#4: Suaka Jakarta


Jadi, pada suatu hari di pulang kerja, si Monyet diajak teman seperimbaannya pergi untuk membeli makanan yang pada awalnya temannya bilang Richeese Factory (belakangan diketahui Cheese Cake Factory) yang ada di Blok M dan Tebet. Karena di Tebet belum tahu betul keberadaannya dan daerah Kampung Melayu yang agak seram, maka mereka memutuskan pergi ke daerah Blok M saja.

Untuk mencapai Blok M, si monyet dan temannya ini harus naik Kopaja 57 yang baru ada setelah 45 menit menunggu karena kopaja dari arah Kramat Jati tidak kunjung datang. Untungnya ada kopaja yang putar balik sehingga mereka bisa segera berangkat. Setelah sampai Terminal Blok M, mereka berjalan sampai Taman Ayodya yang konon kata teman temannya si monyet restorannya tidak jauh dari sana.

Daerah di belakang Plaza Blok M ini ternyata bagus ya. Ada warung ayam goreng yang penuh sekali dan dikunjungi berbagai kalangan. Lanjut ke arah Jl. Mahakam, di sana juga ada restoran, bar & lounge Koi Mahakam dengan nama Carlsberg di depannya, dan hotel yang arsitekturnya bagusss banget. Suasananya jalan itu juga berbeda dengan daerah terminal yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja. Mobil-mobil bagus berjajar di pinggir jalan, seorang perempuan berpakaian glamour dengan sepatu hak tinggi naik mobil Alphard, seorang pria muda berkepala plontos memakai kemeja dan jas yang necis ... lagi-lagi monyet terkagum-kagum dengan rimba yang absurd dan kentara sekali dualitasnya.

Tiba-tiba monyet merasa sedang berwisata. Ini begitu di asing.

Di ujung Jl. Mahakan ada taman yang kondisinya bagus (walau tidak sebagus Taman Suropati), dikelilingi rumah makan bagus dan perkantoran yang design-nya menarik. Teman si monyet berkata, "Wah, enak ya kalau pulang kerja duduk-duduk sebentar di sini." Lalu monyet menanggapi, "Bagaimana jika kostan kita pindah saja ke sini?"

Entah naik apa temen temennya si monyet ini pergi ke Cheese Cake Factory karena jaraknya cukup lumayan jika ditempuh dengan gelantungan. Akhirnya setelah bertanya pada binatang-binatang rimba lain, ditemukanlah tempat yang dimaksud. Ternyata ini adalah toko kue seperti Harvest.

Kue yang disajikan ya standar seperti Opera, Red Velvet, Blueberry Cheesecake, dan lainnya. Dari beragam kue, si monyet mencoba Vanilla Fruit yang banyak topping buah di atasnya. Selain itu, ia sudah keseringan coba cokelat dan keju, maka kali ini ia ingin vanilla. Saat gigitan pertama, enak! Gigitan pertengahan, biasa. Gigitan menuju habis, eneg. Tapi setelah monyet membandingkan dengan toko-toko cake yang ada di suakanya terdahulu, walaupun tidak lebih lembut, tapi adonannya lebih kental dan terasa penuh di mulut. Berbeda dengan si monyet, temannya ini beli Red Velvet yang rasanya lebih kentara kejunya ketimbang vanillanya. Namun kue temannya ini lebih enak dari miliknya. Untuk minumnya, monyet pesan minuman soda sementara temannya pesan jus stroberi.
Vanilla Fruit yang ditengahnya ada lapisan tipis bolu

Red Velvet dan strawberry juice

Sambil makan-makan tidak cantik (karena makannya rusuh akibat lapar lalu si monyet menumpahkan sedikit soda di meja dan pakai sedotan yang terbalik), si monyet membaca majalah Now Magazine. Majalah ini mengingatkan ia pada temannya yang bekerja di majalah tersebut. Isinya tentang kegiatan-kegiatan para kelas menengah atas yang membikin si monyet bertanya-tanya dari mana dan berapa gaji mereka. Tapi hal ini ada! Mimpi-mimpi di majalah ini, entah potret realita para sosialita yang sesungguhnya, ada di Jakarta. Tiba-tiba sofa empuk yang didudukinya terasa keras, pendingin ruangan jadi terlalu dingin, makanan yang dikecap terlalu asing. Monyet tidak di sini.

Hanya sekitar 30 menit duduk, mereka sudah harus pulang karena masih ada bus yang harus dikejar. Sebelumnya, si monyet beli bakpao daging dan bakso tahu di sekitaran Taman Ayodya untuk dibawa pulang. Syukurlah keduanya enak, tidak seperti bakso tahu sekeras sendal jepit dengan rasa ban dalam yang pernah ia makan di supermarket. Lalu mereka berjalan mendekati realita pasar malam, ada yang menjual beha dan baju katun yang bau barunya tercium pekat. Bus tak kunjung terlihat. Untungnya temannya si monyet ditelepon keluarganya dan akan diantarkan pulang. Jadi, si monyet berkenalan dengan ibu, kakak, dan kakak ipar si teman. Sampai di Kalibata, si monyet pamit pulang duluan.

Pulang. Bagaimana orang-orang bisa pulang di tempat yang begitu asing ini?

Comments

Popular Posts