#5: Perburuan Monyet


Akhir-akhir ini si monyet mengintenskan perburuan bukunya di rimba Jakarta. Kebanyakan buku yang ia cari adalah novel bekas/loak karya sastrawan Indonesia. Selain ingin terlihat keren, si monyet butuh distraksi besar-besaran dari kebosanan di kostan. Ya, sebetulnya bisa dengan internet, tapi buku tetap tidak boleh ditinggalkan. Dan siapa tahu si monyet bisa belajar rasa bahasa dari para sastrawan.

Begitu kira-kira pencitraannya.

Padahal ingin yang murah saja. Tapi ternyata justru anggapan buku loak itu murah adalah salah.

Dulu Jakarta punya daerah bernama Kwitang (semacam Palasari di suakanya terdahulu) yang kini para pedagangnya berpencar ke Senen, Thamrin City, Blok M, Plaza Semanggi, Taman Ismail Marzuki, dan Pondok Cina UI. Dari kesemua tempat itu, ia baru mengelana ke tiga daerah pertama yang tadi disebutkan. Ternyata setiap tempat itu memiliki kekhasan bukunya dan ceritanya masing-masing. Maka monyet akan berbagi kisah:

Dari tempat monyet berada, jalan menuju Senen tidaklah susah. Hanya lurus doang. Pakai angkutan juga hanya dua kali. Kalau mau pakai busway bisa tapi kadang harus berdesak-desakkan dan menunggu lama (sepertinya ini berlaku ke hampir semua tujuan). Lalu dari halte Senen, tempat yang dimaksud sudah terlihat yaitu bangunan tua di depan Antrium Senen yang model bangunanya seperti bangunan di Pasar Kosambi.

Tempat pasar buku itu ada di lantai empat. Tidak semuanya bekas, ada yang baru juga. Saat datang, si monyet langsung digerayangi dengan pertanyaan oleh para pedagang, "Cari buku apa, Nyet?" Karena tidak ingin menimbulkan kehebohan massa lalu semuanya tiba-tiba rempong nyari buku, si monyet diam saja sambil gigitin jarinya yang berbulu. Lagipula dia inginnya nyari sendiri karena buku yang dia mau agak random: seketemunya yang bagus saja (alias belum tahu mau cari buku apa).

Waktu monyet datang sekitar pukul 10:30, banyak lapak yang belum buka. Di salah satu sisi, ada kumpulan buku-buku tua yang kertasnya berwarna kuning dan berbahasa Belanda. Sayangnya, tidak ada penjaganya. Selain itu, di sisi lain (agak belakang dekat reruntuhan), ada juga buku-buku loak lainnya. Di sini si monyet tidak mendapatkan buku-buku yang ia mau, tetapi monyet bisa mendapatkan buku-buku puisinya Ajip Rosidi dan Kuntowijoyo. Harga yang mereka kasih gila-gilaan, tapi bisa ditawar sampai lebih dari setengahnya.

Setelah dari Senen, monyet pergi ke Thamrin City. Wah, toko-toko di sini menjual baju-baju etnik seperti kebaya modern atau kaftan glamour. Tapi kalau pergi ke lantai bawah, baju-baju yang ditemui tidak jauh beda dengan yang ada di PGC. Setelah tanya-tanya tukang jualan makanan dan dibilang kalau di sini tidak ada yang jualan buku, monyet hampir menyerah lalu pulang. Beruntung dia tanya satpam dan si satpam bilang kalau ex-Kwitang ada di lantai 3A. Makdarit (maka dari itu, red.), bergelantunganlah monyet ke sana.

Si monyet disambit dengan pertokoan baru dan modern tapi masih kosong. Letak perbukuannya agak menjorok ke dalam (tapi tergantung dari mana arah datang), ia langsung disambut dengan satu toko yang nuasanya cokelat karena isinya buku lama semua. Wah, surga di bumi! Buku-buku mereka oke punya tapi harganya agak mahal. Misalnya Siti Nurbaya karya Marah Rusli seharga 85.000, Para Priyayi karya Umar Kayam seharga Rp. 75.000, dan buku tipisnya Ajip Rosidi menyentuh angka Rp. 140.000. Pengurasan! Padahal kalau hasil browsing di internet, harga Para Priyayi sekitar 50ribuan. Tadinya si monyet sudah nekat beli, tapi ia ingat kalau salah satu teman di suakanya menjual buku yang sama dengan harga yang lebih murah. Di sana juga banyak tumpukkan buku Belanda yang mengingatkannya pada teman monyet lainnya di suaka yang jualan buku-buku seperti ini. Karena tidak tertarik, maka ia tidak menanyakan harganya. Mungkin angkanya lebih fantastis. Akhirnya monyet dapat bukunya Ahmad Tohari dan Shindunata yang sesuai kantong. Kebetulan daun yang ia bawa tidak terlalu banyak.
Salah satu lapak di Thamrin City

