengagumi kekuatannya. Pasangannya yang akan kubuat ini, si Martokusumo, layaknya laki-laki kebanyakan: manja di tempat tidur, anak kecil yang selalu ingin disayang-sayang, anak kecil yang akan meronta jika keinginannya tidak dipenuhi. Menyerah di sini artinya mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak."

"Lalu mau kau bikin bagaimana agar si Marto ... Marto siapa tadi?"

"Martokusumo."

"Ya, lalu mau kau bikin bagaimana si Sri Sumarah agar bisa membesarkan hati suaminya?"

"Akan kubikin dia menjaga semua hal dari dapur, tempat tidur, sikap, dan segala omongan. Namun si Marto akan meninggal setelah menikah 12 tahun lamanya sehingga Sri Sumarah harus sumarah dengan nasibnya. Caranya ... hm ... masih kupikirkan. Lalu akan kubikin anaknya terlibat politik sayap kiri sehingga ia harus mengurus cucunya sendirian. Lagi-lagi sumarah. Lalu ia harus bekerja dan sumarah dengan nasib yang diterimanya."

"Tragis. Kau tidak sayang pada tokohmu, Umar?"

Ia terkekeh lalu berkata, "Justru itu. Tokoh itu jangan diapik-apik, jangan disayang-sayang tanpa konflik. Justru kasih dia masalah biar ceritanya berjalan. Dan ada greget."

"Tadi kau bilang ada dua roman. Satu lagi mengenai apa?"

Ia mulai tersenyum lebar, tahu kalau dia berhasil membuatku tertarik mendengarkan rencananya. Karena tahu kalau aku akan mengurungkan niat jika ia terus menyombongkan keberhasilannya, maka ia buru-buru melanjutkan, "Kalau yang ini tentang Bawuk. Berbeda dengan tokoh sebelumnya, ia orangnya bukan tipe yang menyerah."

"Jiwa pemberontak"

"Dalam cara yang pintar," ujar Umar Kayam dengan bangga.

"Coba ceritakan."

Lalu pria kelahiran tahun 1932 ini bercerita tentang seorang anak perempuan terakhir dari seorang priyayi dengan karakter periang dan dapat mencairkan suasana--berbeda dengan keempat kakaknya yang begitu priyayi: tertata dan disiplin. Ketika dua kakaknya menikah dengan pria yang memiliki jabatan dan kedua kakak lainnya mendapat gelar akademis, Bawuk memilih untuk menikah dengan Hassan--seorang pria yang bahkan tidak lulus SMA namun menjadi pemimpin kelompok politik sayap kiri.

"Aku sudah bisa menduganya! Pasti ia akan dicari tentara. Iya, kan?"

"Tidak sepenuhnya benar. Hassan yang akan dicari tentara karena statusnya Bawuk tidak jelas. Mereka jadi harus berpindah-pindah hingga anak-anaknya menjadi terlalu peka, pemurung, serba awas."

"Ah, kini kau mencelakakan anak-anak lewat tulisan."

Ia terkekeh lagi. "Jangan terlalu sentimentil begitu ah. Ini kan hanya fiksi."

"Tapi komunis itu nyata. Pasti kejadian seperti ini pernah ada."

"Tenang.." Ia mencoba menekan emosiku. "Anak-anak tidak akan lama-lama disakiti. Mereka aman. Kubuat mereka tinggal di rumah ibunya Bawuk."

"Lalu Bawuk?"

"Ia akan meninggalkan rumah ibunya, pergi ke tempat persembunyian sambil menunggu Hassan."

"Tapi keduanya selamat, 'kan?"

Umar hanya tersenyum saja. Aku mulai tidak menyukainya jika ia mulai membiarkan ceritanya menggantung. Kemudian ia bertanya apakah ceritanya bagus. Aku bilang iya. Aku bilang plot ceritanya terlihat sederhana, topik yang diambilnya pun tidak rumit, tapi kuyakin dalam racikannya, novel ini akan bagus. Apalagi ia paling jago memainkan emosi-emosi tipis yang disampaikan kepada pembacanya. Misalnya di cerpen Kunang-Kunang di Manhattan, ia menggambarkan emosi sedih tanpa dilabel sedih atau menangis di akhir cerpennya.

-----

Review Seribu Kunang-Kunang di Manhattan bisa dilihat di sini http://mynameisnia.blogspot.com/2010/08/seribu-kunang-kunang-di-manhattan.html

Comments

Popular Posts