Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2012

Banyu Busuk

Saat dia bilang dia akan kawin, aduh ... rasanya hati ini lega betul. Rasanya ada beban besar yang diangkat dari pundak sehingga saya bisa bebas berjalan dan bertingkah seperti apapun. Tidak jalan menunduk-nunduk seperti dahulu.

Sebut saja namanya Banyu.

Banyu adalah seorang pria rupawan dengan rahang tegas, tubuh tinggi tegap, kulitnya cokelat, dan kalau menatap ... adduuuh, tidak ada yang tidak lumer dibuatnya. Saya seperti cokelat dijemur lama-lama atau seperti es kutub di zaman yang serba panas ini; meleleh. Lalu rupanya si rupawan ini pun tertarik betul dengan saya yang katanya punya segudang cerita, berkabut sehingga ia merasa tertantang untuk menyibaknya, juga rahasia-rahasia dalam yang ingin ia ketahui. Karena usahanya yang intens untuk melepas lapis demi lapis, maka akhirnya saya seperti batu yang memiliki ceruk karena tetesan air yang selalu sabar.

Lalu saya buka semuanya hingga saya tidak memiliki apa-apa lagi. Transparan.

Namun lama-kelamaan, Banyu memang boleh jadi pujaa…

Gedung Gas

Kalau lewat Jalan Braga arah Jalan Naripan, akan terlihat sebuah gedung besar di sebelah kanan jalan. Gedung ini selalu ditutup karena tidak dipakai dan bidang luas di depan gedung selalu menjadi bulan-bulanan warga untuk digambari atau ditempeli sesuatu. Kalau malam, trotoar depannya dipakai orang-orang untuk duduk-duduk sambil minum minuman beralkohol yang beli dari mini market terdekat. Tapi sepertinya malam ini tidak akan ada yang duduk di sana karena trotoarnya hitam dan bau. Menurut warga, ada gerobak tempat sampah yang sempat berhenti dan airnya sampahnya menetes kemana-mana.

Saat ngaleut hari Minggu (9/9) kemarin, pintu gedung besar itu terbuka, hanya boleh dikunjungi aleutians dan beberapa anak ITB yang memang mengurus perizinan untuk masuk. Kata Bey, ketua kelompok non VIP (bercanda), kita beruntung bisa masuk karena perizinannya susah dan harus diurus ke Jakarta. Lagi-lagi, pengalaman menelusuri tempat yang tidak dikunjungi semua orang yang saya dapat melalui aleut seperti …

Diri yang Tak Kukenal

Seorang teman berkata tulisan saya kini lebih kaku. Ya, informatif, tapi tidak ada sentuhan personal (atau jatahnya sedikit). Teman yang lain pun berkata bahwa sekarang kurang imajinatif. Apakah ini pertanda semakin tua maka seseorang akan semakin membosankan?

Kemarin, saya melihat kembali tulisan-tulisan lama saya yang ada di blog yang saat membacanya bikin mengerenyitkan dahi tidak mengerti. Karena saya menulis hal-hal seperti ini:

"Jam pasir pun siap berlomba dengan dimensi waktu yang ada. Mereka saling berebut masuk pada tabung dibawahnya. Kasian ya mereka, hidup bolak-balik antar tabung dan diburu oleh waktu. Pasti menjemukan ya?
Kamu tahu waktu itu apa? Detik? Menit? Jam? Hari? Bulan? Tahun? Oh.. bukan. Itu bukan definisi dari waktu tetapi itu bagian dari waktu. Waktu itu adalah ruang yang tidak terlihat. Kamu tidak perlu menempelkan definisi saya dan membuatnya permanen di otak karena itu adalah jawaban yang tidak ilmiah." (26 Maret 2006)
"Tergagas dalam pemikira…

Larung

"Dari semua karya Ayu Utami, saya paling suka tokoh Larung. Rasanya ingin ketemu di dunia nyata."

Lalu Ayu Utami membalas dalam twit-nya, "He's dark and fragile at the same time."

Iya, mungkin saya suka orang-orang yang gelap dan rapuh. Seperti teman-teman saya dalam keseharian. Gelap. Rumit. Tetapi rapuh.

Jika kamu belum pernah membaca Larung, akan saya jabarkan mengenainya. Larung saya temui dalam sebuah novel yang penulisnya sudah disebutkan di atas. Larung, dengan judul yang diambil dari nama tokoh, merupakan novel kelanjutan Saman (1998). Sebelumnya saya sudah baca saat SMA namun otak belum kesampaian dan alur terasa super duper lambat. Setelah saya baca ulang, saya sangat tertarik dengan tokoh ini. Saat saya menunjukkan ketertarikan padanya, salah satu teman saya bilang, "Seriously? The psychotic activist whom desecrated his own grandmother's cadaver?"

Tidakkah itu menarik, kawan?

Larung ini pulang kampung dalam rangka "mempermudah"…

Hilangnya Otoritas Pada Diri

Barusan teman saya pulang ke kampung halamannya. Sudah seminggu belakangan ini ia tampak sibuk--bolak-balik menerima telepon. Juga beberapa kali ia terlihat kusut dengan area kisaran mata yang lembab, entah baru nangis atau kecapekan. Ia pun terjebak dalam euforia berkegiatan yang berlebihan seperti seseorang yang sedang melupakan sesuatu. Karena ia tidak bercerita, maka saya tidak bertanya.

Dulu, kami pernah mengobrol tipe cowok yang kami sukai. Dia bilang dia suka laki-laki berkulit terang dan bermata sipit. Sementara saya kebalikannya. Lalu kami saling memperlihatkan contoh orang-orang yang sesuai dengan kriteria. Kemudian di tengah-tengah obrolan, sempat ada isu yang dilontarkan bahwa ia dipaksa menikah oleh orang tuanya. Maka iseng saya tebak alasan kepulangannya sebelum hari ini, ia menjawab, "Kira-kira seperti obrolan kita dulu." Lalu setelah ia kembali dari kepulangannya, saya bertanya sambil bercanda, "Jadi?" lalu ia menjawab, "Sudah."

"Suda…

#5: Perburuan Monyet

Akhir-akhir ini si monyet mengintenskan perburuan bukunya di rimba Jakarta. Kebanyakan buku yang ia cari adalah novel bekas/loak karya sastrawan Indonesia. Selain ingin terlihat keren, si monyet butuh distraksi besar-besaran dari kebosanan di kostan. Ya, sebetulnya bisa dengan internet, tapi buku tetap tidak boleh ditinggalkan. Dan siapa tahu si monyet bisa belajar rasa bahasa dari para sastrawan.

Begitu kira-kira pencitraannya.

Padahal ingin yang murah saja. Tapi ternyata justru anggapan buku loak itu murah adalah salah.

Dulu Jakarta punya daerah bernama Kwitang (semacam Palasari di suakanya terdahulu) yang kini para pedagangnya berpencar ke Senen, Thamrin City, Blok M, Plaza Semanggi, Taman Ismail Marzuki, dan Pondok Cina UI. Dari kesemua tempat itu, ia baru mengelana ke tiga daerah pertama yang tadi disebutkan. Ternyata setiap tempat itu memiliki kekhasan bukunya dan ceritanya masing-masing. Maka monyet akan berbagi kisah:

Dari tempat monyet berada, jalan menuju Senen tidaklah sus…