Di toko lain juga buku-bukunya klasik. Saat monyet keliling, si penjaga toko buku pertama itu mengikuti monyet dari kejauhan. Curiga ini masih satu pemilik. Si penjaganya sih kayak agak polos gimana gitu. Saat monyet tanya harga atau menawar, si penjaga minta saran ke bosnya. Wah, kayaknya si bos pedagang buku profesional nih. Lalu sepertinya buku-bukunya dikategorikan berdasarkan toko seperti toko ini khusus menjual buku seni, toko itu khusus menjual ekonomi dan politik, dan seterusnya.

Keesokannya si makhluk berbulu ini pergi ke daerah Blok M. Sebelumnya ia sudah pernah beli buku di sini jadi sudah tahu jalan masuknya. Waktu pertama kali masuk ke Blok M Square melalui Blok M Mall, aduh pusingnya bukan main--kayak belantara yang sama sekali belum pernah terjamah. Buku-buku yang dijual di sini kebanyakan novel berbahasa Inggris lama dan buku-buku baru. Tapi ada satu toko yang menjual buku-buku klasik tapi harganya asu buntung banget. Selangit!
Salah satu lapak di Blok M

Di sana adalah satu-satunya toko yang menjual Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya dengan harga Rp. 140.000. Tempe bongkrek. Dan sepertinya dia tidak menerima tawar-menawar karena pas si monyet bilang "Wah, mahal banget!" si penjaga langsung berkata, "Memang buku lama itu mahal-mahal. Kalau yang murah itu pasti bajakan!" Nyali monyet langsung ciut. Uh, mau baca kok mahal sekali yah. Buku-buku di sana lengkap. Contohnya Y.B. Mangunwijaya saja lengkap koleksinya seperti Burung-Burung Rantau, Romo Rahadi, dan lainnya, tapi rata-rata harganya di atas Rp. 100.000. Koleksi koran Pikiran Rakyat saja mencapai Rp. 750.000!

Nangis kejer.

Sepertinya toko buku di sana ditujukan untuk para kolektor. Monyet bukan kolektor, ia hanya ingin baca. Ia tidak akan rela-rela membeli buku pinjaman yang sudah ia baca karena ingin memilikinya saja. Selain itu juga ia bukan pedagang buku yang membeli untuk dijual lagi. Ia hanya ingin baca sebagai input agar output-nya semakin berkualitas. Kira-kira harapannya begitu.

Dari semua pasar buku yang ia kunjungi, banyak sekali buku-buku karya N. H. Dini atau Marga T. yang sepertinya jarang dicari karena selalu ada di hampir semua toko dan semua lokasi. Kemanakah mereka kini? Apakah masih menulis? Mengapa karya keduanya jarang digunjingkan? Karya-karya mereka jarang sekali ditawarkan orang-orang yang menjual bukunya secara online. Selain itu juga ia jadi tahu bahwa Arswendo Atmowiloto dan Ajip Rosidi adalah salah dua penulis yang produktif sekali karena karyanya banyak bertebaran dengan berbagai judul.

Walaupun si monyet kini lebih mengarah pada non fiksi, kesukaan bacaannya masih berkisar novel dan cerita pendek. Dulu ia selalu ditanya apakah ia akan menerbitkan buku atau tidak (seolah-olah seseorang sahih dikatakan penulis jika sudah mengeluarkan buku, seperti sarjana yang mengeluarkan skripsi), ia jawab iya. Sempat berubah saat ia suka menulis artikel dan menerbitkan karya bukan jadi keinginannya lagi. Sekarang masih belum tahu. Tapi agar seimbang, sebaiknya yang masuk harus dikeluarkan. Dalam bentuk karya atau penceritaan seperti ini.

5 comments:

Vendy said...

Dulu di kawasan petak sembilan, ada juga toko buku bekas. Harganya masih bisa diterima. Entah sekarang masih ada atau enggak.

Nia Janiar said...

Petak sembilan tuh dimana, Ven?

Vendy said...

Di kawasan Glodok. Deket sama stasiun kota.

Nia Janiar said...

Ah gue baru inget, gue pernah ke salah satu kelenteng di petak 9. sip, thanks!

siren said...

Thanks for infonya